Drama

Rindu
berteduh dibawah jarak
antara kepala dan bahumu.

Sementara terik dunia
jadi semu dimata kita
miskin kata
bahagia.

Sampai nanti waktunya
tangis ada
perih menyapa
kita jadi pelakon drama
tulisan di layar utama: “Tenang, semua akan baik saja”

 

Jogja, 2014.

Hatiku Tak Lebih Sebuah Kursi Kayu Panjang

Sering-seringlah menyakitiku, Sayang.
Kau sudah lebih dari tahu
hatiku tak lebih sebuah kursi kayu panjang
melengkung di tengah
terlampau sering pantat asing dan berat menjamah.

Ia hanya akan protes
saat sudah benar-benar patah
berhenti punya guna.
tak berwujud lagi dimata manusia.

Selama masih bisa kau atur dudukmu
miring sedikit, geser kanan-kiri bergantian tiap detik
aku pasti masih kuat bertahan.
Dan kau, Sayang, sudah memperhitungkannya lebih dulu.

Kemari, coba kulihat kertas burammu
aku penasaran atas ekuasi handal
sampai kapan nyeri ini sanggup ditahan
hingga “Kraaak!”, dua ia terbelah
lalu kau beringsut pindah.

Jogja, 2014.

Aku Ingin Membicarakan Kita

Aku ingin membicarakan kita
dalam ujung-ujung malam
ditengah mata lengket dan kepala berat
sebelum cemerlang fajar datang.

Aku ingin membicarakan kita
pada yang tak punya dakwa
tentang apakah kita alpa sebagai manusia
mewajarkan kehadiran jakun dan buah dada.

Aku ingin membicarakan kita
yang tak pernah jauh
juga tak pernah jatuh cinta sepenuhnya
namun selalu ada
entah untuk apa.

Aku ingin membicarakan kita
pada dunia yang kadang berpura lupa
bahwa kita ada.

Musim Semi Tak Pernah Datang Lagi

(entah kau atau aku yang mulai mempercundangi musim)

Mata ini pernah jadi saksi bagaimana bunga keluar dari tempat persembunyiannya
bersolek genit mengumbar kelopak satu-persatu
atau mari kita bicara soal daun di depan jendela kamarmu
kulihat ia mulai kuning, coklat, meranggas hingga kuncup hijau menyembul.

Terjebak warna-warni memukau
kau dan aku tak hirau
kita tak lebih tahanan, sesaat dipelihara negara
hingga tiba saatnya dilepas menghadapi kenyataan.

Musim semi kini tak pernah datang lagi
batang kering pun daun gugur jadi pemandangan sehari-hari
barangkali aku yang mengusirnya pergi
atau ia yang enggan menyambangi .

Musim semi nampaknya tak akan pernah mampir kembali
hidupku setara dengan mahfum
ia hanya akan datang sekali
selanjutnya, hanya ada panas dan dingin yang memekakkan remang di dahi.

(kau masih menyimpan banyak semi, aku berhenti)

Terinspirasi dari “Another Love”, Tom Odell.

 

Tenggara

Angin utara membawaku
pada lembah pemuas dahaga manusia
mereka yang tak pernah cukup hanya dengan dua.

Cawan air minum berjejak tiga bekas bibir
dua berpemulas, satu tanpa bekas
aku terbang rendah menangkap lirih hatinya.

Dalam teguk air tanpa perisa
samar tertinggal kata yang tak pernah menguap ke udara
seberapa cepat pun terhisap
setangkup merah minim kerut tak kunjung lekat.

Berat perutku menyangga beban
tengger jadi tujuan
dibawah, ia memutar arah mata angin
lelah jadi tenggara
bisakah kini setelah timur, ada ia lalu timur laut saja?
bila memang manusia tak bisa hidup dengan dua arah di hadap muka.

Kerangkeng

Aku menujumu
derit rantai memekak
kalung kencang di tekak
langkahku memelan satu-satu.

Aku ingin mengenakanmu
selayak patut baju baru
pipimu memerah
berpaling resah
kutahu kau bukan malu, tapi tak mau.

Pada genggam bau logam
sisa noda karat di telapak tangan
aku terjerat
pada kesementaraan yang kita ciptakan
sudah lekat, pekat — tak ayal kuterpenjara
bahagia?