Hari 1: Dear G

Yogyakarta, 3 Februari 2014

Hey, G. Apa kabar? Lama kita tidak berbincang dalam. Aku masih ingat nyamannya menumpahkan perasaan padaMu. Betapa kuat rasanya saat kupercayakan tapak langkah di kompasMu. Beberapa pekan kedekatan itu bertahan, kemudian aku menjauh seperti tentara kalah perang. Kini aku lupa cara memulai percakapan dari hati ke hati denganMu.

Bagaimana rasanya jadi yang terus-terusan mencintai kemudian disakiti? Bagaimana rasanya jadi pihak yang tak pernah menginginkan balasan, hanya cukup memberi? Bagaimana rasanya berdamai dengan pengkhianatan dan sakit hati?

Dua tahun belakangan kita sedang dalam masa tenggang. Tak pernah saling melepaskan, tapi juga penuh sekat. Barangkali aku yang berjingkat menjauhiMu. Barangkali, Kamu terkadang tak nyaman melihat inkonsistensiku. Atau mungkin, kita memang butuh berjarak untuk tahu apakah Kau dan aku memang benar-benar tidak bisa hidup tanpa jadi satu. Kuharap begitu. Pikiran tentang jarak itu menentramkanku. Paling tidak, aku tahu bahwa spasi diantara kita adalah kesementaraan yang diciptakan.

Sakitkah hatiMu belakangan? Lelahkah Kamu melihat aku yang begitu naif membaca sandi yang Kau kirimkan? Alih-alih memahami maksudnya, justru berputar di labirin gelap yang sama. Gemaskah diriMu menghadapiku yang hangat-hangat tai ayam? Seperti pecinta paling pengecut, aku hanya bisa bilang, “Tolong bersabarlah. Sebentar saja. Aku akan berusaha untuk tidak menyakitimu lagi”. Lalu Kau, pemberi cinta sempurna kembali mempercayaiku. Beberapa pekan kemudian, Kau kembali kukhianati. Kuucapkan janji pengecut itu lagi, dengan mudahnya Kau percaya lagi, Kau beri kesempatan lagi — tak ayal aku mengecewakanmu kesekian kali.

Maafkan aku yang telah mengecewakanMu dan mereka yang Kau percaya jadi tangan kananMu. Untuk ketiga kalinya, kumohon kemurahan hatiMu. Aku sedang berusaha melepaskan pemberat itu satu persatu. G, ajari aku cara mengasihi tanpa tali dan jangkar yang tak perlu. Aku ingin kembali utuh, hidup, penuh kasih lembut tanpa banyak harap seperti dulu.

Yang sesungguhnya tak pernah ingin jauh,

Aku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s