Sewaktu masih SD, Ayah yang sedang pendidikan lanjut harus meninggalkan rumah selama satu bulan untuk kerja praktek. Satu bulan buat saya yang masih kecil itu rasanya panjang tak berliku. Yang ada di otak waktu itu adalah tiga puluh hari rasa liburan caturwulan. Sudah bangun siang, nonton kartun banyak, baca buku dan tidur-tiduran hari belum juga habis. Sedikit tidak terima karena akan ditinggal selama itu, saya merengek: “Nggak mau. Lama banget!”

Demi memenangkan hati anaknya yang kalau ngambek agak heboh Ayah saya berkata, “Satu bulan itu cuma empat kali hari Minggu. Empat kali nonton Doraemon. Nggak lama kan?”

Penjelasan Ayah membuat waktu satu bulan terasa lebih singkat. Yang ada di pikiran saya bukan 30 harinya, tapi empat kali Doraemon dan empat kali hari Minggu yang harus saya lewati.

Fast forward ke 20 tahun kemudian, ternyata tantangan untuk melogikakan empat minggu datang lagi. Kali ini karena Mas yang pergi. Sayang, di umur yang sekarang menghitung dengan cara menanti Doraemon diputar di TV sudah tidak semanjur dulu. Jadi harus pintar-pintar mencari analogi baru demi memberi efek meringkas waktu.

Butuh 12 kali ditinggal pergi. Butuh 12 kali duduk-duduk di mobil sambil minum teh dan ngemil Pringles 2 jam sebelum waktu take off dulu untuk menemukan arti waktu tunggu yang tidak semenyiksa itu.

Semua orang akan mengalami fase meraung-raungnya saat harus menunggu seseorang yang dia cinta. Dalam kasus seorang teman momen ini berbanding lurus dengan berondongan jerawat di muka. Di kasus saya menunggu sekian lama pernah berarti malas bangun pagi karena merasa hidup berhenti. Tapi sekarang alhamdulillah sudah lewat masa-masa itu dan lebih bisa memaknai.

Empat minggu, saat ini, adalah tentang berangkat atau mulai membuka laptop jam 8 pagi. Karena di masa-masa ini otak lebih baik digunakan untuk berlari.

Empat minggu adalah empat kali bertemu dengan Bapak parkir di Galery Prawirotaman yang membukakan pintu mobil kemudian menyapa, “Sendirian aja Mbak?”.

Empat minggu setara dengan empat kali membaca di pinggir kolam renang lalu makan mie goreng yang membuat upaya membakar lemak sebelumnya sia-sia.

Empat minggu adalah soal menjadikan doa sebagai titik tengah antara kalian berdua.

Di tengah dering telepon tengah malam yang datang dari AE, berondong chats dari grup BoD, dalam upaya bangun sampai subuh hanya untuk belajar Analytics — akhirnya saya menyadari satu hal. Empat minggu tidak pernah diciptakan untuk menunggu. Empat minggu harus jadi ruang berkembang sebelum kembali menjemputmu.

 

Advertisements

5 thoughts on “Menakar Empat Minggu

  1. Mbak Nendra, ada profil media sosial yang bisa ikuti ga?
    Saya ko ngefans banget ya sama tulisan-tulisan si mbak.

    1. Hi. Semua akun sosial media saya bisa dicari dengan nama @nendrarengganis. Terima kasih sudah mampir!

  2. Ralat:
    Mbak Nendra, ada profil media sosial yang bisa saya ikuti ga?
    Saya ko ngefans banget ya sama tulisan-tulisan si mbak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s