Sedang ada hantaman El Nino di hati belakangan ini. Banyak yang terjadi dengan cepat, besar, mengubah tatanan yang sebelumnya rapi. Kencangnya hempasan membuatku fokus ke lensa besar yang bisa menggambarkan seluruh kejadian. Lupa, kalau perasaan-perasaan yang besar harus diturunkan jadi kerat kecil supaya tidak mudah dilupakan.

Sebelum tiba hari kamu akan dibedaki sedang aku memakai pewarna kuku di pagi hari, aku ingin mengingat jawaban “Iya” dari mulutmu untuk semua keinginan aneh di seserahanku. Mukena pink, sajadah ungu, tas ransel dan seperangkat buku tidak membuatmu lari setelah mengetahui betapa kompleksnya kontradiksi dalam diri.

Bukan di mana kita sepakat menyelenggarakan perhelatan — aku malah lebih ingin mengingat kesabaranmu mendatangi seluruh venue di waktumu yang tak lapang. Bagaimana kamu kritis mengajukan pertanyaan soal berapa mobil yang bisa tertampung di lahan parkir, apakah watt listrik cukup jika menambah sound system, adakah penginapan di dekat venue yang bisa disewa dalam jumlah besar. Aku mudah melupakan hal-hal detil macam itu. Semoga kenangan ini terulang terus di ingatanku supaya rasa syukur muncul  sebab dipasangkan denganmu yang menggenapiku.

Walau nanti pasti bertanya untuk memastikan apakah aku cukup presentable dan manglingi, semoga aku bisa terus mengingat fakta kecil soal penerimaanmu yang nyaman sekali. Kamu tidak keras memprotes jerawat yang menjamur di muka beberapa bulan ini. Juga berat badan yang naik turun seperti balita sedang hobi main trampolin. Semoga episode kamu ikhlas menemani sambi menahan kantuk di dokter kulit laris sampai tengah malam bisa terulang waktu nanti kita bersitegang.

Aku ingin menyimpan memori tentang kamu yang tak pernah alpa memegang tanganku saat kita berkendara. Melengos dan menjawab malas, “Hmm nggak tahu ya…” waktu aku bertanya, “Emang nanti setelah nikah masih begini juga?”. Kejujuranmu, apa adanya kamu membuat aku tahu bisa hidup bersama tanpa harus bermain peran sepanjang waktu.

Hanya 48 jam sebelum kita tidak semudah dulu punya jalan keluar saat kesal. 48 jam sebelum kamu harus berdamai saat melihatku yang jauh lebih teledor dalam menata barang. 48 jam sebelum ingatan-ingatan kecil ini yang bisa jadi penguat saat nanti masalah datang.

 

Jika nanti jalan kita mulai terasa melelahkan dijalani, aku siap memecah perasaan-perasaan gigantis ini menjadi lebih kecil. Lagi. 

 

Advertisements

One thought on “Memecah Perasaan-Perasaan Besar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s