Tenggara

Angin utara membawaku
pada lembah pemuas dahaga manusia
mereka yang tak pernah cukup hanya dengan dua.

Cawan air minum berjejak tiga bekas bibir
dua berpemulas, satu tanpa bekas
aku terbang rendah menangkap lirih hatinya.

Dalam teguk air tanpa perisa
samar tertinggal kata yang tak pernah menguap ke udara
seberapa cepat pun terhisap
setangkup merah minim kerut tak kunjung lekat.

Berat perutku menyangga beban
tengger jadi tujuan
dibawah, ia memutar arah mata angin
lelah jadi tenggara
bisakah kini setelah timur, ada ia lalu timur laut saja?
bila memang manusia tak bisa hidup dengan dua arah di hadap muka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s