Memesankan Tiket Atas Nama Keikhlasan

Saya lupa rasanya pulang saat The Dandees masih diputar di radio. Saya lupa rasanya terburu-buru ingin segera selesai karena punya janji makan malam bersama. Saya lupa rasanya memiliki kehidupan lain selain pekerjaan.

Tapi saya juga lupa rasanya sakit karena hal-hal tidak penting. Saya lupa rasa rendah diri dan perasaan tak bisa jadi “cukup” untuk orang yang saya cintai. Saya lupa pola yang dulu saya hapal saat terus menyakiti diri sendiri.

Saya lupa rasanya perih, tersakiti, sampai menangis.
Saya pun lupa hangatnya tawa penuh kasih sayang di dalamnya.

Untuk beberapa hal yang tak akan bisa saya lupakan, kini saya sedang mencoba mengundang keikhlasan.

Tiket keretanya baru selesai dipesan. Semoga sebentar lagi datang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s