Baru dua kali dia berkata ‘Jangan’ saat menanggapi keinginan random yang saya ucapkan. Kata ‘Jangan’ yang pertama adalah,

“Jangan terlalu banyak. Satu-satu. Nanti pusing kepalamu.”

Sisanya? Hampir tidak ada larangan yang pernah keluar dari mulutnya. Setiap saya datang dengan cerita menggebu-gebu, dia melihat saya dengan tatapan semi datar dan senyum melengkung seperti bulan sabit. Tidak banyak yang dia katakan. Tapi dalam anggukan dan tanggapan singkat-singkat darinya saya tahu ada dukungan.

Dia tidak pernah membatasi ke mana saya akan pergi. Perjalanan paling sinting macam apa yang ingin dicoba kali ini. Pesannya selalu sama sebelum kami berpisah dalam jangka waktu cukup lama,

Jangan lupa makan walau tidak ada aku yang bisa mengingatkan. Perut harus tetap diisi ya.”

Malam ini muncul kata ‘Jangan’ yang kedua. Setelah kami berjalan hampir 730 hari lamanya.

Jangan jauh-jauh. Pergi sekadarnya.Sendirian dalam jarak jauh, untuk jangka waktu yang tidak menentu tidak akan semudah sebelumnya. Selepas ini berlari kencang rasanya tidak akan lagi sama.

…..kata jangannya tidak terasa memberatkan. Kali ini semua normal.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s