About (Future) Kids

Hari ini secara random saya ikut menengok Pakdhe yang sedang kurang sehat. Beliau didiagnosa perlu pasang kateter di jantung, lalu galau. Kami datang untuk menghibur agar Beliau kembali tersenyum.

Tidak disangka, malah momen menengok ini jadi pintu masuk Pakdhe untuk bicara pada saya. Di depan kedua orangtua. Beliau bertanya siapa yang dekat, sudah sejauh mana, dan ke mana condongnya hati saya. Awkward sih, tapi ya sudahlah jawab saja — pikir saya.

After some kind comments and discussion, he said to me:

“Pernikahan itu intinya meneruskan keturunan. Bapak-Ibumu sudah sayang sama cucu-cucu Pakdhe. Sekarang Pakdhe juga ingin bisa sayang sama anakmu.”

Sembari senyum-senyum agar tampak kasual, saya menjawab:

“Kalau menikah sih mau Pakdhe. Tapi kalau punya anak belum kepikiran sekarang. Gak tahu deh ya kalau besok. Hehehe.”

“Belum kepikiran sekarang” — jimat penenang

Saya lupa kapan tepatnya mulai membubuhkan kalimat, “Belum kepikiran sekarang” saat ditanya soal rencana memiliki keturunan. Mungkin setelah Ibu menegur keras saat saya berkata tidak ingin punya anak. Menurut Beliau ini hanya keinginan emosional saja. Suatu hari saya tetap ingin bisa seperti wanita lain di luar sana.

Pemikiran soal anak, cucu untuk orangtua — belakangan memenuhi kepala. Jika ditanya apa anak kecil bisa melelehkan hati, jawabnya jelas iya. Saya fans berat ponakan-ponakan lucu. Dicium dan dipangiil “Onty” membuat lelah tubuh hilang sementara waktu.

Tapi, anehnya, sampai saat ini saya tidak pernah bermimpi untuk jadi Ibu.

“Kamu cuma malas ribet aja,” komentar Ibu saya setiap kebimbangan ini diungkapkan. Punya anak jelas penuh kerepotan. Saya sudah melihat sendiri bagaimana saudara-saudara sepupu menenteng tas besar ke mana-mana. Merelakan jam tidur karena anak mereka tidak bisa ditinggal lelap begitu saja. Tapi dalam kerepotan itu, mereka bahagia. Ikatan cinta mereka makin kuat karena kehadiran manusia baru yang sebenarnya demanding tingkat dewa.

Jujur. Anak, bagi saya, bukan sumber yang harus ada dalam ekuasi bahagia. Bukan juga bahan pelekat yang mesti ada dalam ikatan cinta. Setiap orang memiliki voice of reasons mereka. Bagi beberapa orang, punya anak membuat hidup lebih tertata dan jadi lebih dewasa. Namun sekali lagi, rasanya bukan punya anak voice of reasons saya.

“Tapi orangtuamu mau cucu….”

Ini yang paling saya takutkan. Bagaimana saat kelak selepas menikah apa yang kami jalani tidak sesuai harapan. Akankah mereka bisa menerima? Apakah keputusan ini malah menyakiti mereka?

Jika mau punya anak, kalau Tuhan mengijinkan, pasti bisa. Masalahnya ada di saya. Sampai saat ini saya tidak merasa ingin punya anak. Tidak juga punya mimpi punya anak bersama pasangan yang dicinta. Sampai saat ini impian berhenti sampai membangun hidup bersama. Jadi partner baik dalam segala suasana. Itu saja.

Beberapa teman bertanya, “Terus siapa nanti yang ngurusin kalian kalau udah tua?” ; “Nanti nyesel lho kalau pengen punya anak tapi udah ketuaan, gak bisa.” Sampai saat ini belum juga saya tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan realistis itu. Tapi kedua Eyang saya yang anaknya 10 dan 5 juga mengurus diri mereka sendiri di hari tua. Soal penyesalan — iya ini menakutkan. Tapi lebih baik menyesal ‘kan daripada membuat kesalahan?

“Having children is like having a tattoo on your forehead: you have to know why you’re going to do it.”

Except making my parents happy, I don’t know why I should take this ‘having kids’ path. Maybe it’s because I’m not a big fan of tattoo. Better yet, not the forehead one.

One thought on “About (Future) Kids

  1. kenapa sekarang pakai password sih mbak monik? kan aku gakbisa baca postingannya…😦

    Btw, aku juga pernah kepikiran kalo punya anak kayaknya ribet yah… Tapi itu cuma kepikiran aja.

    Beberapa alasan temen2ku pengen punya anak ini mungkin bisa jadi pertimbangan Mbak Monique:

    1. Menambah pahala. Insya Allah, anak-anak yang baik akan menambah pahala kita.

    2. Meneruskan keturunan. Beberapa orang ingin apa yang dia kerjakan di dunia ini bertahan. Dan untuk menitipkannya pada orang lain ketika orang itu sudah tiada, adalah hal yg sulit, sesulit menemukan orang yang dapat dipercaya. Siapa yang gak percaya sama anak sendiri?

    3. “Happiness only real when shared”, they said. And it’s true… Semakin banyak kebahagiaan yang kita bagi, semakin nyata kebahagiaan itu.

    Sekedar share aja sih mbak… point komenku sih tetep yang di awal tadi… kok postingannya pake password yo saiki? huft😦 wkwkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s