Ayah dan Anak yang Shalat Bersisian

Kembali dari Masjid Nurul Asri, tempat kami sekeluarga biasa shalat Tarawih setiap Selasa dan Sabtu. Kemarin malam secara ajaib saya bisa dapat tempat di shaf kedua. Barangkali karena cuaca sedang hujan, jadi jamaah banyak yang terlambat datang. Padahal selama ini hampir dipastikan kami sekeluarga yang datang selalu mendekati iqamah mendapat tempat di barisan luar.

Ceramah malam kemarin cukup panjang dan (bagi saya) membosankan. Penceramahnya agak bertele-tele dan banyak mengulang contoh. Tapi temanya menarik sih, tentang hamba yang tidak akan dilirik oleh Allah di hari akhir. Semua biasa-biasa saja hingga shalat tarawih masuk etape keduanya.

Sekilas mata saya menangkap ada sepasang ayah-anak di barisan terakhir shaf pria. Anak laki-laki itu sepertinya baru berumur 5 tahunan. Memakai peci putih dan setelan baju koko warna putih dengan motif garis vertikal hitam. Badannya tidak gemuk tapi gempal. Lucu. Ayahnya nampaknya baru berumur 35 tahunan. Beliau mengenakan peci cokelat, kemeja batik sutera dan celana kain berwarna senada. Mereka shalat bersisisan.

 

r34_20093011

 

Ayah berbaju batik itu merangkulkan tangannya di pinggang si anak lelaki. Menariknya mendekat agar shaf mereka rapat. Si anak pun menurut, ia mengikuti seluruh gerakan dengan runut. Untungnya malam itu surat yang dibaca pendek-pendek ya Nak, jadi kamu tidak lelah.

Memasuki etape shalat witir, si anak sempat enggan berdiri. Saat sang ayah sudah bangkit ia tetap duduk di tempat, malas melanjutkan shalat. Sang ayah tidak membiarkannya begitu saja. Ia mengetuk kepala bocah berpeci itu 3 kali. Seakan bilang kalau anaknya harus bangun karena mereka akan segera selesai sebentar lagi. Tanpa banyak perlawanan, lelaki kecil berbaju koko putih itu pun menurut. Ia bertahan hingga rakaat terakhir selesai dijalankan.

Iya, saya bisa cerita dengan runut berarti saya tidak khusuk.

Tapi hanya itulah yang bisa saya bayangkan akan terjadi di masa depan.Entah kapan. Kami akan bersama-sama mengajaknya tarawih. Mencari masjid yang nyaman dan ramah bagi anak-anak. Memilih tempat dimana surat pendeknya tak membuatnya berdiri terlalu lama. Kamu (yang entah siapa) akan mengetuk kepala anak kita saat dia malas-malasan melanjutkan rakaat. Kamu (yang entah bagaimana bertemunya) akan menegurnya ketika ia ribut dan mengganggu jamaah lainnya.

Selepas tarawih kami akan menghadiahi bocah kecil yang sudah bisa puasa dan ikut shalat 15 rakaat itu makanan kesukaannya. Hanya itulah yang ada di kepala. Sesampainya di rumah aku akan mengajaknya berdoa sebelum tidur. Mengulum senyum saat mendengarnya berterima kasih pada Tuhan dengan cara yang ia mau. Kamu (yang kuharap juga sependapat akan hal ini) dan aku akan menunaikan tugas untuk mengenalkannya pada versi Tuhan yang kita tahu, sebaik mungkin. Sembari terus membuka lapisan hatinya untuk dapat menerima kebenaran lain.

Semoga kamu (yang benar-benar kuminta bisa punya jalan pikiran sama) tidak menganggapku aneh karena tidak ingin membuat anak kita seragam dalam cara berdoa. Semoga kelak kita bisa sepakat bahwa dia hanya harus mencintai Tuhannya. Tapi bebas memilih jalan mana yang akan dilalui untuk mencapai-Nya. Ibarat buku, kita (yang kamu akan jadi pemimpinnya) hanya akan berperan sebagai pengantar saja.

Hanya itu yang mampu kubayangkan. Tak peduli betapa terkadang aku merindukannya, tapi aku belum cukup kuat untuk bisa mengenalkan Tuhanku pada anakku sendirian. Aku masih cukup egois untuk mencari dia yang seiman dan sepaham, tapi juga sok punya keinginan besar agar anakku bisa jadi lebih terbuka dan toleran. Hanya itu yang mampu aku bayangkan. Dan itulah yang kini jadi kekuatan. Ayah dan anak yang shalat bersisian.

 

(Maafkan tidak konsistennya pengunaan kata ganti dari saya ke aku. Saya hanya ingin menulis, enggan menyunting)

Jogja, 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s