Aku Tidak Ingin Melahirkan Anak-Anakmu

Maaf Sayang, tapi aku tidak ingin melahirkan anak-anakmu.

Adalah sebuah kesia-siaan mengejan sampai hampir mati demi generasi yang lebih kenal Hot Wheels dibanding Malin Kundang atau Enid Blyton. Jujur aku belum siap kita membersamai tumbuhnya manusia yang menganggap gesekan kertas tidak lagi seksi. Layar 5,5 inci dengan resolusi ribuan pixel jadi sesuatu yang lebih dicari.

Maaf Sayang, sampai sekarang aku tidak ingin melahirkan anak-anakmu.

Sementara di luar sana masih banyak bayi kecil yang akan tetap sama lucunya dipandang dan dipasang di story Instagram. Dengan atau tanpa darah kita mengalir dalam tubuhnya. Asal kita memilihnya, merengkuh, membawa dia masuk dalam pelukan — jatuh cinta akan terasa mudah saja.

Maaf Sayang, hingga kini aku tak pernah ngotot harus melahirkan anak-anakmu.

Sebab prokreasi bukanlah standar keberhasilan hubungan. Dan hidup selalu soal pilihan.

Jalan Sepi

Jalan Sepi

Beberapa hari lalu untuk kali pertama selama hampir 1,5 tahun akhirnya saya bertengkar hebat dengan pasangan. Pertengkaran itu bukan soal terlambat memberi kabar. Atau tentang kecemburuan yang tidak bisa dikendalikan. Ledakan emosi yang membuat kami bisa berkata, “Apa-apa kayaknya nggak ada yang bener deh…” malah disebabkan oleh pekerjaan.

Singkat cerita dia mengkritik keputusan saya. Dengan cara yang terlampau straight to the point dan tidak ada prelude-nya. Saya meradang. Saat itu ego saya tinggal di kick sedikit sudah siap maju perang. Sebelum jeda datang lagi, kami memutuskan bertemu. Semua perlu clear sebelum sekian hari lagi tidak bisa langsung menggunakan nada tinggi untuk memanggil, “Mas” atau “Kamu.”

Tatapan mata langsung yang awalnya penuh kekesalan pelan-pelan berevolusi jadi lirikan kocak. Gestur yang tadinya kaku mulai berubah jadi lebih rileks.

Selepas pembicaraan dua jam di kedai kopi overrated a la anak kekinian nampaknya saya menyadari satu hal. Ini bukan soal dikritiknya. Bukan juga soal bagaimana saya ingin selalu terlihat benar di matanya. Rasa sakit dan tidak terima itu muncul semata karena ingin di-back up oleh orang yang dipercaya. Jalan ini ternyata mirip dengan jasa selibat yang sepi. Tekanan bisa datang dari sana-sini. Kamu tidak sepenuhnya benar, tidak pula sepenuhnya salah, terkadang clueless tapi tetap harus maju bertarung setiap hari.

Kehadiran dia yang disayangi, bisa dipercaya juga satu frekuensi akan sangat meringankan jalan ini.

 

Lesson learned: sebelum merasa bisa menaklukkan dunia dan berlari kencang seperti atlet sprint tingkat dunia, lihat dulu orang di sisi kanan. Duduk barang 30 menit berdua kemudian jelaskan. Apa yang sedang kamu upayakan, di titik mana keterbatasan akan membuatmu gagap membuat keputusan. Jelaskan di awal bahwa lompatan kali ini mungkin akan terasa kurang menyenangkan. Kemudian minta dia mengisi ruang yang masih melompong besar.

Katakan bahwa kamu sayang. Silakan kalau mau menjitakmu. Tapi pelan saja, perjalanan masih panjang.

 

Rumah

Rumah

Dahulu sekali kamu sudah menyiapkan sore beserta serentetan acara agar kita nyaman bersama. Sofa kau rapikan. Playlist sudah disiapkan. Bahkan kamu punya rencana A, B, dan C demi jaga-jaga kalau aku bosan. Kali itu kamu mengundangku untuk duduk di sofa. Tapi aku memilih membuka karpet lalu duduk santai di depan TV.

Aku tahu itu kode waktu kamu berkata ingin menjamuku dengan cangkir teh cantik dan tatakan yang senada. Baiklah, kali ini aku ingin menghargai usaha. Tapi rasanya kok kaku seperti bra yang belum pernah dipakai sebelumnya.

Aku melenggang masuk ke dapur demi mengambil mug dengan tulisan norak. Sepertinya suvenir pernikahan atau doorprize dari acara kantor. Kali ini aku tak keberatan memencet tombol galon elektrik lalu minum air putih.

Kamu berkata, “Duduk saja. Biar aku yang menyiapkan semuanya.” 

Aku merangkul lengan atasmu. Membiarkan tanganku merosot hingga menemukan jarimu. Tak perlu lah banyak manis-manis yang tak perlu. Begini saja aku sudah menemukan rumah tanpa perlu repot beberes atau mengetuk pintu.

Piece by Piece


Terima kasih sudah datang dengan pelan-pelan saja. Terima kasih sudah mengambil waktu 12 bulan untuk menunggu balasan pesan tiba. Terima kasih untuk perkataan, “Iya. Silakan dipikir dulu.” di pertemuan kedua kita.

Terima kasih masih selalu memberi ruang setiap saya masih ingin Yada-yada.

Sesuatu yang tidak tergesa-gesa biasanya lebih bertahan lama kan?

Semestinya Diciptakan Frasa Baru

Semestinya Diciptakan Frasa Baru

Semestinya diciptakan frasa baru bagi pejuang jarak yang harus mengakrabi perpisahan berkali-kali. Sedih sudah tidak cukup menjelaskan kesabaran yang mesti dibentuk setiap kali tanggal keberangkatan mendekat. Cemas dan malas kesepian sudah tidak lagi adil untuk membuat orang paham bagaimana perasaan di hari-hari pertama kalian tidak lagi menginjak tanah yang sama. Saat sentuhannya masih tersisa, sementara otakmu tahu kalian baru bisa bertemu beberapa pekan setelahnya.

Semestinya diciptakan frasa baru bagi orang yang rela melambatkan waktu demi mendukung pekerjaan pasangan. Urusan renovasi hingga obrolan soal souvenir tidak lagi jadi bahan pembicaraan selama sebulan kedepan. Hidup di reset sepenuhnya ke dalam mode kerja. Kalian berubah jadi manusia sipil yang hidup dengan otak a la militer. Bangun, menyapa, bekerja, menyapa, tidur. Begitu saja isinya. Tapi kalian tetap berusaha bahagia.

Semestinya diciptakan frasa baru bagi rasa yang tumbuh makin kuat bukan karena pertemuan — tapi malah karena keadaan. Bagaimana mengatur ritme cinta yang mesti terus tumbuh meski tanpa saling bertatap muka. Awet, meant to be? Sepertinya tidak pas secara arti. Tapi KBBI bahkan Oxord Dictionary hanya menyediakan ini.

Mungkin harus dicari frasa yang tercipta dari singkatan semua nama pejuang jarak di dunia. Atau kita mesti depth interview pelaku cinta yang jarang bertatap muka, kemudian menyarikan frasa paling pas dari sana.

 

Sementara para linguist mencarinya, sebelum hari keberangkatanmu aku hanya bisa bilang “Hati-hati ya.

 

Weird Day

Dari skala 1 sampai 10 ke-aeng-an hari ini ada di level 9. Banyak sekali emosi yang sebenarnya bisa dicerna. Tapi keadaan membuat semua hanya dijalani saja. Saya mengetik ini tepat setelah pulang karaoke yang rusuhnya hampir mirip tawuran bersama teman-teman kantor. Sengaja menuliskannya dengan segera, supaya getaran yang ingin disampaikan masih ada.

Hari ini ada beberapa kejadian besar yang semestinya menimbulkan pertanyaan besar. Partner, sahabat, rekan menumbuhkan Hipwee bersama memilih pergi. Fellow respected founder datang ke Jogja demi bicara pada kami. Rekan ini cerdas dan punya keinginan kuat sekali. Ada hal lain yang ingin dilakukannya di luar sana. Kami mencoba berdiskusi, berusaha mencari jalan tengah apa yang bisa dilakukan agar tidak ada retak dalam hubungan ini. Tapi hatinya sudah memilih. Dia memutuskan jalannya. Kami sudah berusaha sebisanya.

Percakapan dengan seseorang yang sudah menjadi founder dari banyak sekali perusahaan hari ini akhirnya jadi highlight keabsurdan. Dia bertanya, “Apakah saya masih mau melakukan ini 20 tahun kedepan? Apakah saya masih mau mati-matian mengusahakan apa yang sudah dibangun selama ini?”

Tanpa pikir panjang, “Iya” keluar dari mulut. Baru kali ini saya merasa bahwa ini adalah anak kesayangan yang sudah dibesarkan walau baru 2,5 tahun lamanya. Saya akan ikhlas pasang badan untuk melindungi keberadaannya.

Ternyata hanya perlu orang yang memiliki hati untuk memahami bahwa ini bukan cuma soal keselamatan diri lagi. Ini soal visi yang lebih besar dari semua itu.

Diiringi nyanyian semi jeritan Mr. Brightside dari dalam ruang karaoke yang kepenuhan, saya mohon doa agar dimampukan memberikan semua yang terbaik. Apapun nanti hasilnya semoga kita dikuatkan untuk tidak menjadi quitter dalam semua hal yang dilakukan. Amen.

Dear Nak

Nak, Ibu hanya ingin memastikan jika kelak kamu membaca ini kamu akan benar-benar mengerti apa yang sudah terlewati demi memperjuangkanmu di sisi. Saat ini Ibu belum bisa menjanjikan banyak hal seperti hidup yang nyaman sampai dana pendidikan yang tersimpan rapi. Ibu masih berjuang memastikan semua yang kamu butuhkan akan ada saat kamu datang nanti.

Nak,

sepertinya kamu akan datang lewat cara yang tidak biasa. Seperti banyak hal yang Ibu jalani tiap harinya. Mungkin Tuhan terlalu suka bercanda pada kita, Nak. Banyak sekali plot twist-nya. Semoga kamu pun percaya jika semua kelok yang Tuhan beri adalah bukti Dia cinta.

Bisa jadi kamu datang dari hasil pelukan panjang Bapak dan Ibu di akhir hari. Atau malah kamu datang ketika sudah mampu menapakkan kaki. Masuk ke rumah, disambut tatapan cemas Bapak dan Ibu yang lama menunggu kamu datang demi menggenapkan kami. Hari berjalan, semua aktivitas terlakoni — tapi kami selalu tahu ada ruang untukmu di sini.

Saat kamu datang nanti Ibu berharap bisa menyediakan apapun yang kamu butuhkan. Bukan cuma soal botol susu dan berpak-pak pampers tiap bulan. Ibu lebih berharap bisa punya waktu untuk membacakan buku-buku Pram bahkan sebelum kamu bisa membaca. Walau belum paham artiya Ibu ingin kamu tumbuh jadi manusia yang sudah bertingkah adil semenjak kecil dari dalam pikirannya. Ibu berharap bisa menyediakan ruang untukmu didengar tanpa terganggu urusan kerja. Semoga Ibu dan Bapak bisa menjawab pertanyaan dan menanggapi celotehanmu tanpa disela memelototi gadget demi tuntutan profesional manusia dewasa.

Nak, sebelum kamu benar-benar datang tolong maafkan Ibu yang mungkin terlalu egois tak ingin mengandungmu dalam rahim Ibu. Maafkan Bapak yang merasa perhitungan rasionalnya berujung pada kesimpulan kami tak seharusnya mengusahakanmu. Ini bisa terdengar absurd, namun semua kecemasan dan perhitungan ala manusia itu kami lakukan sebab kami benar-benar mencitaimu. Bahkan semenjak kita belum pernah bertemu.

Dear Nak kesayanganku,

datanglah dengan caramu sendiri. Masuklah ke dalam hidup kami lewat langkah yang kau tentukan bersama Sang Maha Pemberi. Waktu kau datang ketika Ibu masih sibuk sekali sementara Bapak sering tidak ada di sisi, akan Ibu pastikan kau ada di tangan ternyaman yang semesta bisa beri. Saat kau datang ketika Ibu dan Bapak tak bisa seleluasa dulu mengajakmu bermain ke sana kemari, mohon maklumi. Akan kami usahakan kau mendapat keceriaan yang sama seperti yang anak-anak lain jalani. Ibu tidak bisa menjanjikan hidup yang sempurna. Ibu dan Bapak hanya bisa berjanji bahwa kami akan berusaha.

Sampai nanti kita bertemu, Nak. Biarkan kini Bapak dan Ibu membenahi hidup dulu. Ketahuilah ada kamu yang selalu jadi alasan kami membuka mata lebih lama demi menuntaskan urusan kerja. Ada kamu dalam setiap pertengkaran dan doa.

 

Sun sayang. Semoga di saat yang tepat kamu datang.