Kita selalu terbiasa dengan jeda. Entah 2 pekan, 4 pekan, bahkan 31 hari tanpa tatapan. Pun sedang berdekatan kita lebih sering mengesampingkan pertemuan.

Ah, kan masih bisa bertukar pikiran. Tidak mau merepotkan. Dia pasti ada hal penting lain yang harus dikerjakan.

Spontan, malam ini kamu muncul seperti pop up market di hadapan saya yang sedang bertemu orang untuk urusan pekerjaan. Selepas nonton moto GP kamu datang dengan jaket kulit yang belakangan saya tahu dipakai demi menutupi kaus yang belel, sandal santai, dan celana jeans yang sedikit kedodoran. Kamu menyapa kawan dan kolega saya. Lalu memilih duduk di meja berbeda. Kopimu datang. Kamu masih menunggu di meja luar. Melihatmu dari jauh — membuat saya terkikik sendiri.

Perpaduan antara kamu, segelas kecil kopi, dan gerakan tanganmu saat membawa cangkir ke bibir sesungguhnya sangat seksi. Saya selalu suka saat kamu menyesap cairan hitam favoritmu ini.

Pada jeda antara segelas kopi dan seteko earl grey malam ini hati saya merasakan hal yang lain lagi. Pasar malam di sana sudah tutup sepenuhnya. Tidak ada lagi hingar bingar di dalamnya. Herannya, saya ingin jarak ke tempat parkir memanjang jadi 2 kali lipatnya.

Barangkali karena tanganmu menemukan tangan saya. Barangkali karena selepas itu harum parfummu tertinggal di sana. Saya masih tersenyum saat mencium tindasan aromanya di lampu merah yang 130 detik lamanya.

Kafein tak pernah gagal membuat kita bahagia. Malam ini, kasusnya berbeda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s