Soal Capek Menjelaskan

“Daripada capek menanggapi setiap komentar gak usah lah nulis yang nyerempet-nyerempet.” — seorang kawan baik. Redaksionalnya sedikit diganti.

Saya menjawab dengan kasual, “Saaap boskuuu.”

Tapi dalam hati saya tahu ini hanya awal. Tidak akan pernah ada rasa lelah untuk menanggapi komentar. Sebab inilah perjuangannya. Dengan cara inilah safe haven yang diharapkan bisa tercipta. This may sounds crazy and too risky. But someone has to stand strong and say, “You hate me? Fine. So you got my point.

Belum tentu selamanya corong yang powerful ini ada di tangan kami. Anak-anak muda idealis yang kadang menulis tanpa pikir reputasi. Bisa jadi commissioner kami mutung, mendepak kami, lalu mengganti kami dengan tim editorial baru yang lebih cerdik mempertahankan PV. Selama corong ini masih kami pegang, kami punya kewajiban untuk menyuarakan pendapat yang jernih dan netral.

Kalau orang yang kruntelan bersama sekian tahun saja masih merasa offended dengan ini, maka PR yang harus dihadapi masih amat sulit di depan sana. Ya sudah, mari menulis yang manis-nggerus-sesekali tetap tajam dan nganyelke bagi sebagian orang. Dengan semangat menciptakan generasi anak muda Indonesia yang cinta damai dan tidak judgmental.

Gusti (walau tidak benci pada LGBT dan yang tidak berjilbab syar’i saya masih percaya Tuhan)nyuwun diparingi bakoh. Dan kelancaran, pendampingan, kemudahan, kegigihan niat.

P. S; FYI, yang bilang Hipwee cari uang dari sensasi sini tak lihatin Google Analytics Mas Mbak. Artikel tajam dan vokal sebenarnya tidak menguntungkan secara finansial. Hanya saja kami tidak ingin selalu menyenangkan semua orang tanpa punya keberpihakan.

Keberpihakannya sama yang liberal ya?

Kami berpihak pada kedamaian. Titik.

One thought on “Soal Capek Menjelaskan

  1. Kebetulan saya baca -mungkin hanya salah satu- artikel yang habis2an mengkritisi tulisan itu mbak, hehe. Bagusnya penulis itu juga mengontak hipwee via fb dan menampilkan balasan mbak juga. Boleh juga tuh ada usaha tabayyun😀
    Apa yang mbak perjuangkan saat ini saya sepakat. Generasi masa depan yang tidak judgmental harus diusahakan. Pasti ‘bayarannya’gak akan mudah buat mbak. Tapi perjuangan mana ada sih yang mudàh🙂
    Pertahankan kesantunan dalam menjalin komunikasi itu mbak. Namanya manusià pasti ada masà sepakat dan tidak sepakatnya, namun kesantunan itu mutlak harus tetap selalu ada. Ganbate!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s