Selepas 365


Mendengar lagu ini membawa ingatan saya pada sore-sore panjang setengah frustasi di depan komputer Linux kantor. Pusing. Banyak sekali tanggungan pekerjaan. Sementara ponsel baru saja wafat karena masuk ke dalam kolam ikan. Sore itu pesanmu masuk ke dalam sebuah messenger di media sosial. Pesan yang persis sama, di jam yang serupa selama hampir sepekan.

“Nanti mau tarawih bersama?” 

Bulan Ramadan tahun lalu membawa sebuah kebiasaan baru. Ada handuk dan seperangkat alat mandi yang selalu tersedia di mobil tiap harinya. Separuh diri saya tidak ingin Tarawih dalam kondisi berkeringat. Setengahnya lagi ingin tampil lebih presentable di hadapanmu yang selalu wangi dalam balutan baju koko.

Lebih dari 365 hari lalu saya mulai jatuh hati pada caramu menggulung kemeja. Pada cara menyetirmu yang pelan namun selalu bisa sampai di tempat tujuan tepat waktunya. Diam-diam saya mulai memperhatikan bagaimana lucunya bibirmu yang tipis saat bicara, juga pergelangan tanganmu yang selalu ditemani arloji sport khas orang lapangan.

Kita mulai bicara soal banyak hal. Tentang bagaimana kopi membuatmu jatuh cinta. Kamu lebih suka makan pecel dibanding pasta. Soal kamu yang saya kenal sebagai orang paling organized di dunia. Pria mana yang membeli sekardus air mineral untuk diletakkan di samping kursi penumpang tiap bulan agar penumpangmu tak kehausan dan kecewa?

Bunyi, “Krek” di depan pintu hati mulai terdengar ketika kamu menawarkan bantuan. Ponsel yang tercebur kolam kamu bawa pulang. Meski ponselnya tak bisa diselamatkan kamu masih bisa mengaktifkan kartu dan melanjutkan pesan. Di titik itu separuh diri saya tahu kamu bisa diandalkan.

Beberapa pekan selepasnya kamu mengunjungi orangtua saya. Kunjungan balasan ke orangtuamu pun terlaksana. Kita berbincang seperti dua sahabat lama setelahnya.

Kehidupan sebenarnya tiba, kamu harus pergi bekerja dan saya mesti melanjutkan hidup selama kamu tak ada. Kebaikan Tuhan mulai nyata dari saat itu. Supaya kita tidak gila menahan rindu, di awal hubungan kamu hanya pergi 2 sampai 3 minggu. Masih ada sinyal. Bahkan bisa Skype dan menelepon saat dibutuhkan. Beberapa bulan setelahnya barulah kamu ditempatkan selama 4 pekan tanpa jeda. Kamarmu mulai susah mendapat sinyal dan kita bicara ala kadarnya saja. Untungnya kita sudah mulai terbiasa, kita sudah percaya.

Sesekali kamu membuat saya patah hati. Di matamu kadang saya keras kepala dan mau menang sendiri. Bersyukurnya kita sudah menemukan cara untuk bisa jatuh cinta lagi.

Sesuatu yang tidak dihitung ataupun ditunggu perayaannya biasanya berjalan lebih cepat dari yang diduga. Kita ini contohnya. Tidak terasa sudah lewat 365.

Apa selepas ini? Mau ke mana kalau sudah sampai di sini? Sampai di sini kok saya hanya ingin kita bisa membangun ruang gitar juga ruang kerja penuh buku bersama. Semoga kita bisa jadi partner senam lansia saat waktunya tiba.

Terima kasih sudah membuat 365 hari ini berlalu tanpa terasa.

 

Barangkali karena rasanya bahagia🙂

 

 

Rindu Selalu Jadi Nama Tengahmu

Sejak beberapa saat lalu

rindu sudah jadi nama tengahmu.

Dia bergelayut pelan. Di sisi kanan mataku

seperti pendulum memabukkan.

Memberatkan kelopak. Pelan-pelan.

 

Lusuh

Kartu Tanda Pendudukmu.

Di sampingnya ada Surat Kehilangan Kepolisian.

Kutanya kenapa

kau bilang nama tengahmu hilang.

Kau lupa

selepas kita menikah nama tengahmu kulaminating baik-baik

agar aman kubawa pulang.

Jogja, Juli 2016

 

 

Trip To Psychiatrist

It’s been 2 months since my first visit to psychiatrist. Yes, you heard it right. Finally I decided to went to psychiatrist to seek for help. To find closure. To cure whatever happen inside of me.

It does not change my life that much.  Only 1 to 2 capsule to take each day. The doctor said it will make me feel less anxious, it will help to gain better focus.

What happen? What is wrong with you? Why you should take those anti depressant pills?

A dear friend of mine who just find out that I went to psychiatrist bombarded me with those questions. Currently taking her Master on Psychological Science, she said I only need to consult to her. Or go to a psychologist first.

I did, dear. But it did not help.

One of the psychiatrist said I should learn to forgive. Another one said that I have God. That anything is possible with His permission. Both are prescribed me with Kalxetine as an antidepressant and Clobazam as an anti anxiety.

These pills may help. But in the end, I should be the one who stand up for my self. This may take some time. But I will try.