Heboh Gentle Birth Lupa Konseling Laktasi

Heboh Gentle Birth Lupa Konseling Laktasi

Tren mempersiapkan diri untuk melahirkan dengan lembut, alami dan yang terpenting minim rasa sakit memang makin marak di kalangan Ibu muda milenial. Semua teman yang hamil akan serta merta posting gerakan yoga di socmed. Menjelang HPL kebanyakan Ibu-ibu muda juga posting aktivitas mereka di atas gymball, pijat akupresure dan terapi moksa.

Secara psikologis tren ini wajar sekali. Mengeluarkan anak manusia dari tubuhmu itu konsep yang indah tapi juga menakutkan. Konstipasi saja sakit lho, bagaimana kalau kamu harus mengejan untuk mengeluarkan kepala manusia? Normal dong jika kita tertarik saat ditawari pilihan melahirkan tanpa rasa sakit atau dengan rasa sakit yang lebih terkelola?

Di awal kehamilan saya pun masuk ke golongan yang ingin mempersiapkan diri sebaik mungkin demi kelahiran gentle.

Ikut yoga, baca buku macam-macam, ikut kelas gentle birth bersama pasangan, main gymball — you name it!

 Dan saya nggak bilang semua itu buruk atau tidak berguna. Pengalaman saya pribadi, semua tetap berguna. Berasa banget latihan nafas selama yoga untuk membantu mengelola rasa sakit.

Tapi satu yang saya syukuri sempat saya lakukan di masa kehamilan. Lebih penting dari gentle birth training menurut hemat saya: KONSELING LAKTASI.

Ide untuk konseling laktasi awalnya dicetuskan oleh tante dan Ibu. Kebetulan Tante adalah trainer konselor laktasi. Sementara Ibu saya paham kalau anaknya ini sama sekali belum pernah pegang bayi. Dia khawatir kali ya cucunya gak hidup dengan baik.

Saya pun sepakat dengan saran tersebut. Kalaupun tidak terpakai ilmunya apa salahnya sih ikhtiar? Pikir saya. Konseling pertama dipandu oleh Ibu Tipuk. Bidan yang sudah dilatih jadi konselor laktasi. Proses konseling dilakukan selama 3 kali.

Di pertemuan pertama Bu Tipuk menjelaskan anatomi tubuh bayi dan anatomi payudara Ibu.

Saat itu saya baru tahu kalau nyusuin bayi itu bukan pakai puting tapi pakai areola.

Saat itu juga saya baru sadar kalau bayi tidak harus langsung mendapat ASI di hari pertama lahir. Keluarnya ASI itu butuh waktu. Dan nggak masalah, toh lambung bayimu juga masih kecil. Di pertemuan pertama ini Bu Tipuk membawa banyak alat peraga. Selain boneka bayi ada juga peraga payudara untuk latihan menyusui dan peraga ukuran lambung bayi.

Pertemuan kedua isinya tentang merawat bayi sehari-hari. Bu Tipuk niat banget lho. Kami berlatih menggunakan boneka bayi untuk memandikan, membedong dan menyendawakan bayi.

If only i didn’t have this training I will be super clueless to raise Kimi.

Pertemuan ketiga yang asik niiih karena disini suami diajarin cara-cara induksi alami (IYKWIM) dan juga teknik pijat oksitosin. Jadi di pertemuan ketiga ini Bu Tipuk benar-benar melatih Mas Erry untuk memijat punggung saya untuk merangsang hormon oksitosin.

Dengan konseling tahap satu ini saya dan Mas Erry jadi merasa PD untuk bisa memberi ASI eksklusif untuk Kimi.

Fast forward ke hari kelahiran Kimi, karena sudah tahu hak pasien maka kami langsung meminta IMD. Setelah itu kami menelepon Bu Tipuk untuk mengabarkan bahwa Kimi sudah lahir. Sore itu sekitar pukul 18.00 Bu Tipuk datang ke Rumah Sakit untuk menemui saya dan mengajari pelekatan pertama. Sayang, Kimi belum boleh dibawa ke kamar untuk rooming in karena masih diobservasi selama 3 jam. Akhirnya Bu Tipuk mendatangi ruang bayi untuk berpesan pada perawat agar Kimi tidak diberi susu formula. Beliau juga berpesan kapanpun membutuhkan silakan hubungi saja.

Malam itu sekitar pukul 22.00 Kimi dibawa ke kamar untuk mulai rooming in. Dan sejujurnya, malam pertama bersama Kimi adalah roller coaster yang melelahkan.

Bayangkan, sehari sebelumnya saya sudah tidak tidur karena kontraksi. Malam harinya Kimi diantar dengan kondisi lapar, menangis dan tidak mau diletakkan. Maunya menyusu dan selalu didekap. Bisa dihitung selama 4 hari di rumah sakit Kimi tidur malam di boxnya. Biasanya Kimi bisa tertidur lama kalau saya dekap dalam posisi setengah duduk.

Nah, drama dimulai di sini. Karena masih proses belajar maka lecetlah puting saya. Bukan cuma lecet, tapi cracked nipple. Putingnya sampai pecah dan berubah bentuk. Subhanallah setiap mau menyusui rasanya kayak mau maju ke medan perang. Keringat dingin, takut, merasa berdosa kok biarin bayi nangis lama.

Hampir seminggu saya bertahan dengan kondisi puting lecet parah sampai suatu malam Kimi tiba-tiba menolak menyusu karena puting saya mengeluarkan darah. Sediiiihhhhh banget rasanya lihat wajah dan sleepsuits nya bersimbah darah. Malam itu saya nangis sesenggukan sambil bilang ke Mas Erry,

“Ini harus ada yang kuat diantara kita. Kalau aku udah mau nyerah kamu harus ingetin biar aku nggak nyerah ya!”

Malam itu saya hubungi Bu Tipuk dan juga chat Mbak Maylinda konselor Sanggar ASI untuk minta jadwal konseling. Besoknya Bu Tipuk datang untuk mengamati pelekatan Kimi dan merevisinya. Sayang, belajarnya gak bisa total karena Kimi keburu ketiduran.

Esok lusanya kami ke Sanggar ASI untuk konseling lagi. Ketika melihat keadaan puting kanan yang sudah cracked cukup parah Mbak Maylinda menyarankan supaya payudara kanan diistirahatkan dulu 2-3 hari sebelum digunakan lagi. Selain itu juga disarankan pakai miniset bukan bra supaya puting tidak terdesak. Ok, selama 3 hari payudara kanan saya istirahatkan dengan tetap memerah menggunakan tangan supaya payudara tidak bengkak.

Alhamdulillah wasukurillah setelah 72 jam diistirahatkan payudara kanan sudah jauh lebih baik. Masih lecet sih tapi bearable lah ya. Dari pengalaman saya butuh waktu dua bulan sebelum bisa mulai nyaman menyusui Kimi.

Menyusui itu jauuuuhhhh lebih menantang dibanding melahirkan deh.

Dari pengalaman ini saya cuma mau bilang kalau nggak ada salahnya konseling laktasi sebelum melahirkan. Melahirkan itu ‘cuma’ perkara 1-2 hari menahan sakit. Kalau pun ada jahitan pun SC masih bisa disembuhkan. Tapi menyusui adalah proses panjang yang ternyata butuh ilmu tak kalah banyak.

Coba cek ke rumah sakitmu, biasanya ada bidan/Obsgyn yang punya sertifikasi konseling laktasi. Kalau di daerahmu nggak ada bisa follow AIMI untuk ilmu-ilmu menyusui. Sekaligus jadi penambah semangat waktu masalah menyusui datang. Dulu saya gitu soalnya, tiap meringis menyusui dengan puting lecet saya baca-baca blog orang lain yang juga lecet putingnya kemudian jadi semangat karena merasa nggak sendiri.

Semangat ya buat fellow Mamas yang lagi berjuang menyusui anaknya. Kalau menyusui itu mudah maka balasannya bukan surga 🙂

Advertisements

Melahirkan Kimi di JIH

Melahirkan Kimi di JIH

Tidak terasa sudah hampir 3 bulan sejak Kimi lahir. Hiruk pikuk menjadi Ibu baru membuat blog ini sempat terbengkalai. Untuk memulai lagi saya ingin bercerita tentang proses kelahiran Kimi pada 2 Agustus lalu. Sebelum memutuskan lahiran di mana dan dengan dokter siapa saya juga googling-googling dan membaca pengalaman orang lain di blog. Jadi semoga postingan ini juga bisa jadi referensi teman-teman lain ya!

 

Memilih dokter kandungan

Ada beberapa pilihan yang disodorkan pada saya sejak tahu hamil. Pertama, kontrol rutin di bidan atau di dokter spesialis kandungan. Karena alasan kenyamanan pilihan kedualah yang saya ikuti dengan rutin. Saya memeriksakan kandungan satu bulan sekali hingga usia 36 minggu kehamilan. Dari usia 36 minggu jadwal kontrol berubah jadi dua minggu sekali. Di usia 38 minggu kontrol berubah ke satu minggu sekali.

Karena masih newbie dalam urusan perhamilan saya sempat safari dokter ke beberapa rumah sakit. Coba dokter yang senior eh kurang sreg karena beliau bahkan tidak mau mengoperasikan mesin USG. Saya dirujuk ke dokter radiologi masak. Kan gimanaaaa gitu ya?

Lalu dokter kedua, dokter dengan reputasi gentle birth yang oke. Dokter kedua ini santai banget, nggak pernah ngelarang apapun. Tapi akhirnya saya hanya kontrol 2 kali ke beliau karena suami lebih nyaman kalau dokternya perempuan. Ini alibi juga sih biar dia bisa cuci mata setiap menemani kontrol. 

Pilih sana-sini cap cip cup cip cap jatuhlah pilihan ke dr. Mitta Prana di JIH. Selain memenuhi kriteria suami (perempuan) dr. Mitta juga komunikatif, nggak banyak larangan.  Saran-sarannya sesuai sama saya. Seperti kalau jalan-jalan ke mall aja (secara waktu hamil gampang banger kepanasan kan), tetap boleh minum kopi asal secukupnya dan banyak saran lainnya. Setiap kontrol juga didengarkan dengan baik keluhan-keluhannya. USGnya pun telaten tidak terburu-buru. Karena merasa klik maka saya pun mantap melahirkan dengan beliau nantinya. Oh iya, satu hal yang juga membuat saya klik dengan dr. Mitta adalah dukungan beliau untuk melahirkan dengan normal dengan sedikit intervensi medis. Beliau dengan sabar menjelaskan bahwa sebaiknya persalinan dengan epidural tidak dilakukan di kehamilan pertama. Saat Kimi belum lahir hingga lewat HPL beliau juga memberikan waktu menunggu sebelum memutuskan mengambil tindakan induksi.

 

Proses memilih rumah sakit

Kenapa memilih rumah sakit? Bukan rumah bersalin atau klinik bidan? Karena jika dalam proses persalinan terjadi kondisi gawat darurat maka segera bisa tertangani dengan baik. Selain itu kemungkinan LDR-an dengan suami saat melahirkan membuat saya merasa lebih tenang melahirkan di rumah sakit.

Kriteria untuk memilih rumah sakit yang jadi prioritas adalah:

  1. Pelayanan persalinan yang baik
  2. Tenaga kesehatan yang suportif
  3. Fasilitas
  4. Jarak yang dekat dari tempat tinggal
  5. Rumah sakit ter cover asuransi kantor

JIH masuk pilihan karena lokasinya yang dekat dengan rumah orangtua (saya memilih menetap di rumah orangtua sejak 2 minggu sebelum HPL) dan JIH juga bekerjasama dengan asuransi kantor suami. Jadi mudah, tinggal gesek kartu saja.

Dari beberapa rumah sakit yang saya datangi JIH juga salah satu yang pelayanannya cepat. Bisa book beberapa dokter via Whatsapp atau aplikasi. Sayang dokter Mitta sudah terlalu laris jadi harus ambil antrian di hari H daftar. Staf-stafnya juga taktis, cekatan dan cepat dalam pelayanan. Kalau ada yang nggak jelas saya tinggal telepon dan semua terjawab. Untuk kalian yang lebih ingin kepastian bisa juga ambil program Pregnancy Club. Yang cukup oke dari program ini adalah kalian bisa mendapatkan kepastian kamar dari H-3 sampai H+3 HPL. Selain itu ada fasilitas free senam hamil, breast massage dan pijat bayi. Lumayan dong ya? Cukup bayar Rp 1.500.000,00 saja (yang nantinya akan dipotongkan ke biaya total melahirkan) maka hati sudah lebih tenang.

Oh iya, selama hamil sampai sudah ada Kimi saya juga memanfaatkan fasilitas preferred lounge di JIH. Preferred lounge ini sebenarnya ruang tunggu yang lebih nyaman. Di sana kita bisa makan, minum dan yang jelas lebih tenang untuk bayi. Selain itu rasanya lebih aman karena Kimi tidak harus bercampur dengan bayi sakit lainnya ketika diajak imunisasi.

Dear JIH, please dong bedakan ruang untuk bayi sakit dan bayi sehat di poli anak. Nggak lucu dong kalau anak sehat dibawa vaksin eeeh pulangnya sakit ketularan anak lain 😦

 

Review JIH selama proses melahirkan

Saya masuk ke IGD JIH jam 00.00 pada 2 Agustus. Dokter pertama yang menangani saya masih muda tapi tanggap dan menenangkan.

“Dari jam berapa Bu rembesnya ketubannya?”

“Setengah jam lalu”

“Oh tidak apa-apa. Masih baik sekali kok Ibu langsung datang.”

“Kontrolnya ke dokter siapa Bu? Kontrol di JIH?”

“Ke dokter Mitta.”

“Oh baik saya konsulkan dulu ya.”

Plus semua ditanyakan dengan senyuman. Setelah itu saya dengar dokter umum ini menelepon dan konsul ke dokter Mitta via telepon. Tidak sampai 1 jam saya sudah dirujuk ke bangsal Ibu dan anak untuk diobservasi di ruang perawatan. Paling tidak saya tidak harus lama menunggu di IGD yang bisa bikin makin stres.

Nah, di titik ini saya merasa untung ikut pregnancy club. Dari awal saya dan suami memilih kamar VIP B saat melahirkan nanti. Eeeeh ndilalah kok VIP B penuh. Untung sudah ikut pregnancy club jadi dengan cuma-cuma untuk malam itu kamar di upgrade ke VIP A. Walau pada akhirnya kami tetap tinggal di VIP A karena kamar VIP B yang tersisa dirasa terlalu bising untuk Kimi yang kagetan tapi lumayan lah hemat 1 malam bayar VIP B dapat kamar VIP A. Uangnya bisa buat beli lap iler Kimi, LOL.

Perawat dan bidan di JIH juga informatif. Sedari awal dijelaskan bahwa VT akan dilakukan 4 jam sekali. Semua obat dan infus juga dijelaskan fungsinya. Pun ketika akhirnya diketahui HB saya rendah (ini salah saya sih menjelang lahiran makannya nggak teratur plus stres kerjaan. Juga nggak kepikiran untuk periksa juga. Dodol emang, jangan ditiru ya.) bidan dengan tenang menyodorkan surat kesediaan transfusi darah tanpa menakut-nakuti. Dijelaskan kalau ini hanya disiapkan jika kondisi terburuk terjadi.

Nah, kesabaran provider teruji sempurna saat proses melahirkan di VK. Karena diinduksi saya sudah masuk VK dari bukaan dua. Harus cek DJJ terus soalnya. Di sini cukup terasa kalau bidan-bidan di JIH suportif dan nggak galak. Waktu hampir menyerah di bukaan 8 Bidan Citra (shout out to you! Baik banget orangnya, suportif!) menyemangati untuk menahan sebentar lagi. Sayang kalau minta SC padahal udah sakit lama. Iya juga sih, tapi waktu itu emang pengennya nyerah aja :))  J

Saat pembukaan sudah lengkap dokter Mitta pun cepat datang. Sigap memandu dengan sabar. Walaupun ada drama sedikit. Jadi ada dua pasien dokter Mitta yang melahirkan di saat bersamaan, tentu saja salah satunya saya. Jadi dokter harus bolak-balik di waktu yang kritis. Tapi secara keseluruhan dokter Mitta dan bidan-bidan JIH oke banget sih.

Kesimpulannya?

Melahirkan di JIH cukup memuaskan. RS ini memikirkan hal yang gak dipikirkan RS lain. Semisal makanan untuk penunggu dan paket newborn foto. Yang kedua gimmick marketing sih, tapi lucu kok hahaha. JIH juga kooperatif dengan upaya ASI eksklusif. Saya sama sekali gak ditawarin sufor, gak dilarang IMD, dokter pun mendukung ASIX. Untuk harga dengan fasilitas dan kemudahan yang saya rasakan menurut saya sepadan kok. Mahal atau murah relatif lah ya sesuai kebutuhan 🙂

Semoga siapapun yang sedang mencari info melahirkan dan terdampar di blog terbantu ya. Good luck for your new journey!

11 Things I Want To Remember from This Pregnancy

11 Things I Want To Remember from This Pregnancy

Time does fly. Tanpa terasa kehamilan ini sudah berjalan selama 38 minggu. Sebentar lagi insyaAllah ketemu dengan makhluk yang selama ini menendang dari dalam, menyodok dengan siku atau tangannya sampai membuat perut bergoyang. Banyak sekali yang sebenarnya ingin saya ceritakan tentang kehamilan ini. Selama beberapa minggu terakhir sebelum kelahiran semoga punya kesempatan untuk menulis lebih panjang.

Kehamilan ini menyisakan beberapa kenangan yang tidak ingin saya lupakan. Karena rasanya magis, kocak, manis sekaligus mendewasakan. Saat nanti perut ini tidak lagi besar dan tendangan dari dalam digantikan tangisan langsung di depan muka maka hal-hal inilah yang ingin saya ingat selamanya.

 

1. I was afraid and clueless at first

Kehamilan ini tidak direncanakan sama sekali. Bahkan beberapa teman di kantor mengolok-olok tingkat pendidikan seksual saya karena kegagalan merencanakan kehamilan, haha. Kali pertama tahu kalau benar positif hamil reaksi saya langsung, “Damn. Aduuuh bisa nggak ya nih jadi Ibu?” I went through this pregnancy without proper training. I was afraid, cluless and lacking of self confidence.

 

2. This baby is so kind

Dalam kehamilan ini tidak ada drama mual, muntah, pusing dan berbagai keluhan kebanyakan Ibu-Ibu hamil. Di awal kehamilan saya masih tetap melakukan perjalanan ke Jakarta sebulan 3-4 kali dengan first flight jam 5 pagi lalu kembali jam 11 atau 12 malam. Bayi ini baik hati sekali membiarkan Ibunya tetap beraktivitas tanpa keluhan berarti.

 

3. Saya pernah jatuh dari kursi, nge-flek dan harus bedrest

Bayinya santai tapi emaknya pecicilan. Kayaknya begini deh relasi dalam kehamilan ini. Suatu hari yang tenang di kantor, saya duduk dengan santai di kursi baru tanpa punya kesadaran memegang kursinya. Asal BRUK! aja gitu. Ehhh kursi beroda itu meleset yang berakibat saya meluncur bebas ke lantai dengan posisi pantat duluan. Beberapa menit kemudian ada flek yang keluar, saya langsung cari rumah sakit terdekat yang dokternya available. Hasilnya harus bedrest 1 minggu deh. Plus dapat larangan terbang dari bulan keempat.

 

4. I am crazy about TOOTHPASTE

Di awal kehamilan yang jadi momen ngidam kebanyakan Ibu hamil saya justru tidak merasakan ngidam yang berarti. Hanya lebih impulsif, lihat mukbang apa tiba-tiba ingin makan makanan yang sama.

Menjelang akhir trimester kedua akhirnya saya mulai ngidam. Tapi bukan makanan melainkan…… RASA ODOL. As weird as it sounds, saya beneran ngidam odol. Rasa odol itu ada di ujung lidah — harus ketemu pokoknya. Akhirnya saya berusaha mencari pasta gigi yang rasanya odol banget. Setiap belanja bulanan bisa beli lebih dari 5 jenis odol untuk mencoba. Akhirnya, ketemu deh rasa odol yang cucok di merk Darlie varian original.

Selain mengganti pasta gigi saya juga pengen makan sesuatu yang rasanya beneran odol. Awalnya saya jadi suka banget sama permen Happydent White dan Xylitol tapi kemudian memutuskan berhenti karena takut nggak bagus buat gigi. Pengganti kengidaman ini akhirnya jatuh ke gelatto rasa mint dan es krim Baskin Robin yang chocolate chip mint. So odol rasanya.

Belakangan rasa pengen ngunyah odol ini tersalurkan lewat Peppermint dan Thieves oil dari Young Living. Perpaduan dua oil ini sering saya hirup, diffuse dan dilute untuk mengurangi keinginan irasional makan pasta gigi.

 

5. Sebelumnya anti, selama hamil malah jadi suka daging kambing

Segala olahan berbau kambing dari dulu nggak pernah jadi favorit. Bahkan saya pernah punya pengalaman muntah-muntah hebat setelah makan sate kambing sebelum menempuh perjalanan jauh. Yang aneh, selama hamil ini keinginan makan daging kambing justru muncul dan menggelora. Tiba-tiba pengen tengkleng, klathak atau tongseng. Dan setiap makan selalu habis tanpa sisa!

 

6. Ngantuk terusss tidur terussss

Di awal kehamilan saya berubah jadi kentang di atas sofa. Sukanya cuma tidurrrrr aja. Bawaannya ngantuk deh. Jadwal ngantuk di trimester pertama itu ada di jam 10 pagi. Bayangin dong baru masuk kantor sebentar udah tidur aja pengennya.

Jadwal ngantuk di trimester kedua ada di jam 4 sore. Setiap menjelang jam 4 mata akan terasa beratttt sekali. Karena itu di trimester kedua setiap sore saya sering ngopi. Karena pekerjaan justru sedang menumpuk di jam-jam itu. Jadi sayang kalau harus tidur 😦

Di trimester tiga rasa ngantuk sudah mulai berkurang. Hanya saja setiap pulang diatas jam 10 malam badan saya rasanya kayak habis diajak begadang seharian. Jadi selama hamil ini saya jarang mau diajak keluar sampai malam karena berasa jompo.

 

7. 9 bulan hamil, 3 bulan ditemani suami

ALHAMDULILLAH YA ALLAH bisa ditemenin 3 bulan aja udah syukur.

 

8. Saya sempat ganti dokter karena pengen cari provider yang lebih talkative

Di awal kehamilan saya kontrol ke dokter yang reputasinya oke, pro normal, pro gentle birth. Tapi…..kok rasanya kurang sreg ya karena beliau irit ngomong? Mungkin karena beliau merasa kehamilan saya sehat jadi nggak perlu banyak dijelaskan. Mungkin juga karena saya yang kurang cerewet dan banyak nanya. Tapi gemes kan ya kalau udah nunggu dokter hampir sejam, waktu konsultasi 5 menit udah selesai?

Blessing in disguisenya jatuh dari kursi adalah akhirnya saya menemukan dokter baru yang lebih banyak omong. Mau menjelaskan lebih detil setiap periksa. Tapi juga nggak banyak larangan yang bikin parno.

 

9. Lebih suka jalan di tempat ramai dibanding jalan-jalan di alam

Mungkin ini bayi beneran mirip bapaknya ya. Anak kota banget. Dampaknya selama hamil ini motivasi untuk power walking justru muncul kalau jalan di mall, di tengah kota atau di tempat yang ramai dan berpenghuni.

 

10. Sampai sekarang masih belum ketemu namanya, masih belum siapin boxnya, masih belum sempat babymoon.

Buat nama, Mas Erry pasrah ke saya yang penting dia acc artinya. Nah sampai sekarang masih belum ketemu juga namanya karena belum ketemu yang sreg. Box bayi juga masih belum terbeli karena masih bimbang mau beli baby crib, ggumi box atau pack and play. Babymoon yang sudah ingin direncanakan pun belum terwujud sebab belum ada waktunya. Tapi semoga minggu depan kita bisa escape sebentar ya Nak, walau di dekat-dekat sini aja.

 

11. Bayi ini mengeluarkan sisi yang sebelumnya saya tidak tahu bisa saya miliki

Semenjak hamil ada sifat-sifat yang muncul secara mengagetkan. Perubahan pertama terasa dari keengganan mengeluh. Dia membuat saya jadi jauh lebih kuat dan tahan banting. Karena lebih sering sendirian mau tidak mau nggak bisa manja-manja dong. Jadi semua harus dihadapi tanpa drama (walau kadang nangis juga sih kalau udah kesel hehe).

Sisi lain yang muncul adalah peningkatan kesabaran. Contohnya dalam mengurus rumah, ART dan segala SOP-nya. Semenjak hamil jadi lebih sabar dan nggak mudah mutung kalau menghadapi kegagalan.

Kehamilan ini juga membuat jauuuuh lebih semangat untuk mengejar impian sekolah lagi ke jurusan yang benar-benar diinginkan. Supaya bisa memberi masa depan yang terbaik untuk dia, supaya bisa jauh lebih punya ilmu saat nanti dia sudah lebih kritis.

This baby is tiny but she brings the best out of me.

 

Sekarang sudah masuk 38 minggu. Jika kamu mau lahir saat ada Bapakmu, lahirlah sesuai keinginanmu. Jika kamu masih nyaman berenang-renang di dalam, jangan khawatir. Tidak perlu terburu-buru. Kamu memang kebetulan yang tidak direncanakan. Tapi seluruh perjalananmu selalu didoakan, didoakan dan didoakan.

 

 

 

Lepas Menikah

Lepas Menikah

Hi! Terakhir kali menulis di sini unggahan yang saya terbitkan adalah prosa pengingat untuk terus menemukan cara jatuh cinta, se-ngehek apapun keadaannya. Kali ini ijinkan saya berbagi soal apa yang dialami beberapa saat belakangan ini, betapa hidup berubah dengan cepat seperti sedang masuk program akselerasi.

 

Akad dan Resepsi

monik-erry-wedding-day-3

Persiapan pernikahan yang saya jalankan sebenarnya bisa terbilang singkat. Kami deal untuk menikah selepas Lebaran, sekitar bulan Juli. Awalnya saya ingin acara yang sederhana — kalau perlu akad saja di bulan September, biar sama dengan ulang tahun Mas Erry. Setelah berdiskusi dengan keluarga ternyata pernikahan memang bukan cuma acaranya mantennya, tapi juga acara orangtua. Diputuskanlah akad dan resepsi digelar di bulan November dengan pertimbangan kesibukan seluruh anggota keluarga sudah mulai berkurang di bulan itu.

Dari bulan Juli sampai Agustus saya mulai hunting vendor dan venue. Konsep pertama yang ada di otak adalah outdoor rustic. Beberapa venue sudah dikantongi dan sudah hampir mantap, sebut saja Kalyana Resort dan outdoor venue Jogjakarta Plaza Hotel. Lho kok milihnya hotel bukan gedung? Iya, jadi pada dasarnya saya dan Mas Erry itu males ribet. Keluarga kami pun tidak punya waktu pun energi untuk mengurusi banyak printilan. Hemat saya, kalau venue sudah di hotel paling tidak parkir tidak usah mikir, katering juga, WO pasti sudah ada.

monik-erry-wedding-day-4

Berbekal hasil survey, presentasilah saya di hadapan Ibu. Beliau mengingatkan kalau bulan November itu musim hujan jadi lebih baik pilih venue di indoor saja. Selain itu beliau juga bilang kalau sebenarnya kurang sreg kalau di hotel karena takut kateringnya tidak enak. Baiklah, karena sudah sepenuhnya sadar ini tidak bisa jadi acara egois maka saya menuruti keinginan Ibu dan akhirnya venue ditentukan di Auditorium Perwacy yang merupakan salah satu gedung baru di pinggiran kota. FYI, gedung ini baru kami DP di bulan Agustus. Kalau dipikir sekarang agak-agak bikin merinding ya. Tapi waktu itu saya santai-santai saja hehe.

Sembari berproses mencari venue, alhamdulillah sudah bisa deal dengan beberapa vendor lain. WO untuk hari H saya pasrahkan ke LanuAmour dengan alasan Mbak Mila (Mbak WO-nya) nampaknya bisa cocok dengan keluarga saya. Moon Photo untuk dokumentasi karena mood fotonya nggak lebay. LINE Pictures untuk video atas rekomendasi teman-teman di Moon Photo.

monik-erry-wedding-day-157

Larasati Salon untuk vendor make up saya temukan di waktu yang mepet dan sudah agak hopeless karena seluruh MUA heits sudah penuh. Alhamdulillahnya waktu itu setelah ditolak di salah satu rumah rias hits Jogja, iseng-iseng saya telpon Larasati dan ternyata mereka masih available. Langsunglah hari itu juga saya mampir dan segera DP untuk lock tanggal. Seluruh vendor ini dipilih menggunakan feeling dan kepo Instagram saja. Alhamdulillahnya sungguh Allah permudah seluruh proses dengan mempertemukan kami ke vendor-vendor yang baik, suportif dan sungguh gercep.

Vendor katering dan souvenir sepenuhnya saya serahkan ke Ibu karena beliau yang lebih oke di teritori ini. Akhirnya katering akad dipercayakan ke Simak Catering yang kebetulan milik Tante. Sementara katering resepsi di-handle Al Buruuj Catering yg ownernya, Mas Habibi, baik sekali datang sendiri ke technical meeting dan menunggui sepanjang resepsi. Vendor undangan saya percayakan ke Papermint Wedding. Untuk vendor yang satu ini saya no comment deh. Bagus hasilnya, tapi pelayanannya kurang memuaskan. Yang mau tahu cerita lengkapnya bisa email atau japri saya langsung saja ya.

Karena alasan jumlah tamu, kami memutuskan membagi acara menjadi 2 hari. Hari Jumat, 10 November digunakan untuk akad di rumah. Minggu, 12 November barulah resepsi dilaksanakan. Tapi rencana hanya rencana. Jumlah tamu diperkirakan membludak karena kerabat-kerabat dari Klaten disinyalir datang. Akhirnya beberapa jam sebelum akad diputuskan kalau hari Sabtu tetap ada acara di rumah khusus untuk kerabat-kerabat di Klaten. Yeah, ini memang pernikahan penuh improvisasi.

monik-erry-wedding-day-120

Menyelenggarakan acara selama 3 hari jelas melelahkan. Tapi sungguh kufur nikmat sekali jika sampai mengeluhkan banyaknya tamu yang datang, yang jelas-jelas hanya ingin mendoakan. Terutama kerabat dari Klaten yang datang jauh-jauh pakai 3 odong-odong. Iya, mereka naik odong-odong dari lereng Gunung Merapi!

Dalam 3 hari itu rasanya keluarga kami, saya dan Mas Erry seperti diguyur berember-ember cairan cinta yang hangaaaat sekali. Kami bersyukur sekali banyak yang sayang, banyak yang mendoakan, saudara-saudara membantu dengan ringan, banyak saudara yang datang dari beberapa hari sebelumnya dan menginap bermalam-malam lamanya untuk membantu. Bahkan Kakak yang dari Abu Dhabi pun datang di menit-menit terakhir setelah berhasil merayu bosnya. Satu hal yang saya ambil dari proses menikah kemarin.

Pernikahan bukan cuma tentang perayaannya, tapi pernikahan mengingatkan kita pada bagaimana kelak harusnya bersikap sebagai sebuah entitas keluarga. Hal yang kami pelajari dengan mata kepala sendiri saat melihat saudara-saudara lain yang ringan membantu kami.

Alhamdulillah, akad dan resepsi berjalan lancar. Mohon doa selalu bagi Mas Erry dan saya supaya kami bisa membangun keluarga yang humanis, humoris dan sakmadya ya 🙂

 

The Unplanned Blessing

Awalnya kami merencanakan untuk jalan-jalan ke Lombok selepas acara. Tapi dasarnya Mas Erry terlalu safety, dia memasukkan pertimbangan cuaca yang hujan terus dan Erupsi Gunung Agung sebelum mengambil keputusan beli tiket dan pesan akomodasi. Merasa kalau main ke pantai malah bisa kurang maksimal karena bisa hujan terus, akhirnya kami jalan-jalan sesuai kata hati saja.

Hari Selasa tanggal 14 November kebetulan saya diminta untuk sharing dengan Dewan Riset Daerah di Solo. Malamnya kami menginap semalam di Solo. Saat sudah sampai di Solo, kami ngobrol gimana kalau sekalian saja jalan-jalannya dilanjutkan mumpung masih cuti. Cari tiket, cari hotel, besoknya mobil kami titip di Stasiun Balapan untuk melanjutkan perjalanan naik kereta ke Malang.

IMG-1290

Sesampainya di Malang kami dijemput supir yang sebelumnya sudah biasa mengantar saat saya dinas ke Malang. Kami memutuskan carter mobil saja 3 hari dengan alasan hotel dan aktivitas akan banyak di Batu, repot kalau tidak ada kendaraan.

Tiga hari di Batu, Malang, kami ditemani hujan dan cuaca yang sakpenake dhewe (seenaknya sendiri). Habis panas bisa tiba-tiba hujan. Hujan lamaaaa dan dingin, eh bisa dalam sekejap terang. Mungkin karena faktor absurdnya cuaca ini juga sepulang dari Malang saya malah diare hebat dan demam. Sehari bisa 20 kali. Alhasil harus nambah ijin sakit 2 hari alias extend cuti.

unnamed (1)

Diare sepulang dari Malang hanya saya anggap salah makan atau kecapekan saja karena badan yang tidak fit disebabkan kondisi cuaca. Sempat ngotot mau ngantor, yang ada saya malah muntah-muntah di jalan. Akhirnya Mas Erry menelepon ke HRD kantor untuk meminta ijin kalau saya belum bisa masuk segera.

Siang itu Mbak Indah, HRD Hipwee tiba-tiba WA. Karena teler seharian WA-nya baru saya baca keesokan harinya.

“Buuu…cek kali Bu. Itu muntah apa muntah? Lu kan udah nggak single lagi…..”

MEH. Yakali cek, orang diare kok suruh tes kehamilan. Begitu pikir saya. Hidup kemudian berjalan seperti biasa, badan sudah mulai membaik dan sudah bisa masuk kantor lagi. Horay! Udah kangen ngantor.

Beberapa hari setelah masuk kantor, jadwal menstruasi saya sebenarnya masih 5 harian lagi. Tapi entah kenapa kok kepikiran terus perkataan Mbak Indah. Lagipula belakangan saya merasa payudara sakit terutama saat bangun pagi. Bukan seperti saat mau mens yang biasanya agak nyeri sepanjang hari. Selain itu bau parfum Mas Erry juga jadi menyengat sekali di hidung. Nggak enak! Padahal dulu suka banget bau parfumnya. Entah karena efek diare atau bukan saya juga sempat mual-mual nggak jelas. Nggak bisa makan apapun selain buah dan saladnya Pizza Hut. Yasudah, daripada penasaran test pack aja deh.

TP2

Hasil pertama test pack garisnya cuma kelihatan satu. Ya iyalah, pikir saya. Telat mens aja belum. Test pack saya letakkan di atas tutup kloset lalu saya tinggal mandi. Waktu mau dibuang lha kok ada garis kedua yang tipiiiis sekali ya? Buru-buru saya baca cara penggunaannya dan berkesimpulan kalau itu bisa jadi false positive karena sudah terlambat membaca. Waktu saya cerita ke Mas Erry dia juga bilang itu mungkin salah, ya sudah mari jalani hidup seperti biasa dan dilupakan saja.

Jujur, kami sempat berkeinginan menunda dulu punya anak. Alasannya karena saya harus sekolah Master dan pekerjaan Mas Erry membuatnya jarang di rumah. Kalau punya anak siapa yang ngurusin dong? Kucing? Tapi Tuhan selalu punya rencana yang jauh lebih baik dari rencana manusia.

Setelah berkotak-kotak test pack (yang saya beli terus karena penasaran), hasil beta HcG kuantitatif dan diteguhkan oleh hasil pemeriksaan dokter alhamdulillah saat ini kami hamil 6 minggu 2 hari. Kemarin cek dan di USG sudah terlihat kantung kehamilannya.

TP1

Sampai sekarang kami masih clueless sekali bagaimana nanti kehadiran bayi ini akan mengubah ritme hidup. Perhitungan rasional ala manusia sempat membawa kepanikan. Tapi saat mengingat banyak di luar sana yang berjuang mati-matian supaya bisa hamil, banyak pasangan yang merindukan anak — apa yang kami miliki ini sudah selayaknya disyukuri dan dijaga sebaik-baiknya. Tuhan pasti punya rencana. Kalau dikasih sekarang, insyaAllah kami akan dimampukan untuk menjaga baik-baik amanah ini. Mohon doanya ya 🙂
Lepas menikah hidup tidak berubah banyak ternyata. Rasanya masih seperti pacaran dengan bonus bisa check in kapanpun di manapun tanpa rikuh. Tidak perlu pusing lagi soal jam malam karena sekarang sudah pulang ke rumah yang sama. Agenda kencan bertambah ke supermarket dan ke dokter kandungan.

Hidup selepas menikah tidak akan selamnya nyaman, bisa ada riak-riak yang menguji kesabaran. Semoga, kami selalu diingatkan untuk bisa saling menjaga dan menguatkan.

 

Tabik!

Memecah Perasaan-Perasaan Besar

Memecah Perasaan-Perasaan Besar

Sedang ada hantaman El Nino di hati belakangan ini. Banyak yang terjadi dengan cepat, besar, mengubah tatanan yang sebelumnya rapi. Kencangnya hempasan membuatku fokus ke lensa besar yang bisa menggambarkan seluruh kejadian. Lupa, kalau perasaan-perasaan yang besar harus diturunkan jadi kerat kecil supaya tidak mudah dilupakan.

Sebelum tiba hari kamu akan dibedaki sedang aku memakai pewarna kuku di pagi hari, aku ingin mengingat jawaban “Iya” dari mulutmu untuk semua keinginan aneh di seserahanku. Mukena pink, sajadah ungu, tas ransel dan seperangkat buku tidak membuatmu lari setelah mengetahui betapa kompleksnya kontradiksi dalam diri.

Bukan di mana kita sepakat menyelenggarakan perhelatan — aku malah lebih ingin mengingat kesabaranmu mendatangi seluruh venue di waktumu yang tak lapang. Bagaimana kamu kritis mengajukan pertanyaan soal berapa mobil yang bisa tertampung di lahan parkir, apakah watt listrik cukup jika menambah sound system, adakah penginapan di dekat venue yang bisa disewa dalam jumlah besar. Aku mudah melupakan hal-hal detil macam itu. Semoga kenangan ini terulang terus di ingatanku supaya rasa syukur muncul  sebab dipasangkan denganmu yang menggenapiku.

Walau nanti pasti bertanya untuk memastikan apakah aku cukup presentable dan manglingi, semoga aku bisa terus mengingat fakta kecil soal penerimaanmu yang nyaman sekali. Kamu tidak keras memprotes jerawat yang menjamur di muka beberapa bulan ini. Juga berat badan yang naik turun seperti balita sedang hobi main trampolin. Semoga episode kamu ikhlas menemani sambi menahan kantuk di dokter kulit laris sampai tengah malam bisa terulang waktu nanti kita bersitegang.

Aku ingin menyimpan memori tentang kamu yang tak pernah alpa memegang tanganku saat kita berkendara. Melengos dan menjawab malas, “Hmm nggak tahu ya…” waktu aku bertanya, “Emang nanti setelah nikah masih begini juga?”. Kejujuranmu, apa adanya kamu membuat aku tahu bisa hidup bersama tanpa harus bermain peran sepanjang waktu.

Hanya 48 jam sebelum kita tidak semudah dulu punya jalan keluar saat kesal. 48 jam sebelum kamu harus berdamai saat melihatku yang jauh lebih teledor dalam menata barang. 48 jam sebelum ingatan-ingatan kecil ini yang bisa jadi penguat saat nanti masalah datang.

 

Jika nanti jalan kita mulai terasa melelahkan dijalani, aku siap memecah perasaan-perasaan gigantis ini menjadi lebih kecil. Lagi. 

 

Menakar Empat Minggu

Menakar Empat Minggu

Sewaktu masih SD, Ayah yang sedang pendidikan lanjut harus meninggalkan rumah selama satu bulan untuk kerja praktek. Satu bulan buat saya yang masih kecil itu rasanya panjang tak berliku. Yang ada di otak waktu itu adalah tiga puluh hari rasa liburan caturwulan. Sudah bangun siang, nonton kartun banyak, baca buku dan tidur-tiduran hari belum juga habis. Sedikit tidak terima karena akan ditinggal selama itu, saya merengek: “Nggak mau. Lama banget!”

Demi memenangkan hati anaknya yang kalau ngambek agak heboh Ayah saya berkata, “Satu bulan itu cuma empat kali hari Minggu. Empat kali nonton Doraemon. Nggak lama kan?”

Penjelasan Ayah membuat waktu satu bulan terasa lebih singkat. Yang ada di pikiran saya bukan 30 harinya, tapi empat kali Doraemon dan empat kali hari Minggu yang harus saya lewati.

Fast forward ke 20 tahun kemudian, ternyata tantangan untuk melogikakan empat minggu datang lagi. Kali ini karena Mas yang pergi. Sayang, di umur yang sekarang menghitung dengan cara menanti Doraemon diputar di TV sudah tidak semanjur dulu. Jadi harus pintar-pintar mencari analogi baru demi memberi efek meringkas waktu.

Butuh 12 kali ditinggal pergi. Butuh 12 kali duduk-duduk di mobil sambil minum teh dan ngemil Pringles 2 jam sebelum waktu take off dulu untuk menemukan arti waktu tunggu yang tidak semenyiksa itu.

Semua orang akan mengalami fase meraung-raungnya saat harus menunggu seseorang yang dia cinta. Dalam kasus seorang teman momen ini berbanding lurus dengan berondongan jerawat di muka. Di kasus saya menunggu sekian lama pernah berarti malas bangun pagi karena merasa hidup berhenti. Tapi sekarang alhamdulillah sudah lewat masa-masa itu dan lebih bisa memaknai.

Empat minggu, saat ini, adalah tentang berangkat atau mulai membuka laptop jam 8 pagi. Karena di masa-masa ini otak lebih baik digunakan untuk berlari.

Empat minggu adalah empat kali bertemu dengan Bapak parkir di Galery Prawirotaman yang membukakan pintu mobil kemudian menyapa, “Sendirian aja Mbak?”.

Empat minggu setara dengan empat kali membaca di pinggir kolam renang lalu makan mie goreng yang membuat upaya membakar lemak sebelumnya sia-sia.

Empat minggu adalah soal menjadikan doa sebagai titik tengah antara kalian berdua.

Di tengah dering telepon tengah malam yang datang dari AE, berondong chats dari grup BoD, dalam upaya bangun sampai subuh hanya untuk belajar Analytics — akhirnya saya menyadari satu hal. Empat minggu tidak pernah diciptakan untuk menunggu. Empat minggu harus jadi ruang berkembang sebelum kembali menjemputmu.

 

An Affirmation

An Affirmation

He doesn’t smells like youThat’s the first thing that strike my mind when I let him in. His scent is a mixture of very strong masculine perfume with a hint of cigarette. You quit smoking 10 years ago out of boredom.

Tuhan YME dan Maha Penyayang, kalau mau ajak ke pameran ya udah ajak aja sih! Pakai bertanya penasaran mau ikut nonton atau enggak. Diam-diam aku mengumpat karena trik pendekatan yang so last year sekali. Sudah hampir 730 hari aku terbiasa bilang “Iya, Tidak” atau langsung meminta setiap ada maunya. Tarik ulur macam ini jadi menggelikan saja rasanya.

My hand finally reach his upper arm. Unlike yours, his arm seems softer. You are almost double his age, but your muscles are toned and fine. I remember how I always adore your upper arm muscle. You worked so hard to get that. 9 years without day off gives you that. I guarantee, you have zero percent need for a fitness plan.

Tapi suka kan?” jadi penutup perbincangan. Kata ini dikeluarkan karena alasan kesopanan. Dia bicara banyak soal mimpinya. Soal bagaimana proyek ego ini memenuhi kepalanya. Posemu yang tenang sembari menatapku lama, membiarkan kata-kataku yang tersembur cepat tertelan sempurna. Bagaimana kamu lihai mengkotak-kotakkan semua isi otakmu agar bisa bicara seperlunya. Semua pembicaraannya jadi seperti latar belakang yang terus menghilang. Aku melirik jam tangan, mengangkat ponsel demi melihat tanggal. Tanpa sadar kuhitung berapa hari lagi sampai kamu pulang.

His lips touched my forehead. His fingers swirled behind my back.

closed my eyes then think of you.

I hold my breath because a pair of lungs were screaming for your familiar scent down there. My hands collapsed, it won’t be a perfect dance unlike I was with you.

Now I know why every imperfection was makes sense as long as I am with you.