Hujan Habis

Aku membayangkan bagaimana jika kelak hujan habis. Apa yang akan terjadi bila kita berdua tak lagi bisa duduk-duduk, mengendus aroma tanah yang makin kuat sebelum gerimis. Masihkah kamu manis? Akankah kau membuatku gemar menangis?

Hujan habis. Tanah kering. Udara tak pernah lagi lembab. Gerahnya angin mencipta perangkap. Bisakah kau tetap murah mendekap? Haruskah aku tersendu sampai bengap, baru kau usap?

Aku membayangkan bagaimana jika kelak hujan habis. Kau selalu menolak liris. Hujan itu seperti kasih, tak kenal akhir baris. Barisan huruf itu pernah begitu magis. Lalu kini siapa yang angkat kaki, lupa kasih, lupa hujan dan penolakan liris? Berkacalah. Mungkin akan kau temukan wajah palsu berbalut senyum manis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s