Wejangan DX

Malam ini sepulang dari agenda yang mulai rutin untuk berkunjung ke Kedai Lidah Ibu, saya membelokkan setir ke Monalissa. Sudah beberapa hari lidah ini tergoda untuk merasakan burger asli Jogja itu. Jalanan mulai sepi, malam Minggu kali ini terasa nyaman. Tidak ada salahnya pulang sedikit larut, pikir saya. Walau sudah cukup malam, kedai burger ndeso itu masih ramai saja. Enggan parkir paralel, saya memilih parkir di seberang jalan.

Kejutan datang saat dua kotak burger sudah ditangan dan siap untuk dibawa pulang. Mobil saya tiba-tiba menolak dinyalakan. Penanda aki dan peringatan mesinnya menyala. Barangkali saya lupa mematikan tombol AC. Corolla DX merah tua ini sukses mengerjai saya. Sedikit bersungut, saya terus mencoba memutar tuas kuncinya. Berharap ia sedikit bersahabat lalu hidup begitu saja. Sayang, keberuntungan tidak pernah membersamai saya jika berhubungan dengan kendaraan. Biasanya dalam keadaan seperti itu saya akan menelepon Papa. Tapi malam ini kedua orang tua saya sedang tidak di Jogja. Sempat terpikir untuk memutar nomor telepon pria yang baru saja bekerja bersama, namun urung saya lakukan. Saya coba hubungi nomor Jendra, ponselnya tidak aktif. Pamungkasnya Mas Priyo lah yang terpaksa saya hubungi. Ia adalah orang yang dengan loyal mengantar dan merawat kendaraan keluarga kami. Menurutnya, saya memang lalai mematikan tombol AC. Mobil harus didorong jika saya ingin tetap pulang ke rumah.

Rintik-rintik hujan yang masih melekat di jendela bisa jadi membuat suasana sendu. Tadi tiba-tiba saja saya merasa kosong. Hati ini rindu pada sosok pria yang bisa diandalkan. Ia, yang bisa selalu saya hubungi saat bermasalah dengan kendaraan. Atau sesederhana jadi tempat merajuk saat pulang kemalaman. Angkringan di dekat Bank Mandiri jadi tempat memberanikan diri untuk meminta pertolongan. Beruntung, ada tiga mas-mas baik yang bersedia membantu. Dorong dua menit, mesin sudah menyala. Takut si DX kembali mogok, saya bergegas turun untuk sekedar mengucap terima kasih lalu tancap gas pulang.

Tidak ada hal yang kebetulan. Saya yakin akan hal ini. Semesta ingin saya belajar sesuatu malam ini, lewat perantara kendaraan yang macet. Dalam perjalanan pulang, saya berpikir: “Kalau aku mau pria yang selalu sedia, sudah cukup sediakah aku untuk orang-orang terdekatku?”. Ah, betapa saya masih sangat jauh dari kata sedia. Saya masih sering menempatkan pekerjaan dan kepentingan pribadi diatas urusan keluarga. Terkadang saya memilih menyendiri dibanding menghabiskan waktu bersama kawan. Padahal barangkali keberadaan dan tepukan lembut di bahu bisa meringankan beban orang-orang yang saya sayang. Tuhan ingin mengingatkan, pasangan yang baik selalu datang dari upaya yang sepadan. Jika saya kagum melihat Papa yang selalu menomor satukan keluarga, berarti saya harus bisa setangguh dan segigih Mama dalam mendukung suaminya. Jika saya ingin pria yang cakap dan ikhlas, saya juga harus belajar keterampilan dasar wanita lalu berupaya mencintai seikhlas Khadijah dan Ali. Jadilah wanita sebaik-baiknya, baru kau boleh mengharap dapat pria yang tak kalah baiknya. Pantaskan dirimu dulu, baru boleh banyak suara.

Perempuan yang baik, untuk lelaki yang baik pula. Hukum Tuhan tak mungkin diamandemen. Ia mutlak jalannya. Saya tahu, semua yang sedang saya jalani adalah jalan halus tempat Tuhan mampir bicara. Ia mau saya belajar mencintai dengan ihlas. Menomor satukan kebutuhan orang yang saya kasihi tanpa mengharap apapun. Ia mau saya belajar mencintai bukan untuk mengharap balasan manusia, tapi mencintai demi keberkahan dariNya. Ia sedang mengingatkan bahwa restu keluarga, keharmonisan bersama mereka — adalah pintu gerbang cinta sebenarnya. Mata saya terasa gatal, air menggenang di dua kelopaknya. Saat saya merasa dijauhkan dan diuji oleh hal-hal yang saya cintai, inilah jalan Tuhan untuk menunjukkan cintaNya. Saat Ia cemburu, Ia tak pernah memberondong dengan omelan. Justru membuka lengan penuh kenyamanan. Adakah contoh yang lebih baik untuk dijadikan teladan?

Saat merasa sakit, berbuat baiklah. Jangan sakiti orang lain.Waktu kau mencintai dan merasa dinafikan, berikan pendampingan semampu kau bisa lakukan. Manusia bisa tidak peka, namun Tuhan tak pernah menutup mata dan telinga. Ketulusan akan menyembuhkan dirimu sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s