LangSal

Jogjakarta, 1993. Sebelum Dzuhur. 

Taman kanak-kanak itu riuh dengan derit kursi anak-anak yang tidak sabar segera menyantap camilan siang. Bu Umi, pengampu kelas A1 berusaha bersuara lebih keras, “Ayo, Nak…duduk dulu kita doa ya.” Kelas masih riuh, Bu Umi memilih diam agar muridnya tahu bahwa ia menunggu. Butuh waktu 5 menit sampai anak-anak itu kembali duduk manis. “Baik anak-anak, ayo kita berdoa ya sekarang”, ajaknya. “Bismillaaahhhh-hirrohmaa-nirrohim”, pimpin Bu Umi diikuti intonasi suka-suka dari anak-anak itu. “Allahumma bariq lana fima rojaq tana. Wa kina ‘adza bannar. Aaaammiiinnnnn”, suara Amin melantun panjang menutup doa sebelum makan. Tangan-tangan kecil itu kini sibuk membuka kotak makanan mereka masing-masing. Tiba-tiba, ujung mata Bu Umi menangkap sesuatu yang janggal. Murid kecil pendiamnya yang duduk di kursi nomor 3 dari kanan tampak tak segera menyantap bekalnya. Dengan mata terpejam, tangannya luwes menyentuh dahi – dada – bahu kiri dan kanan. Bu Umi keheranan. Gerakan itu tidak pernah diajarkannya, darimana anak ini belajar?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s