Feeds:
Posts
Comments

13 Juli 2009

Sapaan kecilmu lewat situs komunikasi cukup membuatku tersenyum cerah
Setelah bermalam-malam memimpikanmu, seakan euforia bergulung di dadaku

Aku seperti anak kecil…
Gemetar, tampak terlalu bersemangat memalukan
Berkali kali melihat ponsel, berharap ada balasan datang
Aku seperti anak kecil yang baru mengenal cinta
“Mutung” saat percakapan kita terhenti
Putus asa ketika kau tampak malas-malasan

Aku ingin tampak tak memalukan
Tapi ke-excited-an ku pasti amat terlihat
Ah, sunggguh rasa membuat kontrol emosi kendor
Kuharap kamu tak menyadarinya

Kuharap malam-malam esok akan ada sapaan kecil lagi
Kuharap pagi-pagi selanjutnya bisa kudengar suara serak khas bangun tidurmu lagi

Kuharap, suatu saat yang tepat aku punya cukup nyali
Berdiri tegak di depanmu, berujar lirih..

“Telah kucoba segala cara, toh aku masih terus menyayangimu”

Rapi

Aku tahu kamu tak suka diganggu pasca prahara
Aku takkan berjingkat masuk ruang pribadimu, kamu terlalu dingin untuk sekedar ditanyai kabar

Ada banyak pilihan di depan mata
Pergi, bersama semi yang baru, atau tetap berkawan dinginmu
Meski hatiku berontak, otakku melawan kehadiranmu
Namun dengan penuh kesadaran, aku memilih dinginmu yang indah dan rapi itu

Rapi, yeah mungkin bisa menggambarkan bagaimana kusimpan rasaku

Malam ini, aku memilih tidur tanpa terang lampu
Kamu pernah bilang bukan,
“Cahaya lampu hanya membuat matamu lelah..”
Dulu aku tak pernah berani tidur dalam gelap
Tapi malam ini berbeda

Kumatikan lampuku…
Dan aku tak lagi menggigil takut
Mungkin karena aku terlalu merindumu

(Aku rindu kamu, sungguh)

Mari…kita belajar melebarkan sayap
untuk kemudian terbang,
dari sangkar emas ini
terbang tinggi..jauh…
untuk bertemu di tempat yang tinggi

Kiri

Dulu aku pernah bilang,

“Aku ingin berada di kiri…
di jantung. Agar aku ada di aliran darahmu,

dekat paru-paru. Agar aku ada di tiap helaan nafasmu”

Sekarang, aku hanya ingin berbaring di kiri-mu.
Agar saat aku membalikkan badan, kau ada begitu dekat.

Kugapai, lalu kupeluk.

SEYMON!

SEYMON=Semangat Ya Mon!

kata yang sering muncul di status facebook, ym,, dan di coret-coretan gak jelas saya akhir-akhir ini.
Yoi, saya sedang berusaha menjalani semuanya dengan sesemangat mungkin.

Saya mau ceria, riang, bahagia menikmati masa-masa pencerdasan diri yang kadang menyebalkan ini.

But i love learning sooo much…i born to be a long-life learner, i know.

Just yells, SEYMON!

*well, ini postingan nyampah*

SEY-everybody!

Minggu-minggu ini hectic banget buat saya. Deadline macam-macam, project ini itu yang harus berprogress terus,sampai rentetan acara keluarga yang memaksa “setor muka”. Huah, kadang pengen nangis rasanya. I want some extra time!

Beruntung saya menemukan hal yang menyelamatkan. Coba buka surat Ar-Rahman deh, dari ayat 1-78 ada satu ayat yang terus diulang-ulang. “Maka nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang kamu dustakan?”
Saya baru sadar, selama ini saya lebih banyak meminta dan mengeluh kepada Dia. Dan saya melupakan limpahan nikmat yang sudah dengan murah Dia berikan. Kayaknya dalam tiap doa kata pertama yang saya ucapkan bukan. “Terimakasih ya Allah…” tapi keluh kesah dan permohonan.

Terimakasih ya Ar-Rahman, kamu semakin menyadarkan kalau Dia memang murah kasih sayang :)

My life is full of Dementor, yes. Setuju sama Raditya Dika. Iseng-iseng saya baca blog nya di tengah usaha revisi paper HKI (anyway, ini bukan pilihan yang baik. Sangat destructive, jangan ditiru). Yup, akhir-akhir ini saya merasa banyak “dementor” berkeliaran di hidup saya. Menghisap energi positif, menghilangkan semangat, membuat saya malas ngapa-ngapain. Butuh mantra Patronus yang hebat untuk mengusir dementor-dementor nakal itu. Ini 10 mantra patronus saya:
1. Pergi ke coffe shop sendirian, bawa buku dan menikmati quality time saya dengan diri sendiri.
2. Jalan pelan-pelan di jalan pedestrian UGM. Ga ada yang spesial sih, tapi entah kenapa jalan di jalanan itu bikin saya “adem”.
3. Bertemu Risma, my partner in crime dan bermimpi bersama. Sahabat saya ini selalu mengobarkan semangat untuk mencoba hal-hal baru.
4. Membayangkan masa depan sebagai dosen dan researcher. Hidup yang sepertinya indah dan damai. Jadi harus dibayar dengan usaha untuk belajar saat ini.
5. Mengingat momen bersama sebelas hujan. Sering waktu lagi capeekk saya memikirkan sahabat-sahabat hebat ini. Mereka membuat saya bersyukur, untuk punya tempat “pulang” paling nyaman.
6. Mengingat kata-kata ibu saya, “Mama pengen besok kamu…”. Bahagianya kalau bisa mewujudkan impian ibu. Yang tadinya letoy, jadi on fire!
7. Mendengarkan lagu michael buble
8. Menulis SEYMON besar-besar. Sugesti diri.
9. Ingat misi untuk tetap membuat dia bangga.
10. Crying. Yeah, am just an ordinary lil girl

So. whats ur patronus charm?

My life is full of Dementor, yes. Setuju sama Raditya Dika. Iseng-iseng saya baca blog nya di tengah usaha revisi paper HKI (anyway, ini bukan pilihan yang baik. Sangat destructive, jangan ditiru). Yup, akhir-akhir ini saya merasa banyak “dementor” berkeliaran di hidup saya. Menghisap energi positif, menghilangkan semangat, membuat saya malas ngapa-ngapain. Butuh mantra Patronus yang hebat untuk mengusir dementor-dementor nakal itu. Ini 10 mantra patronus saya:
1. Pergi ke coffe shop sendirian, bawa buku dan menikmati quality time saya dengan diri sendiri.
2. Jalan pelan-pelan di jalan pedestrian UGM. Ga ada yang spesial sih, tapi entah kenapa jalan di jalanan itu bikin saya “adem”.
3. Bertemu Risma, my partner in crime dan bermimpi bersama. Sahabat saya ini selalu mengobarkan semangat untuk mencoba hal-hal baru.
4. Membayangkan masa depan sebagai dosen dan researcher. Hidup yang sepertinya indah dan damai. Jadi harus dibayar dengan usaha untuk belajar saat ini.
5. Mengingat momen bersama sebelas hujan. Sering waktu lagi capeekk saya memikirkan sahabat-sahabat hebat ini. Mereka membuat saya bersyukur, untuk punya tempat “pulang” paling nyaman.
6. Mengingat kata-kata ibu saya, “Mama pengen besok kamu…”. Bahagianya kalau bisa mewujudkan impian ibu. Yang tadinya letoy, jadi on fire!
7. Mendengarkan lagu michael buble
8. Menulis SEYMON besar-besar. Sugesti diri.
9. Ingat misi untuk tetap membuat dia bangga.
10. Crying. Yeah, am just an ordinary lil girl

So. whats ur patronus charm?

Pelepasan

aku benci mengakui
u (still, always) look so great on shirt
aku masih bisa menebak hari ini kamu akan pakai baju apa
di awal minggu biasanya kamu akan formal dengan kemeja birumu itu
aku benci mengakui, aku masih memperhatikan detailmu
aku gemas melihat kemeja itu tak terkancing ataupun tergulung di sisi lenganmu. Kenapa aku masih peduli akan kerapianmu?
aku benci mengakui
ke-dangkalanku untuk berkali-kali melirik ponsel saat belajar
sambil berpikir, hey dia juga pasti belajar. maka aku harus belajar juga.
aku benci saat aku harus menjaga pandangan saat ujian tadi, untuk tidak melirik ke arahmu dan berdebar-debar.
atau saat aku tiba tiba canggung saat masuk terlambat, dan lewat di depanmu.
perlu usaha keras, kau tahu, agar mataku tetap di kertas soal. bukan kepadamu.
aku benci saat hujan deras tiba sebelum kelas. aku khawatir kamu kehujanan.
atau saat tiba-tiba kamu skip kelas, aku masih memutar pandanganku untuk menemukanmu.
aku benci saat ada kesempatan untuk berkomunikasi denganmu, aku selalu canggung dan memperhatikan tiap detailnya.
takut mengucapkan kata yang salah, dan menyesal bila aku kelihatan norak.
aku benci saat aku mengucapkan pada diriku sendiri,
“hey..kenapa masih memikirkannya? bukannya dia kurang ini, tidak itu, padahal kau mau pria yang begini..begitu….”
Tapi buatmu kenapa selalu ada pengecualian dan pemakluman??
Aku benci mengangguk-angguk setuju saat ada temanku yang bilang, “sudah mon…dia tidak baik..dia menyakitimu”.
Padahal hatiku berontak, “tidak, dia baik. dan aku tidak merasa sebegitu tersakiti”
Aku paling benci mengakui, bahwa aku kadang cemburu tanpa alasan. Padahal jelas aku sudah tak ada lagi hak padamu.
Bertanggung jawablah untuk hal ini. Mungkin aku tak lagi ingin bersamamu, aku hanya belum bisa melupakanmu, yeah mungkin.
Aku sangat benci untuk bohong pada diriku sendiri. Tapi aku juga benci mengakui aku masih mencintaimu.

*bahkan aku berdebar saat kamu comment note ku, pas aku nulis ini. sumpah, am sooo shallow!

Older Posts »