Terlampau Letih dan Terlalu Batuk Untuk Bercinta

(demi malam saat kita berbagi selimut berdua, terlampau letih dan terlalu batuk untuk bercinta)

Aku merengek manja minta dipeluk semalaman. Satu kali itu saja, kau mengiyakan tanpa banyak suara. Sorongan pipi kanan, kiri dan dahimu tamat terkecup pelan. Kukhidmati gulir vena di dadamu, kau hapalkan garis bibirku. Aku sendu tapi bahagia, malam itu.

Cuddle in Bed

Sayang, sudah berapa banyak nama panggilan yang kusematkan padamu? Sudah berapa banyak kau hapal kecerobohanku? Sudah cukup dalamkah kita saling tahu riak hati tanpa perlu bertemu? Rasa-rasanya sudah enggan kucerna pilu bersamamu. Hatiku tahu, pun mungkin kau juga begitu : Kita lebih baik begini. Tetap bersama, tetap ada. Tanpa jaring apa-apa.

Aku tetap wanita, mudah tersulut emosi dan tak pandai menahan air mata. Sempat seucap kata pergi kembali meluncur ke udara. Kau bilang tak ingin aku tiada. Bibirku mengoceh bilang ia perlu ada. Namun hatiku, sesungguhnya, tak ingin aroma nafasmu hilang dari udara. Oh Tuhan, berapa banyak kau ciptakan bentuk cinta?

Sayang, jika cinta memang merelakan yang dikasihi mendapat perhatian dan kasih sebaik-baiknya ; maka kuangkat topi untuk semua novel dan film picisan di luar sana. Dulu kucibir mereka, namun kini aku tahu bagaimana rasanya. Aku tak akan keberatan saat tahu kau menyandingnya yang menangkupkan tangan pada langit yang sama. Betapa mudah kulepas kekhawatiran kecilku soal kebersihan kamarmu, perkara kenyangnya perutmu — saat kau dapat wanita yang bijak mengurusmu. Kamu ada, bersama wanita yang tepat, itu cukup bagiku. Sedihkah aku? Ya, tentu saja. Tapi cintaku padamu tak boleh melebihi cintaku padaNya, bukan? Ini satu-satunya jalan mendamaikan gejolak hati tak berkesudahan.

Hingga detik ini, tak henti kubawa kita dalam bait doa. Agar jalin ini tetap erat, tanpa sakit terasa. Tuhan baik, Tuhan mu tahu, Tuhan ku pasti mengerti. Mereka sedang mengatur jalan terindah bagi dua hambanya yang tak bisa berdampingan, namun bukan berarti harus saling meninggalkan.

(pagi berikutnya, mataku bengkak. Semoga ikhlas juga turut membengkak) 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s