Perjalanan (Bukan) Kapsul Amnesia

Kamu merengut sebal, kakimu pegal-pegal. Otot betismu kaku sulit digerakkan. Warna telapak tangan dan lenganmu kini tak lagi seragam. Belum lagi bahumu, ah betapa ia telah dipaksa bekerja keras memanggul beban setengah lemari baju. Dan kamu masih juga belum lupa.

Kawan-kawanmu bilang selama ini kamu melarikan diri. Kamu terlalu takut berdiam diri kemudian dirajam sakit. Kamu hanya enggan menghabiskan waktu bergelung di rumah, meratapi keadaan lalu menangis. Dunia bergerak maju. Lingkunganmu berevolusi, tidak ada tempat bagi romantisme picisan. Maka kamu memaksa dirimu untuk bangkit, mengepak barang, lalu berjalan tanpa tujuan.

Di titik singgah ini, akhirnya kamu dihantam kesadaran gigantis. Perjalanan tak akan pernah membuatmu lupa.

Tengok betapa pejalnya otot kakimu sekarang.
Begitulah perjalanan memperlakukanmu. Ia hanya akan membuatmu mampu berdiri lebih lama. Tangguh melangkah lebih panjang. Ia bukan sarana pencipta amnesia bagi telapak kaki yang sudah hapal rute ke arah hati yang sama.
Perjalanan mempertemukanmu dengan orang-orang baru. Persaudaraan yang tercipta di alam memang melekatkan. Sesungguhnya perjalanan sedang mengingatkanmu, kelak kau akan bertemu orang baru dan menjadi nyaman tanpa alasan. Hingga hari dimana kalian berpisah, terkadang alasan tidak dibutuhkan.
Pertemuan dan rentetan perpisahan adalah keniscyaan.
Perjalanan mengajarkanmu rasa asing. Terkadang kau perlu terasing dengan dirimu sendiri, sebelum kembali menemukan sebenar-benar bentukmu. Tak jarang pula, kau perlu menjadi asing bagi orang yang dulu sedekat hembus nafasmu. Demi sebuah kesadaran murni, bahwa kau tetap perlu bernafas sendiri.
Perjalanan menyadarkanmu akan arti bantuan. Dirimu punya titik lemah tak terbantahkan. Dulu mungkin kau malu minta dipijat, enggan berbagi selembar tisu untuk menyusut keringat. Lewat berjalan, kau tahu bahwa tak ada yang salah dengan mengakui sebuah kelemahan. Hatimu bukan tisu sekali pakai yang bisa kau remas lalu kau buang setiap kali ia hampir terderak patah. Jantungmu juga akan meledak bila kau paksa ia terus berdetak dalam ritme langkah yang tak pernah melambat. Saat tak mampu lagi berjalan, akuilah, teriakkan “BREAK!” pada rekan seperjalananmu. Mengakui kelemahan, berdamai dengannya, akan menguatkanmu kemudian.
Perjalanan, mengajarkanmu hal-hal itu. Masihkah kau harus menyalahkannya atas kata “lupa” yang tak kunjung tiba?

Ingatlah, sekarang kau punya kaki yang mampu melangkah lebih panjang. Lebih lama. Mulailah menapaki setapak impianmu lagi dari sana.
Ingatlah, sekumpulan orang asing yang menyayangimu. Mereka yang bahkan hapal suara kentutmu. Ia yang asing, dengan hati dan niat yang baik, akan bertransformasi menjadi lekat.
Ingatlah, bahwa kadang kelemahan ada untuk diakui. Untuk diresapi, diikhlaskan. Pejalan yang melulu terlihat tangguh, sesungguhnya paling banjir peluh. Staminanya akan luluh.

Perjalanan, tak akan pernah membuatmu lupa. Proses melupakan tak melulu sejalan dengan banyaknya langkah kaki. Tak perlu melawan, hapalkan rasa sakitnya, ikhlaskan saja, doakan. Bukankah perjalanan telah mengajarkanmu banyak hal?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s