Dalam Perubahan

Hei. Kamu yang bergerak maju-mundur. Diwajahmu kerap kutangkap kecemasan. Ada kebimbangan dalam sinar matamu. Aku mengerti, iya aku paham. Kini duduklah. Kita berbincang. Lepaskan, jujurlah.

Hidup membawamu pada titik ini. Kau harus berubah besar-besaran, merenovasi dirimu habis-habisan. Perbaiki atau kalah. Kamu kerap menyesali perbuatanmu, tak habis pikir pada berbagai kenekatan yang kau lakukan. Dalam beberapa kesempatan, kau mempertanyakan siapa sebenarnya dirimu. Bagaimana mungkin kamu yang hidup sebagai kamu selama puluhan tahun tak mengenal dirimu sendiri? Walau sekarang kamu sudah tak kehilangan pegangan, tapi tanganmu terus menggapai dari satu ranting ke ranting yang lain. Belum kau temukan dahan terkuat untuk menetap. Lelahkah lenganmu?

Kamu yang masih sering menyalahkan diri. Apakah kamu kerap terpekur membayangkan masa lalu? Kau masih bergantung padanya. Bagimu, tidak masalah meringkuk didalamnya. Selama itu membuatmu kuat. Aku mengerti, kamu bukan orang yang mudah berlari. Kamu jatuh dengan mudah, tapi sedari dulu kau selalu sulit pergi. Lihat dirimu. Kau sudah lebih gemuk. Kini penampilanmu juga lebih menyenangkan. Kau punya Ia untuk terus berbincang. Saat kau kembali menemuinya, bukankah kau sedang menyakiti dirimu sendiri? Kepala yang awalnya sudah bisa kau angkat tinggi kini menunduk lagi. Menjumpainya membuatmu terus bercermin pada kaca pembanding diri. Hatimu dipenuhi pertanyaan dan kegelisahan: “Apakah aku memang begini? Tak cukupkah aku menempati satu hati? Sikap inikah yang membuatku lebih sering melepas pergi?”. Aku menyayangimu. Paling tidak, saat kau tergoda untuk melukai hatimu lagi, ingatlah aku.

Maafkanlah dirimu sendiri. Aku bukan pembaca pikiran. Tapi dari gerak tubuhmu aku mengerti kau butuh sandaran. Kamu hanya ingin pulang di petang hari, lelah dan tahu kemana kau harus pergi. Hatimu tak mau lagi dipaksa bekerja keras. Kamu ingin diyakinkan, bahwa kamu saja sudah cukup. Sabarlah, sebentar lagi. Bukankah kamu sudah terbiasa berjuang untuk memperoleh segala yang kau dapatkan? Sandaran hidupmu akan datang, saat upaya perbaikan diri sudah dituntaskan. Tuhan tahu kau orang yang kuat hingga ia tak rela melihatmu bermalas-malasan.

Sekarang berdirilah. Paksakan dirimu terus berjalan. Lorong perubahan memang pengap dan tidak nyaman. Tapi kumohon, bersabarlah. Doa banyak-banyak. Doa menguatkanmu. Doamu, mengasihinya. Doa, jadi pemberat kakimu meluncur dalam ekstase perubahan. Aku menantimu di ujung lorong ini. Ah, sudah terbayang betapa rupawan dirimu nanti.

One thought on “Dalam Perubahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s