On Being Completely Alone

Tanpa terasa waktu berjalan sangat cepat. Sudah hampir setengah tahun saya benar-benar menikmati kesendirian. Dulu, setiap pulang kerja ada tempat yang menjadi tujuan untuk melepas lelah. Tapi kini, tak ada lagi yang perlu dicari di akhir hari yang panjang. Selepas pekerjaan tuntas, saya memacu kendaraan keluar kantor menuju satu tujuan pasti: rumah. Sesekali saya akan mampir ke kedai makanan untuk membungkus hidangan yang sudah terbayang di kepala sekian lama. Terkadang karena lapar, tapi lebih sering karena merasa perlu memberi hadiah pada diri sendiri setelah berhasil menuntaskan tumpukan kewajiban.

Terkadang, saya merasa “kering” sebab kini tak ada lagi orang yang bisa diajak berbagi tawa. Tidak ada lagi rekan yang bisa diajak bersenandung bersama saat kami mendengar lagu yang terputar di radio. Tidak ada lagi celoteh ngawur yang kadang jadi signature joke dan sumber olok-olokan. Saya tak lagi harus memesankan 2 es teh manis setiap makan bersama, pun tak perlu memesankan hidangan yang tak pedas demi kepentingannya. Dunia memang terasa berbeda. Selain pulsa dan baterai ponsel yang kini makin irit, semua hal bisa dijalani dengan cara saya tanpa harus mempertimbangkan pendapat orang lain.

Dari proses ini ternyata saya belajar ulang untuk menempatkan diri sendiri sebagai prioritas. Saya mulai kembali belanja banyak buku, membaca puisi yang terbit di koran hari Minggu, saya juga kembali mencomot jajanan favorit dari rak Indomaret dan Alfamart. Sesuatu yang memang saya inginkan. Bukan saya ambil karena memikirkan selera pasangan.

Merasa bebas? Jelas. Tapi rasa sendiri dan sepi juga jujur saja sering datang. Bagaimanapun, kehilangan dia seperti kehilangan sahabat yang bisa diajak bercerita tentang apa saja. Terlebih kini bolo dupak dan rencang sudah tersebar di berbagai kota demi meniti tangga kehidupannya masing-masing. Tapi, keadaan ini pula yang membuat saya mau tak mau harus belajar nyaman dengan diri sendiri. Jalan-jalan, belanja, sampai nonton seorang diri kini tak lagi aneh saya lakoni.

Saya merasa berubah. Sempat Ibu saya bilang, kini saya terasa lebih meninggikan tembok agar orang lain tak mengurusi urusan personal yang saya punya. Sempat menyangkal, tapi kini saya merasa itu ada benarnya. Kini saya memang lebih fokus pada apa yang saya mau. Apa yang saya inginkan. Berbeda dengan dulu, kini saya lebih memilih menutup telinga pada kata orang, kemudian benar-benar mengejar apa yang mau saya lakukan. Tak hanya itu. Hal yang hampir serupa juga terjadi pada bagaimana saya “mengurusi” kehidupan pribadi orang lain. Kini, sedekat apapun saya dengan seseorang — saya tak akan berusaha ikut campur urusan pribadinya. Selama tindakannya tak merugikan, saya hanya akan tutup mulut dan tetap berusaha menghargai.

Lebih baik atau burukkah perubahan ini? Orang-orang di sekeliling berhak punya pendapatnya sendiri. Ada yang bilang kini saya jadi lebih self-oriented ; namun ada pula yang justru merasa kini saya lebih tahu caranya memprioritaskan kebahagiaan pribadi. Apapun itu, saya yang sekarang sungguh-sungguh sendiri nampaknya sudah tak lagi percaya konsep “pasangan yang menggenapkan.”

21d9d971c6f0e45c696860d82c5f5df8

Barangkali kelak saya akan bertemu dia yang memang bisa membuat saya berhenti. Tapi, siapapun dia dan sedahsyat apapun ia membuat saya jatuh cinta, ia tak akan pernah bisa membuat saya utuh sebagai manusia. Saya-lah yang bertanggung jawab pada matangnya identitas saya sebagai pribadi.

Dengan atau tanpa pasangan, rasa sepi-canggung-pun upaya berdamai dengan diri sendiri akan terus saya lakoni. Dia yang datang selanjutnya seharusnya hanya memberi warna, bukannya diharapkan jadi pemberi jalan keluar bagi seluruh permasalahan yang ada.

Lagipula, itu pasangan apa tim ahli sih? Kok diminta solutif.

 

 

Yogyakarta, 2014. Setelah kekenyangan ngemil SkyWiz.

One thought on “On Being Completely Alone

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s