Patah Hati Pecandu Gula-Gula

Jika perbuatan manis berbanding lurus dengan pengeroposan gigi, maka kini aku pasti sudah ompong. Orang boleh kecanduan kopi, kokain, atau marijuana. Tapi sedari dulu aku hanya kecanduan gula-gula.

Aku pecandu manis paling setia. Selalu kugaungkan di telinga, “Kenapa kita harus saling menyakiti, jika kau dan aku bisa mencipta bahagia?”. Orang kerap mengernyit dan menyematkan label naif. “Hidup tidak selalu manis”, ujar mereka. “Kamu harus tahu rasanya pahit”. Tapi aku memang keras kepala. “Hidup toh hanya sementara. Haruskah sakit dinikmati dengan pahit? Tak bisakah kita sakit dengan bahagia?”

Orang punya cara menghadapi sakit dengan berbeda. Dan bukankah patah hati memang pada akhirnya harus dihadapi sendirian? Maka aku ingin patah sempurna dengan hati penuh cinta. Menangis tersedu-sedu, tapi memelukmu tak kalah kuat. Aku akan mengutukmu keras-keras, dengan suara lembut nomor wahid. Aku toh pernah memilih untuk jatuh cinta padamu, dengan kejatuhan yang manis. Saat hendak melepaskanmu, mengapa kita tak bisa semanis dulu? Orang bilang satu-satunya cara adalah kita saling mengutuk brengsek agar segera lepas dan lupa.

Pada akhirnya bukankah kita hanya dua orang brengsek yang pernah saling jatuh cinta, dan sedang berupaya mengais lupa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s