Beberapa hari lalu untuk kali pertama selama hampir 1,5 tahun akhirnya saya bertengkar hebat dengan pasangan. Pertengkaran itu bukan soal terlambat memberi kabar. Atau tentang kecemburuan yang tidak bisa dikendalikan. Ledakan emosi yang membuat kami bisa berkata, “Apa-apa kayaknya nggak ada yang bener deh…” malah disebabkan oleh pekerjaan.

Singkat cerita dia mengkritik keputusan saya. Dengan cara yang terlampau straight to the point dan tidak ada prelude-nya. Saya meradang. Saat itu ego saya tinggal di kick sedikit sudah siap maju perang. Sebelum jeda datang lagi, kami memutuskan bertemu. Semua perlu clear sebelum sekian hari lagi tidak bisa langsung menggunakan nada tinggi untuk memanggil, “Mas” atau “Kamu.”

Tatapan mata langsung yang awalnya penuh kekesalan pelan-pelan berevolusi jadi lirikan kocak. Gestur yang tadinya kaku mulai berubah jadi lebih rileks.

Selepas pembicaraan dua jam di kedai kopi overrated a la anak kekinian nampaknya saya menyadari satu hal. Ini bukan soal dikritiknya. Bukan juga soal bagaimana saya ingin selalu terlihat benar di matanya. Rasa sakit dan tidak terima itu muncul semata karena ingin di-back up oleh orang yang dipercaya. Jalan ini ternyata mirip dengan jasa selibat yang sepi. Tekanan bisa datang dari sana-sini. Kamu tidak sepenuhnya benar, tidak pula sepenuhnya salah, terkadang clueless tapi tetap harus maju bertarung setiap hari.

Kehadiran dia yang disayangi, bisa dipercaya juga satu frekuensi akan sangat meringankan jalan ini.

 

Lesson learned: sebelum merasa bisa menaklukkan dunia dan berlari kencang seperti atlet sprint tingkat dunia, lihat dulu orang di sisi kanan. Duduk barang 30 menit berdua kemudian jelaskan. Apa yang sedang kamu upayakan, di titik mana keterbatasan akan membuatmu gagap membuat keputusan. Jelaskan di awal bahwa lompatan kali ini mungkin akan terasa kurang menyenangkan. Kemudian minta dia mengisi ruang yang masih melompong besar.

Katakan bahwa kamu sayang. Silakan kalau mau menjitakmu. Tapi pelan saja, perjalanan masih panjang.

 

2 thoughts on “Jalan Sepi

  1. Assalamualaikum mba. Maaf ya, ikut ninggalin jejak di wp mba. Hehehe aku udah ngefans banget sama mba dari pertama tau hipwee.com. dari semua postingan hipwee, entah kenapa punya mba yang paling aku tunggu. Karena saking ga sabarnya nunggu kata-kata manis tapi makjleb nya mba di hipwee, aku nekat follow mba di wp. Tapi baru kali ini berani ‘menyapa’ mba. Salam kenal ya, mba. Tulisan-tulisan mba banyak kasih inspirasi buat aku. Semoga sih, mba ga terganggu. 😊😀

    1. Halo Risda🙂 Terima kasih sekali ya sudah menyapa dan membaca. Nggak terganggu kok. Jutru senang kalau tahu ada yang menikmati apa yang saya bagikan. Jabat erat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s