Selamat Tinggal, Resolusi

Semakin dewasa, resolusi kemudian berubah bentuk menjadi daftar hal yang harus dilakukan. Mungkin sejatinya menjadi dewasa linier dengan tidak hanya sekedar jadi pemimpi. Melainkan pencapai. Maka, kini saatnya bertanya: “Apa yang harus dilakukan?“; bukan lagi sekedar “Apa yang kamu inginkan?”.

2013

Tahun 2012 mengajari saya banyak hal. Terutama soal kejujuran, keluarga, hati, perkawanan, dan perubahan hidup. Tahun ini, dunia berubah 180 derajat. Hidup memang seperti roda. Tiga ratus enam puluh empat hari yang lalu, roda itu tidak pernah beranjak dari lintasan terbawahnya. “Tuhan sedang sayang pada saya. Akan ada rencana indah selanjutnya.” — Dua kalimat itu yang jadi penyemangat setiap malas menulis, pergi ke Kampung, jadi pengingat saat enggan bangun dan ingin tidur saja seharian.

Namun di lintasan terbawahnya ini, Tuhan masih mengijinkan saya menghela nafas. Memberikan waktu beristirahat untuk sekedar menyusut keringat. Lagi-lagi Ia membuktikan janjinya, Dia-lah yang tahu batas saya. Saat dirasa terlalu berat, Ia melonggarkan sedikit ujianNya. Dia paham saya butuh berjalan-jalan kecil, meluruskan kaki. Berkah memang selalu terletak dibalik kesusahan. Semua kelegaan, tawa kesenangan, dan ucap syukur atas kemudahan saya lewati bersama keluarga dan kawan-kawan terdekat. Lewat jalan ini pula, Tuhan mengingatkan betapa saya harus bersyukur memiliki keluarga dan sahabat yang amat baik. Mereka menerima saya apa adanya. Mencari saya saat saya menarik diri. Membantu, tanpa menggurui. Mereka tidak pernah meninggalkan. Justru menguatkan. Pemaaf. Menerima alasan perbuatan yang tak masuk akal. Tetap mencintai, meski saya sedang brengsek-brengseknya.

Lalu, Nendra Primonik: “Apa yang harus kamu lakukan tahun depan?”.

Pertama, saya harus lulus. Sudah terlalu lama saya melarikan diri dari realita kampus. Apapun alasan dibaliknya, ini adalah kewajiban yang harus saya tunaikan. Dituntaskan. Lagi-lagi, Tuhan mengingatkan saya dengan amat halus. Sebelum tahun ini berganti. Lewat mulut kedua orang tua malam lalu. Melalui kelapangan hati mereka, dukungan yang tak putus-putusnya. Meski gelar tak akan sebanding dengan pengorbanan yang sudah dilakukan, paling tidak saya harus jadi anak yang tahu diri.

Keterbukaan. Saya harus jadi pribadi yang lebih terbuka. Kebiasaan memendam dan menyelesaikan semua masalah sendirian terbukti membuat saya kehilangan kendali diri.

Tahun 2013, saya harus kembali berkomitmen. Baik dalam pekerjaan, pendidikan, atau hubungan personal. Saya harus memutuskan akan kerja apa, dimana, atau lanjut sekolah. Sudah saatnya pula saya berkomitmen dengan calon pasangan hidup. Di tahun ini, semoga Tuhan membuka jalan untuk menikah. Niat baik, Tuhan baik, pasti ada jalan baik.

Pamungkasnya, tahun ini saya harus belajar lagi untuk jadi hamba Tuhan. Benar-benar memperbaiki diri. Cukuplah sudah waktu pencarian, waktu mempertanyakan. Jawabannya sudah terpampang di depan mata saya. Dan hanya manusia bodoh yang pura-pura tidak mengetahui kebenaran didepan hidungnya sendiri. Tuhan sudah cukup baik hati membukakan lembar putih baru. Kalau Tuhan tidak sayang, maka akan dibiarkanNya saya bertahan di halaman yang sudah penuh coretan.

Saya bersyukur, sudah jatuh tahun ini. Sebab setelah mencapai titik terbawah, tak ada jalan lain lagi. Selain kembali mendaki.

*Terima kasih Bapak Agus, Bu Nelly, Jendra, Tya, Edo, Eros, Sasya, Ogik, Hafidh, Damas, Kinkin, Kak Rise, Megu, Kak Ocha, Suke, Ayuk, Inyong, Gery, Aldo, Iky, Devi, Arin, Tasya, Yoha, Octa, Renie serta sahabat-sahabat baru yang bertemu di alam; telah sabar membersamai saya tahun ini. Terima kasih, untuk waktu dan dukungan yang tak putus-putus. Saya mencintai kalian. 

4 thoughts on “Selamat Tinggal, Resolusi

  1. waaah ada namaku di sini🙂 terimakasih jg ya mon buat dukunganmu selama tahun 2012.. tanpamu aku hampa.. *halaaah* semoga tahun 2013 kita bisa mencapai apa yg kita inginkan. Amiiin🙂 *peluuuk*

  2. mungkin mendaki kembali akan menjadi perjalanan yang berat. tapi, bukankah monik sudah mengalaminya sendiri di alam, bahwa mendaki akan menyenangkan karena dikelilingi teman-teman yang ikut membersamai dan memberikan semangat?🙂

    tidak perlu canggung untuk sekedar meminta air minum, tisu untuk menyeka peluh, atau bahkan pijatan untuk meringankan beban punggung. pada mereka yang senantiasa membersamaimu, mon🙂

    semoga 2013 adalah tahun terbaik kita. amin!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s