Setelah Hujan Reda

Dermaga di ujung selatan pulau kecil itu sepi. Verdin duduk menghitung bulir-bulir yang mulai sulit diurutkan sebanyak jumlah jari. Hujan lagi. Verdin bergegas lari ke motor, mengambil jas hujan sebelum nanti ia terjebak kuyup. Dipasangnya jas hujan itu tergesa, sembari duduk dan menutup mata. Kali ini ia tak bisa kemana-mana.

Sekolah Dasar Verdin, 1997

“Aaanakk aneeeeh…aaaanaaak aneeeeh!”, siang itu terdengar sorai seragam anak-anak berpakaian merah putih di ruang kelas 2. Bu Guru sudah beberapa menit lalu kembali ke ruang guru. Pelajaran telah usai. Anak-anak berkerumun sambil terus mengolok. Teriakan itu mengarah pada anak yang membatu bagai patung di tengah kelas. Tak bisa menggerakkan badannya sama sekali. Beberapa anak mendekati , menggoyang dan berusaha menggerakkannya. Verdin bergeming. Mukanya datar, seluruh tubuhnya kaku dan keras. Musim kemarau panjang yang melanda desa di ujung selatan Jawa setahun belakangan berakhir siang itu. Sejak hari pertama masuk sekolah, baru kali ini hujan turun. Baru kali itu juga, Verdin diam dan tak bisa kemana-mana. Hujan sudah tiba.

Sebagai manusia, Verdin diciptakan seperti robot. Terkadang ia menjuluki dirinya manusia mekanis. Penggeraknya tak lain hujan. Setiap hujan datang, semakin deras turunnya maka akan semakin membatu ia. Verdin tidak pernah tahu kenapa seluruh sistem tubuhnya anti hujan. Ia pernah sekali bertanya ke ibunya, setelah kesal ia harus membatu karena hujan turun pada kencan pertamanya. Ibunya hanya mengelus kepala Verdin lembut dan berkata, “Dulu kamu diciptakan dari air mata, Nak. Hujan adalah air mata bumi terbesar yang ia punya. Tuhan tak ingin kamu merasakan air mata lagi. Cukup bagimu, Nak”. Verdin kesal, merasa tak cukup dijawab. Ia mendiamkan ibunya. Dua minggu kemudian, ibunya meninggal. Ditemukan telentang di atas kasur sebuah motel murah. Verdin piatu karena pemuda haus nafsu yang tak mampu membayar menikam induknya. Hujan turun saat pemakaman. Verdin kini kerap lupa ibunya sudah meninggal. Ia duduk diam di kamar waktu tanah liang lahat diturunkan. Verdin tak punya kenangan.

Verdin pernah marah pada hujan. Menyalahkannya atas semua kesialan yang terjadi dalam hidupnya. Ia tak bisa sekolah dengan normal, tak pernah bisa berkencan tanpa khawatir membatu di tengah jalan, Verdin tak bisa mendapat pekerjaan. Hujan merenggut semuanya. Tapi kini ia lelah. Ia tidak lagi ingin melawan. Kali ini Verdin memilih berpasrah.

Hujan turun makin deras. Nafas Verdin terasa berat. Ujung-ujung jarinya mulai kaku. Perlahan, ia kehilangan rasa atas tubuhnya sendiri. Awalnya kebas. Lalu hilang. Verdin kini merasa seperti hantu. Punya pikiran tanpa tubuh yang bisa dikendalikan. Sebelum kemampuan seluruh indranya hilang, samar-samar ia mendengar dering ponsel. Suara gitar amatir memainkan nada “tik-tik-tik bunyi hujan”. Nada khusus untuk suaminya. Pawang hujan yang kemungkinan besar menelepon untuk mengabarkan pekerjaannya gagal. Hujan datang, ia tak membawa pulang uang.

Verdin melepaskan badannya. Ia kini hanya makhluk kecil tanpa raga. Hidupnya berjeda. Bab baru akan dijelangnya,

nanti,

setelah hujan reda.

3 thoughts on “Setelah Hujan Reda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s