Monumen Russy

Dari dulu manusia terlalu terbiasa mengabadikan perubahan. Menciptakan monumen untuk sesuatu. Saat putus cinta, kita mengabadikannya dengan pergi ke tukang pangkas rambut. Ubah gaya. Selain buang sial, juga upaya meningkatkan pasaran di tengah sengitnya persaingan para lajang. Setelah bangsa ini merdeka, pemimpin kita repot membangun museum. Mengabadikan perjuangan katanya. Tapi entah kalau itu hanya untuk menghabiskan uang proyek saja.

Bagi saya, monumen itu bukan potongan rambut baru. Lain pula bangunan batu. Bukan ruang dingin penuh benda warna kuning tua. Ia hidup. Bisa tertawa-tawa. Namanya Russy.

Russy adalah monumen perubahan. Ia anak tangga pertama yang harus didaki dalam fase kedewasaan. Dia mengajari saya arti tinggal, berjuang, atau meninggalkan. Bagaimana manusia harus punya keberpihakan, untuk memilih diantara tiga pilihan sulit itu.

Russy adalah monumen bagi sebuah ikatan. Simpul pertemanan bukanlah simpul mati yang tak akan lepas. Terkadang ia butuh ditengok, diukur kelonggarannya, untuk kemudian dikencangkan atau dibiarkan tetap longgar. Dalam kasus kami, simpul itu dibiarkan lepas pelan-pelan. Agar kepergian masing-masing tak terlalu menyakitkan.

Russy adalah monumen bagi kehati-hatian. Perkara hati dapat membolak-balikkan hidupmu. Ada perbedaan jelas antara mengikuti kehendak hati, atau menyerahkan hidupmu untuk hati. Manusia memang kerap menyerah pada debar dan perih, namun otak dapat menjadi kekang. Partisi galak, ketika hati hendak menguasai nebula. Kita hanya harus kuat-kuat menarik tali kekangnya, kemudian berjuang. Itu saja.

Russy adalah monumen keniscayaan. Hidup bisa menjelma jadi sangat tidak ramah. Dalam satu rengkuh saja, ia bisa mengambil semua yang kita punya. Tanpa sisa. Ia mengingatkan saya akan kesementaraan. Pada akhirnya, kita tak bisa terus saling mengandalkan. Tak peduli seberapa dulu kita pernah saling cinta, kita tetap bisa saling menyakiti. Manusia tak pernah lepas dari kodratnya sebagai makhluk yang mengejar keuntungan bagi diri sendiri. Maka pilihannya hanyalah jadi pejuang, atau disakiti kemudian ditinggalkan.

Hampir satu warsa, monumen Russy dipandang selintas saja. Sebentar lagi banyak yang berubah. Ada yang bekerja, beberapa menikah, akan banyak yang pindah. Tak rindukah kamu? Aku masih kerap menulis pesan ke nomor yang mungkin sudah tak ada itu. Dalam masa-masa penuh sejarah ini, kamu seharusnya bertanggung jawab jadi seksi dokumentasi. Jangan pergi.

One thought on “Monumen Russy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s