Hatiku Tak Lebih Sebuah Kursi Kayu Panjang

Sering-seringlah menyakitiku, Sayang.
Kau sudah lebih dari tahu
hatiku tak lebih sebuah kursi kayu panjang
melengkung di tengah
terlampau sering pantat asing dan berat menjamah.

Ia hanya akan protes
saat sudah benar-benar patah
berhenti punya guna.
tak berwujud lagi dimata manusia.

Selama masih bisa kau atur dudukmu
miring sedikit, geser kanan-kiri bergantian tiap detik
aku pasti masih kuat bertahan.
Dan kau, Sayang, sudah memperhitungkannya lebih dulu.

Kemari, coba kulihat kertas burammu
aku penasaran atas ekuasi handal
sampai kapan nyeri ini sanggup ditahan
hingga “Kraaak!”, dua ia terbelah
lalu kau beringsut pindah.

Jogja, 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s