Semestinya Diciptakan Frasa Baru

Semestinya Diciptakan Frasa Baru

Semestinya diciptakan frasa baru bagi pejuang jarak yang harus mengakrabi perpisahan berkali-kali. Sedih sudah tidak cukup menjelaskan kesabaran yang mesti dibentuk setiap kali tanggal keberangkatan mendekat. Cemas dan malas kesepian sudah tidak lagi adil untuk membuat orang paham bagaimana perasaan di hari-hari pertama kalian tidak lagi menginjak tanah yang sama. Saat sentuhannya masih tersisa, sementara otakmu tahu kalian baru bisa bertemu beberapa pekan setelahnya.

Semestinya diciptakan frasa baru bagi orang yang rela melambatkan waktu demi mendukung pekerjaan pasangan. Urusan renovasi hingga obrolan soal souvenir tidak lagi jadi bahan pembicaraan selama sebulan kedepan. Hidup di reset sepenuhnya ke dalam mode kerja. Kalian berubah jadi manusia sipil yang hidup dengan otak a la militer. Bangun, menyapa, bekerja, menyapa, tidur. Begitu saja isinya. Tapi kalian tetap berusaha bahagia.

Semestinya diciptakan frasa baru bagi rasa yang tumbuh makin kuat bukan karena pertemuan — tapi malah karena keadaan. Bagaimana mengatur ritme cinta yang mesti terus tumbuh meski tanpa saling bertatap muka. Awet, meant to be? Sepertinya tidak pas secara arti. Tapi KBBI bahkan Oxord Dictionary hanya menyediakan ini.

Mungkin harus dicari frasa yang tercipta dari singkatan semua nama pejuang jarak di dunia. Atau kita mesti depth interview pelaku cinta yang jarang bertatap muka, kemudian menyarikan frasa paling pas dari sana.

 

Sementara para linguist mencarinya, sebelum hari keberangkatanmu aku hanya bisa bilang “Hati-hati ya.

 

Weird Day

Dari skala 1 sampai 10 ke-aeng-an hari ini ada di level 9. Banyak sekali emosi yang sebenarnya bisa dicerna. Tapi keadaan membuat semua hanya dijalani saja. Saya mengetik ini tepat setelah pulang karaoke yang rusuhnya hampir mirip tawuran bersama teman-teman kantor. Sengaja menuliskannya dengan segera, supaya getaran yang ingin disampaikan masih ada.

Hari ini ada beberapa kejadian besar yang semestinya menimbulkan pertanyaan besar. Partner, sahabat, rekan menumbuhkan Hipwee bersama memilih pergi. Fellow respected founder datang ke Jogja demi bicara pada kami. Rekan ini cerdas dan punya keinginan kuat sekali. Ada hal lain yang ingin dilakukannya di luar sana. Kami mencoba berdiskusi, berusaha mencari jalan tengah apa yang bisa dilakukan agar tidak ada retak dalam hubungan ini. Tapi hatinya sudah memilih. Dia memutuskan jalannya. Kami sudah berusaha sebisanya.

Percakapan dengan seseorang yang sudah menjadi founder dari banyak sekali perusahaan hari ini akhirnya jadi highlight keabsurdan. Dia bertanya, “Apakah saya masih mau melakukan ini 20 tahun kedepan? Apakah saya masih mau mati-matian mengusahakan apa yang sudah dibangun selama ini?”

Tanpa pikir panjang, “Iya” keluar dari mulut. Baru kali ini saya merasa bahwa ini adalah anak kesayangan yang sudah dibesarkan walau baru 2,5 tahun lamanya. Saya akan ikhlas pasang badan untuk melindungi keberadaannya.

Ternyata hanya perlu orang yang memiliki hati untuk memahami bahwa ini bukan cuma soal keselamatan diri lagi. Ini soal visi yang lebih besar dari semua itu.

Diiringi nyanyian semi jeritan Mr. Brightside dari dalam ruang karaoke yang kepenuhan, saya mohon doa agar dimampukan memberikan semua yang terbaik. Apapun nanti hasilnya semoga kita dikuatkan untuk tidak menjadi quitter dalam semua hal yang dilakukan. Amen.

Dear Nak

Nak, Ibu hanya ingin memastikan jika kelak kamu membaca ini kamu akan benar-benar mengerti apa yang sudah terlewati demi memperjuangkanmu di sisi. Saat ini Ibu belum bisa menjanjikan banyak hal seperti hidup yang nyaman sampai dana pendidikan yang tersimpan rapi. Ibu masih berjuang memastikan semua yang kamu butuhkan akan ada saat kamu datang nanti.

Nak,

sepertinya kamu akan datang lewat cara yang tidak biasa. Seperti banyak hal yang Ibu jalani tiap harinya. Mungkin Tuhan terlalu suka bercanda pada kita, Nak. Banyak sekali plot twist-nya. Semoga kamu pun percaya jika semua kelok yang Tuhan beri adalah bukti Dia cinta.

Bisa jadi kamu datang dari hasil pelukan panjang Bapak dan Ibu di akhir hari. Atau malah kamu datang ketika sudah mampu menapakkan kaki. Masuk ke rumah, disambut tatapan cemas Bapak dan Ibu yang lama menunggu kamu datang demi menggenapkan kami. Hari berjalan, semua aktivitas terlakoni — tapi kami selalu tahu ada ruang untukmu di sini.

Saat kamu datang nanti Ibu berharap bisa menyediakan apapun yang kamu butuhkan. Bukan cuma soal botol susu dan berpak-pak pampers tiap bulan. Ibu lebih berharap bisa punya waktu untuk membacakan buku-buku Pram bahkan sebelum kamu bisa membaca. Walau belum paham artiya Ibu ingin kamu tumbuh jadi manusia yang sudah bertingkah adil semenjak kecil dari dalam pikirannya. Ibu berharap bisa menyediakan ruang untukmu didengar tanpa terganggu urusan kerja. Semoga Ibu dan Bapak bisa menjawab pertanyaan dan menanggapi celotehanmu tanpa disela memelototi gadget demi tuntutan profesional manusia dewasa.

Nak, sebelum kamu benar-benar datang tolong maafkan Ibu yang mungkin terlalu egois tak ingin mengandungmu dalam rahim Ibu. Maafkan Bapak yang merasa perhitungan rasionalnya berujung pada kesimpulan kami tak seharusnya mengusahakanmu. Ini bisa terdengar absurd, namun semua kecemasan dan perhitungan ala manusia itu kami lakukan sebab kami benar-benar mencitaimu. Bahkan semenjak kita belum pernah bertemu.

Dear Nak kesayanganku,

datanglah dengan caramu sendiri. Masuklah ke dalam hidup kami lewat langkah yang kau tentukan bersama Sang Maha Pemberi. Waktu kau datang ketika Ibu masih sibuk sekali sementara Bapak sering tidak ada di sisi, akan Ibu pastikan kau ada di tangan ternyaman yang semesta bisa beri. Saat kau datang ketika Ibu dan Bapak tak bisa seleluasa dulu mengajakmu bermain ke sana kemari, mohon maklumi. Akan kami usahakan kau mendapat keceriaan yang sama seperti yang anak-anak lain jalani. Ibu tidak bisa menjanjikan hidup yang sempurna. Ibu dan Bapak hanya bisa berjanji bahwa kami akan berusaha.

Sampai nanti kita bertemu, Nak. Biarkan kini Bapak dan Ibu membenahi hidup dulu. Ketahuilah ada kamu yang selalu jadi alasan kami membuka mata lebih lama demi menuntaskan urusan kerja. Ada kamu dalam setiap pertengkaran dan doa.

 

Sun sayang. Semoga di saat yang tepat kamu datang.

Selepas 365


Mendengar lagu ini membawa ingatan saya pada sore-sore panjang setengah frustasi di depan komputer Linux kantor. Pusing. Banyak sekali tanggungan pekerjaan. Sementara ponsel baru saja wafat karena masuk ke dalam kolam ikan. Sore itu pesanmu masuk ke dalam sebuah messenger di media sosial. Pesan yang persis sama, di jam yang serupa selama hampir sepekan.

“Nanti mau tarawih bersama?” 

Bulan Ramadan tahun lalu membawa sebuah kebiasaan baru. Ada handuk dan seperangkat alat mandi yang selalu tersedia di mobil tiap harinya. Separuh diri saya tidak ingin Tarawih dalam kondisi berkeringat. Setengahnya lagi ingin tampil lebih presentable di hadapanmu yang selalu wangi dalam balutan baju koko.

Lebih dari 365 hari lalu saya mulai jatuh hati pada caramu menggulung kemeja. Pada cara menyetirmu yang pelan namun selalu bisa sampai di tempat tujuan tepat waktunya. Diam-diam saya mulai memperhatikan bagaimana lucunya bibirmu yang tipis saat bicara, juga pergelangan tanganmu yang selalu ditemani arloji sport khas orang lapangan.

Kita mulai bicara soal banyak hal. Tentang bagaimana kopi membuatmu jatuh cinta. Kamu lebih suka makan pecel dibanding pasta. Soal kamu yang saya kenal sebagai orang paling organized di dunia. Pria mana yang membeli sekardus air mineral untuk diletakkan di samping kursi penumpang tiap bulan agar penumpangmu tak kehausan dan kecewa?

Bunyi, “Krek” di depan pintu hati mulai terdengar ketika kamu menawarkan bantuan. Ponsel yang tercebur kolam kamu bawa pulang. Meski ponselnya tak bisa diselamatkan kamu masih bisa mengaktifkan kartu dan melanjutkan pesan. Di titik itu separuh diri saya tahu kamu bisa diandalkan.

Beberapa pekan selepasnya kamu mengunjungi orangtua saya. Kunjungan balasan ke orangtuamu pun terlaksana. Kita berbincang seperti dua sahabat lama setelahnya.

Kehidupan sebenarnya tiba, kamu harus pergi bekerja dan saya mesti melanjutkan hidup selama kamu tak ada. Kebaikan Tuhan mulai nyata dari saat itu. Supaya kita tidak gila menahan rindu, di awal hubungan kamu hanya pergi 2 sampai 3 minggu. Masih ada sinyal. Bahkan bisa Skype dan menelepon saat dibutuhkan. Beberapa bulan setelahnya barulah kamu ditempatkan selama 4 pekan tanpa jeda. Kamarmu mulai susah mendapat sinyal dan kita bicara ala kadarnya saja. Untungnya kita sudah mulai terbiasa, kita sudah percaya.

Sesekali kamu membuat saya patah hati. Di matamu kadang saya keras kepala dan mau menang sendiri. Bersyukurnya kita sudah menemukan cara untuk bisa jatuh cinta lagi.

Sesuatu yang tidak dihitung ataupun ditunggu perayaannya biasanya berjalan lebih cepat dari yang diduga. Kita ini contohnya. Tidak terasa sudah lewat 365.

Apa selepas ini? Mau ke mana kalau sudah sampai di sini? Sampai di sini kok saya hanya ingin kita bisa membangun ruang gitar juga ruang kerja penuh buku bersama. Semoga kita bisa jadi partner senam lansia saat waktunya tiba.

Terima kasih sudah membuat 365 hari ini berlalu tanpa terasa.

 

Barangkali karena rasanya bahagia🙂

 

 

Rindu Selalu Jadi Nama Tengahmu

Sejak beberapa saat lalu

rindu sudah jadi nama tengahmu.

Dia bergelayut pelan. Di sisi kanan mataku

seperti pendulum memabukkan.

Memberatkan kelopak. Pelan-pelan.

 

Lusuh

Kartu Tanda Pendudukmu.

Di sampingnya ada Surat Kehilangan Kepolisian.

Kutanya kenapa

kau bilang nama tengahmu hilang.

Kau lupa

selepas kita menikah nama tengahmu kulaminating baik-baik

agar aman kubawa pulang.

Jogja, Juli 2016