Tekuk Lutut Pada Si Remang Bulu Kuduk

Tutup mata, Sayang

aku disini

rela mengecup setiap bulir peluh yang muncul di atas bibirmu

tidurlah.

Dengkur pelanmu tak harus terganggu

biar di luar sana tabuh genderang perang berdentang

ada aku

dua tangan ini akan lekat di telingamu

biar kau tak perlu tahu.

Sayang, lihatlah padaku

di luar jendela itu manusia sedang jadi ganas

selisih antar penguasa kian memanas

kemari Sayang, lekuk antara leher dan daguku menunggu kepalamu

benamkan ia disitu.

Kita redam dentam meriam dengan cicit kecup.

Kita sumpal telinga dengan licinnya lidah.

Biar di luar sana orang berperang. Malam ini kau dan aku menyerah pada bulu kuduk yang meremang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s