Hari 3: Untuk Teman Tumbuhku

Yogyakarta, 5 Februari 2014

Untuk Teman Tumbuhku.

Barangkali malam ini kamu sedang menunggui Budhe di rumah sakit. Atau mungkin ini giliranmu menjaga rumah sendirian. Ah, tapi bukankah Ayi juga sedang sakit? Kalau kau di rumah, pasti ada Ayi yang menemanimu.

Dibandingkan dua surat sebelumnya, menulis surat untukmu terasa lebih ringan. Bisa jadi ini karena kita punya terlalu banyak kenangan untuk diceritakan. Kau dan aku tumbuh bersama. Saat sepupu-sepupu lainnya punya teman sebaya untuk bermain, kau yang dua tahun lebih muda dariku adalah teman bermain wanita satu-satunya. Ingatkah kamu, kebiasaan kita sepulang sekolah dulu? Kamu akan datang bersama Pakdhe, sementara aku diantar mobil jemputan. Bergegas kita lucuti seragam sekolah, menyisakan celana dan kaus dalam saja. Kemudian kita akan berbaring di satu tempat tidur dengan botol susu di tangan. Setelah itu, Simbah Putri akan menguncir rambut kita. Tepat di tengah ubun-ubun, berdiri tegak seperti pohon kelapa. Saat makan siang tiba, mulut kita penuh oleh suapan-suapan cepat Mbah Putri. Kau dan aku yang tak bisa menolak hanya membuka mulut lebar-lebar sembari berusaha mengunyah lebih cepat.

Tumbuh bersama denganmu membuatku ingat berbagai polah ajaibmu. Kamu punya kebiasaan-kebiasaan yang aneh. Pertama, kau suka ambil andil dalam pesta ulang tahun orang lain. Saat kue ulang tahun sudah dikeluarkan, kamu pasti akan maju. Ingin ikut meniup lilin. Aku masih ingat betapa sebal rasanya saat kau selalu ingin ikut meniup lilin di hari ulang tahunku. Tak bisakah kau membiarkanku merayakan ulang tahun dengan tenang sekali saja? Kebiasaan anehmu lainnya adalah gatal tangan. Saat bertamu kemanapun, kamu harus selalu membawa sesuatu untuk digenggam pulang. Mulai dari kaleng roti, kertas, hingga potongan daun. Apapun, asal ada yang kau bawa pulang. Rumah Simbah sering kehilangan kaleng Khong Guan gara-gara hobi anehmu ini.

Sekarang kita sudah jadi generasi kedua di keluarga besar. Artinya, kita-kita inilah yang harus rela jadi pasukan cuci piring saat pertemuan keluarga. Kita juga yang harus siap jadi garda depan saat perhelatan tiba. Di keluarga ini, kita belajar banyak hal yang tidak semua anak gadis bisa dapat. Mulai dari mengatur uang ulang tahun, merangkai bunga melati untuk pemakaman, menghilangkan lemak di piring bekas tengkleng, hingga mengurus tetek bengek pernikahan. Walau repot, tapi kita pantas bersyukur. Aku yakin semua itu akan membuat anak-anak wanita dari keluarga ini jadi calon pendamping yang terampil.

Semoga, kita selalu tumbuh jadi wanita yang membawa nama baik keluarga. Semoga cepat lahir cucu-cucu wanita lain yang bisa menggantikan tugas mencuci piring. Selamat menjalani setapak ke gerbang kedewasaanmu, teman tumbuhku. Terima kasih untuk seluruh pendampingan dan persaudaraan yang lekat. Aku mencintaimu.

 

One thought on “Hari 3: Untuk Teman Tumbuhku

  1. haha hal itu yang sungguh kau ingat mon, mav yaaa kalau sempat membuat mu sebal …
    untuk kebiasaan ajaib itu nggak kebawa sampai sekarang :))
    semoga kenangan masa kecil ini akan selalu ada sampai kapanpu nanti..
    love you to mon🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s