Dua Kekuatan

Manusia diciptakan dengan dua kekuatan. Satu, untuk menikmati perasaan. Kedua, untuk melawannya. Ingatlah kamu punya keduanya.

Aku menemukan diriku sendiri termenung dibalik kemudi. Ada ketidakadilan yang harus diselesaikan disini. Kamu masih sibuk membenahi tikar selepas acara di rumahmu usai. Tertawa lepas bersama bapak-bapak dari rumah seberang, entah betul-betul bercanda atau basa-basi semata. Seharusnya aku sudah menginjak pedal gas dan segera pergi. Namun malam ini aku perlu membiarkanmu tahu, supaya kita tak tertutupi tirai bayang-bayang lagi.

“Kenapa? Kok belum pulang?”, tanyamu bingung. Kau hampiri aku yang menunggu dengan bodoh di dalam mobil.

Tersenyum tipis, kuberanikan diri menatapmu, “Aku mau bicara”

“Bicaralah. Kenapa?”, kamu masuk dan duduk di jok depan. Menungguku bicara.

“Maafkan aku. Sampai sekarang aku masih sakit dan belum lupa.”

Kamu belum bisa mencintai aku, begitu kan?”

“Iya”, jawabku setelah jeda yang panjang.

Menangislah dulu kalau kamu mau.”

Kamu membiarkanku menangis dan mengutuk semuanya. Ikut berseru saat aku terisak dan memanggil Tuhan, mempertanyakan Ia dimana. Kenapa begini jalannya. Kamu tidak bergeming saat aku meminta maaf, bahwa kemarin aku masih menangis untuk alasan yang sama. Buyar sudah gerakan dua bulan tanpa air mata. Kamu hanya memegang bahuku saat aku menatapmu setengah kabur karena pelupukku masih penuh air mata, maafkan aku.

“Nikmati dulu sakitnya. Hapalkan dulu perihnya. Aku pernah dalam posisi yang sama. Aku tidak minta kamu lupa dan tidak cinta, hanya cobalah untuk mengembalikan semua ini pada-Nya. Yang tak sejalan seharusnya tidak dilanjutkan, kan? Pelan-pelan.”

“Aku minta maaf.”

“Aku kecewa. Tapi cuma kamu yang bisa menangguhkan dirimu sendiri. Pada akhirnya, patah hati harus disembuhkan sendirian.”

“Bagaimana dulu kamu bisa kuat?”

“Aku hanya yakin sejatinya manusia itu punya dua kekuatan.”

Tiba-tiba, aku yakin bahwa Senja kelak akan tumbuh sangat tangguh. Perjuangan mendapatkannya saja sudah penuh peluh. Sementara bulan sedang indah-indahnya, kamu membiarkanku menikmati sakit dan menangis. Berdua. Tapi kamu diam dan melihat tanpa suara. Membiarkanku berjuang, sendiri saja.

Manusia diciptakan dengan dua kekuatan. Satu, untuk menikmati perasaan. Kedua, untuk melawannya. Ingatlah kamu punya keduanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s