Liciknya Kita

Suatu hari kamu tidak akan keberatan kuajak naik kereta ke Pulau Dewata. Berbekal keril dan makanan kering seadanya. Hari itu kamu tidak takut keringat, tidak khawatir lelah. Walau punggung dan pantat pegal terhajar dudukan yang terlampau lurus, jok yang terlalu tipis. Kita akan tertawa melihat betapa kakunya kakimu terjepit diantara kursi yang sempit. Dan kamu akan bahagia.

Suatu hari kamu akan mengerti cara bicaraku yang aneh. Bahwa kadang tidak berarti iya ; tidak sakit artinya sakit sekali ; terserah setara dengan dengar mauku. Kita akan berbicara banyak hal yang sama. Menggumamkan lagu yang kita gemari. Sesekali bertukar buku, barangkali. Dan kamu akan bahagia.

Suatu hari, kita akan duduk berdampingan dengan nyaman. Merasa saling tergenapkan. Tanpa alasan, tanpa banyak usaha. Aku membuatmu cukup, kau menghormatiku sepantasnya. Kita saling menghargai, sebab tak ada alasan masuk akal untuk saling menikam pisau dalam sunyi. Akan ada puisi manis dan pesan singkat spontan yang rawan membuat kita sakit gigi. Alih-alih tak paham, kamu akan bahagia.

Suatu hari, setelah jalan panjang menahan ibu jari untuk mengirim pesan bertulis rindu. Setelah berulang kali meyakinkan diri sendiri bahwa ini yang terbaik. Setelah ketakutan menghadapi dunia seorang diri itu hilang. Kita akan tertawa, mengingat dulu kita pernah mencoba bahagia bersama. Padahal bahagia tak bisa dibuat, ia muncul begitu saja. Dan saat aku menempuh perjalanan panjang bersamamu, kau duduk manis dijamu harum masakanku. Kita akan bahagia. Dengan aku dan kamu yang bukan kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s