Dahulu sekali kamu sudah menyiapkan sore beserta serentetan acara agar kita nyaman bersama. Sofa kau rapikan. Playlist sudah disiapkan. Bahkan kamu punya rencana A, B, dan C demi jaga-jaga kalau aku bosan. Kali itu kamu mengundangku untuk duduk di sofa. Tapi aku memilih membuka karpet lalu duduk santai di depan TV.

Aku tahu itu kode waktu kamu berkata ingin menjamuku dengan cangkir teh cantik dan tatakan yang senada. Baiklah, kali ini aku ingin menghargai usaha. Tapi rasanya kok kaku seperti bra yang belum pernah dipakai sebelumnya.

Aku melenggang masuk ke dapur demi mengambil mug dengan tulisan norak. Sepertinya suvenir pernikahan atau doorprize dari acara kantor. Kali ini aku tak keberatan memencet tombol galon elektrik lalu minum air putih.

Kamu berkata, “Duduk saja. Biar aku yang menyiapkan semuanya.” 

Aku merangkul lengan atasmu. Membiarkan tanganku merosot hingga menemukan jarimu. Tak perlu lah banyak manis-manis yang tak perlu. Begini saja aku sudah menemukan rumah tanpa perlu repot beberes atau mengetuk pintu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s