Seharusnya, Ini Jadi Rabu Biasa Saja

Hari ini seharusnya jadi hari Rabu yang biasa saja. Bangun pagi, berbenah, menyempatkan diri menyelesaikan editan ToR untuk Kampung Halaman, kemudian mengirim pesan ke calon komunitas yang akan ditelepon esok hari. Jam dua belas siang, saya bertolak ke kampus.

Hari ini seharusnya jadi Rabu yang biasa saja. Sepulang kelas, saya menghampiri Aldo yang menjadi pembawa buku titipan dari Kris dan Octa. Saya sudah berpikir, selepas pulang akan mampir ke Toko Merah. Belanja stabilo dan post-it notes. Namun, Tuhan menginginkan hari Rabu ini menjadi luar biasa. Di depan FISIPOL, ada dosen pembimbing skripsi saya. Dia melihat saya, lalu mengajak saya menemuinya untuk bimbingan. “Syukurlah”, pikir saya. Sebab Beliau amat susah ditemui. Mumpung lah.

Rabu ini memang tidak jadi hari yang biasa-biasa saja. Beliau kemudian meminta saya bercerita. Apa yang saya tulis. Sedikit gugup karena kurang persiapan, saya ceritakan apa yang saya ingat. Hampir 30 menit berlalu. Beliau mengejar saya untuk menjelaskan sebuah konsep. Konsep itu memang konsep yang saya sendiri belum yakin apakah tepat atau tidak digunakan. Keringat mulai mengucur di balik cardigan warna cokelat yang saya gunakan. Pertanyaan lain kembali terlontar. Jawaban gugup lain kembali terlontar.

Rabu kali ini memang tidak biasa.

Singkat cerita, Beliau mengungkapkan apa yang beliau pikirkan. Saya, diam. Entah tidak terima, entah membenarkan, entah ingin menoyor diri sendiri karena tidak bisa menjawab dengan tenang. Ya, tulisan saya dianggap menjiplak tulisan orang lain. Saya diam. Dalam kepala saya terulang proses menulis yang panjang. Beliau menyarankan agar saya mengulang seluruh prosesnya dari awal. Tidak lama, beliau harus pergi untuk menghadiri rapat. Saya keluar dari ruangannya. Badan ringan. Kepala ringan. Saya memutuskan menelepon Mama.

Mama ternyata sudah dalam perjalanan pulang ke rumah. Baiklah, saya harus segera pulang. Jam 3 sore, pada Rabu yang tidak biasa, terjebak macet di Jalan Gejayan bisa membuat saya gelap mata. Alhasil saya memilih mblusuk selokan. Saya harus cepat bertemu orang. Saya butuh rumah. Di rumah, saya menunggu Mama di kamar beliau. Rasanya seperti anak SD yang menunggu ibunya untuk mengadu. Tapi saat itu, saya memang butuh makhluk hidup lain untuk bercerita. Mama masuk kamar. Saya memeluknya dari belakang, mimbik-mimbik. Tak lama kemudian, Papa datang. Pembicaraan galau terjadi tanpa sengaja. Sesorean saya habiskan di rumah. Makan mie instan, menangis, mendengar wejangan Papa tentang  dosen pembimbingnya yang dulu. Mengambil kekuatan dari orang-orang tersayang. Menjelang Maghrib, saya memutuskan mengirim pesan singkat ke Gery. Dia adalah orang terdekat dalam proses penyelesaian studi ini. Dalam pesan singkat itu, saya bercerita soal apa yang mungkin saya hadapi. Pinta saya, ia berkenan mendoakan untuk semangat dan kekuatan. Tiga huruf saja jawabnya. Tapi semoga doa-doa kami terjalin, mendukung diatas kepala.

Hidup memang harus diperjuangkan. Ini adalah tantangan. Saya janji hanya akan sedih sampai hari ini berakhir. Jumat atau Senin, saya harus menghadap dosen pembimbing saya lagi. Memastikan nasib. Tulisan ini, dari awal saya niatkan sebagai hal yang akan membawa kemanfaatan. Bila tidak disini, maka Tuhan ingin saya melakukan kemanfaatan di hal lain.

Tuhan, bila saya melakukan kesalahan mohon engkau tunjukkan. Dan maafkan, ampuni Tuhan.

Bila ada kebenaran yang belum terbuka, mohon bukakan.

Lembutkan hati, Tuhan.

Kuatkan niat.

Hamba janji jadi hambaMu yang tidak mudah menyerah.

Dan ya, Rabu ini memang bukan Rabu yang biasa-biasa saja.

2 thoughts on “Seharusnya, Ini Jadi Rabu Biasa Saja

  1. monik, ini mifta.
    Aku blog walking dan nemu blogmu. semangat mon. k
    alau prosesnya saja sudah luar biasa insyaalloh hasilnya akan berbeda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s