Liposarcoma

Sembari menuliskan ini jendela komputer saya membuka beberapa tautan tentang Liposarcoma. Nama penyakit yang baru saja dijelaskan Bapak di meja makan beberapa menit lalu.

Liposarcoma is a rare cancer of connective tissues that resemble fat cells under a microscope.

This is not about me, yet this is about my dear uncle who just went through an appendix surgery. Oom Ridar namanya, putra ragil dari keluarga Bapak saya — cah lanang cilik dhewe, anak nomor 10 yang jaraknya kelahirannya berbelas tahun dari kelahiran kakak-kakaknya. Sepekan lalu Beliau baru saja dirawat karena operasi usus buntu. Namun ternyata saat operasi diagnosis berubah. Ditemukan jaringan mencurigakan dalam usus Oom Ridar yang dicurigai sebagai sel tumor. Operasi yang harusnya hanya berjalan 2 jam molor jadi 5 jam demi mengangkat jaringan mencurigakan itu agar bisa dilakukan pemerikasaan lanjutan.

Seminggu penuh keluarga besar kami bergantian menunggui Beliau di rumah sakit. Ponakan-ponakan dikerahkan untuk jaga malam. Bude-Pakdhe dan Bulek-Oom bergantian jaga siang. Kami ikut meringis melihatnya menahan sakit, di tengah tertatihnya tiap gerakan tubuh yang terasa nyeri kami selipkan canda agar Oom Ridar kembali sehat seperti sedia kala. Sembari harap-harap cemas menanti hasil pemeriksaannya segera tiba.

Hasil pemeriksaan datang — dokter di Panti Rapih mengatakan tumor ini tidak ganas pun tidak jinak sehingga tidak bisa di kemoterapi. Kami masih harus menunggu hasil observasi lanjutan. Namun kemarin hasil PA akhirnya diminta dan dibawa ke dokter bedah ahli digestif untuk dikonsulkan, dan hasilnya Oom saya didiagnosa menderita Liposarcoma. Melihat kondisi psikis dan fisiknya yang belum stabil pasca operasi Oom Ridar belum tahu sampai detik ini. Beliau masih sibuk meringis menahan sakit saat harus latihan duduk dan berdiri.

Kemarin malam Budhe-Pakdhe, Oom-Bulek dan saudara-saudara lainnya berembuk di rumah untuk menghasilkan kesepakatan. Oom saya ini memang tak biasa hidupnya — beliau baru bercerai dengan istrinya, tinggal sendirian tanpa ada yang menjaga — seluruh keluarga sungguh ingin menyokong bebannya bersama. Rembug tuwo itu menghasilkan kesepakatan bahwa Oom Ridar tidak akan diberitahu dulu sampai hari Sabtu tiba, saat Beliau harus melakukan kontrol pertama. Sampai kondisinya stabil Beliau juga akan ditempatkan di rumah saya, karena paling tidak selalu ada mata yang bisa mengawasinya dari pagi sampai malam tiba.

Bulek-bulek mengakhiri perbincangan dengan mata merah.

Oom dan Pakdhe menyisakan tatapan sedih.

Saya baru tahu inilah rasanya sokong-menyokong dalam keluarga. Satu sakit, seluruhnya juga pasti akan terluka.

Sabtu nanti adalah pintu gerbang perjuangan baru Oom saya, ditandai dengan Beliau harus memilih dokter spesialis Onkologi yang akan merawatnya. Lewat tulisan ini saya memohon doa, semoga Oom saya dikuatkan dan ditabahkan. Kami sekeluarga besar pun diberi cadangan semangat yang tak ada habisnya demi mendukung kesembuhannya.

Terapi radioaktif, kemoterapi, atau operasi mungkin kamu jalani Oom — tapi ketahuilah kami akan selalu ada di sisi. Sekarang giliran kami, ponakan-ponakan nakal yang dulu sering kamu jemput di sekolah dan hobi mengobrak-abrik kamarmu yang membalas budi.

SEMANGAT!

2 thoughts on “Liposarcoma

  1. Semoga Om diberi kekuatan dan kesembuhan ya mon, dan kalian bintang-bintang kecil yang dimilikinya atas nama keluarga juga, diberi ketabahan, kekuatan, dan kesabaran mendampingi beliau. Semoga cepat sembuh yes Om Ridar!!
    Gusti mBerkahi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s