Epilog Untuk Persinggahan

Apa yang harus ditulis dalam bait awal sebuah tulisan pengakhir hubungan? Aku ingin mengumpat, tapi sisa cinta datang seperti sumbat. Kamu pasti tahu, betapa bodohnya aku menghadapi perpisahan. Betapa lambatnya otak ini mencerna sebuah usai yang niscaya. Saat jatuh cinta padamu dulu, aku menulis banyak-banyak. Mungkin sebanyak itu juga aku perlu menulis untuk bisa melupakanmu.

Bersamamu masuk kategori hari-hari terindah dalam eksistensiku sebagai wanita. Bersama kamu aku sadar, ada sisi hangat dalam diri ini yang bisa mencintai orang sedalam itu. Benteng tinggi luruh. Terganti kasih yang utuh. Mencintaimu membuka mata, bahwa pada akhirnya aku ini tetap wanita. Yang cukup bahagia menyapu dan memasak. Rela bila kelak kamu memintaku di rumah saja dan tak bekerja. Cinta bisa membuat aku mengabdi, menjadi sebaik-baik pribadi, bisa pula membuat aku menghancurkan diri sendiri. Cinta pernah membuat aku lupa cita-cita, lupa mimpi, lupa kalau diri ini perlu juga dihargai. Mencintaimu, membuat aku kembali mengenali diri sendiri. Cinta, pernah membuat aku kehilangan Tuhan. Namun setelah dihajar dan dibanting keras-keras, akhirnya hati ini melunak dan Ia kembali aku temukan. Orang bilang aku hanya tak bisa lepas, bukannya mencintaimu. Tapi aku kira hanya cinta yang bisa mengajari dan menyakiti orang setega itu.

Ada pepatah lama yang harus kita amini. Terdengar menggelikan, tapi ia adalah sebenar-benar kenyataan. Cinta tidak pernah salah, yang salah adalah cara kita mencintai. Sudah tahu tak bisa bersama, tapi masih keras kepala. Sudah tahu terlalu berbeda. Mulai dari cara berdoa hingga ke frekuensi cita-cita, kita masih saja jatuh cinta. Perpisahan dua insan ngotot ini memang tak bisa dihindari. Ia mengingatkanku bahwa mimpi itu tetap ada. Hidup bukanlah perjalanan hura-hura berbahagia di masa muda, bekerja, lalu mati. Paling tidak hidupku tidak kuharap tergambar seperti itu. Perpisahan juga mengejutkan syaraf tubuhku, memahfumkan diri. Ada batas toleransi yang tak bisa ditawar lagi. Berjarak denganmu, menyakitkan tapi juga membuatku tumbuh di saat bersamaan. Bersamamu, aku sempat kehilangan diri sendiri. Tapi kamu pula yang menemaniku mencari dan menyusun kepingan jati diri itu kembali.

Dewasa barangkali menuntut keikhlasan untuk menyadari bahwa masing-masing kita hanyalah persinggahan. Kelak, akan ada orang lain yang benar-benar menggenapkan. Senikmat apapun tempat persinggahan, kau harus tetap melanjutkan perjalanan. Kamu sudah ahli dan tertasbihkan. Sementara aku sedang belajar. Terima kasih, sudah menjadi pengingat bahwa kelak aku harus lebih menjaga diri. Jadi perempuan yang tidak mudah menangis, tapi tetap lembut hati. Kini hanya doaku yang semoga menjangkaumu saban hari. Selamat tinggal. Selamat jalan. Kalau kelak kau hendak keras kepala dan jatuh cinta dengan bodoh lagi, ingat aku. Persinggahan yang tak berhenti mendoakanmu.

Tulisan ini saya bacakan juga, di sini

7 thoughts on “Epilog Untuk Persinggahan

  1. Big hug for Monik🙂 Yakinlah bhw pengalaman ini akan mendewasakan kita Mon. Boleh berhenti untuk istirahat tp ga boleh lama-lama ya Mon…hrs cepet move on, krn waktu tdk akan pernah berpihak kebimbangan. Semangat Mon!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s