Setelah Jadi Isi Roti Lapis Diantara Lenganmu

Beberapa malam lalu sepulang dari menonton Cahaya Dari Timur tiba-tiba aku menangis karena teringat kamu. Entah bagaimana film itu mengingatkanku padamu. Aku berpikir, bagaimana kehidupanmu. Siapa yang mengurus keperluan kecilmu, apakah kamu baik-baik saja. Dan ujungnya, aku hanya bisa berdoa agar Tuhan menjagamu.

Esoknya, entah bagaimana Dia kembali bercanda. Siang itu aku menjadi isi kue lapis di lenganmu. Siang itu, kita tuntaskan rindu. Sesaat aku bahagia. Namun aku sungguh tahu ini tidak baik bagi kita. Dan sebagai manusia aku masih terlalu lemah untuk tidak menyerah pada perasaan cinta. Yah, sebodoh apapun hal yang sudah lalu harus kuakui bahwa kau telah membuatku jatuh hati sedalam itu.

Malam ini, aku sholat tarawih di Masjid Deresan. Ada anak kecil bermuka chinese yang sangat lucu. Menggunakan rukuh bergambar Hello Kitty. Dibaliknya dia berkaus ungu dan memakai rok tutu. Barangkali jika kita bersama, anak kita akan tampak seperti itu. Jika di dunia ini tak ada dosa. Jika saja ini hanya urusan dua kepala. Seandainya cinta yang lebih besar bisa digadaikan untuk cinta pada manusia.

Tapi anak-anakmu kelak layak jadi jemaat gereja taat. Neneknya pemimpin sekolah Minggu. Tak mungkin mereka bisa kuajak belajar Iqra di TPA. Setoleran apapun kita, akan ada yang lebih sakit jika kau dan aku tetap bersama. Anak-anakku juga berhak belajar sholat. Mereka pantas dibesarkan oleh ayah yang mampu memimpin tiap rakaat. Aku menghargai Tuhanmu. Aku mencintaimu. Hanya, anak-anakku tak akan mungkin dibesarkan dengan caramu. Aku ingin anak-anakku mengenal Tuhanku lebih dulu dengan tuntas. Sebelum mereka cukup dewasa untuk memilih Tuhannya sendiri.

Aku pun tak tahu kenapa aku menulis ini. Aku hanya rindu. Sangat rindu. Hidup memang lebih tenang saat bisa kutemukan bahumu di akhir hari panjangku. Ketika bisa dengan ringan menyelipkan kepala di jarak antara bahu dan lenganmu. Tapi hidup membawa kita pada titik ini. Aku harus kuat. Dan kau juga pasti kuat. Kata-kata, “Kita pasti akan baik-baik saja” dan doa tak henti-henti jadi kekuatanku satu-satunya.

 

Sekarang aku khawatir harus beralasan apa nanti saat mataku terlihat bengkak waktu sahur?

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s