Cinta Pelok

Hari menjelang senja. Saya baru pulang dari lereng Merapi, setelah hampir setengah hari berjibaku melawan panas demi beberapa detik potongan video dan catatan wawancara dengan penduduk sekitar. Hati sempat tergerak untuk mampir ke kafe, duduk diam sendiri disana untuk menuntaskan tanggungan tulisan. Tapi entah kenapa sore ini saya hanya ingin cepat pulang. Selain sudah terlampau sering pulang malam, saya juga harus sedikit menghemat uang demi beberapa rencana perjalanan. Maka disinilah saya, duduk di kursi makan teras belakang. Menyumpal kuping sembari menulis. Ditengah ekstase magis jari tangan bertemu keyboard, tiba-tiba saya dikagetkan dengan suara, “Bruuuk!”. Ah, lagi-lagi mangga blasteran hasil stek Mama jatuh menghantam kanopi kolam.

Mangga matang pohon itu masih dibiarkan terguling di tanah. Saya terlalu malas untuk beranjak. Toh sekarang sudah musim mangga. Hampir tiap hari kami memakannya. Mulai dari dibuat jus, dibuat sarang lebah, atau dimakan bulat-bulat. Ini bukan kejadian langka. Maka ia cukup dilirik dulu saja. Sebagai seseorang yang suka menghubungkan segala sesuatunya dengan perasaan, saya jadi berpikir: “Barangkali, selama ini saya jatuh cinta seperti saya mencintai mangga. Cinta Pelok. Cinta biji mangga.”

Sesungguhnya kawan, ada yang mengerikan dari terlalu mencintai. Atau lebih sederhananya, ada sisi mengerikan dari segala sesuatu yang terlalu. Saat terhantam kata terlalu, seakan kau lupa bahwa disisimu selalu ada pintu. Tempatmu bisa keluar, menghirup udara segar, melemaskan otot leher dan berpikir: “Haruskah aku kembali atau bertahan di luar sebentar lagi?”. Si terlalu membuatmu hanya melihat jendela. Mengarahkan pupil matamu kesana. Ia mempengaruhi kinerja nebula. Membentuk gambaran bahwa keluar adalah hal yang merepotkan. Untuk keluar, kau perlu mengangkat rok cantik, menanggalkan sepatu hak tinggi, kemudian susah payah melipat badanmu yang kaku. Terlalu, menghilangkan opsi pintu. Membuat segalanya tampak makin rumit.

Bertahun-tahun, saya terbiasa melihat mangga jatuh. Membiarkannya bergulir dulu di tanah sebelum akhirnya tergerak untuk mengambil. Bertahun-tahun, saya terbiasa mengupas dan memotong mangga menjadi bagian-bagian kecil. Saking terbiasanya, amat jarang saya ikut menancapkan garpu ke potongan mangga tersebut. Lebih suka menggigiti daging mangga yang tertinggal di biji. Selain lebih asyik, juga lebih puas.

Ya, barangkali seperti itulah cara saya jatuh cinta. Cinta pelok. Cinta biji mangga. Mencintai dengan dalam, hingga ke intinya. Namun kerap lupa, bahwa mangga tetap punya daging. Mangga hanya mangga bila ia berdaging, bukan hanya berbiji. Cinta bukan cinta bila masakan dan setumpuk perbuatan manis dibalas dengan dingin. Cinta hanya cinta saat kamu tidak takut beradu argumen. Tidak peduli seberapa dalam kamu jatuh cinta, menerima ia hingga ke intinya. Ia tetap bukan cinta, bila salah satu diantara kalian, sakit.

Mulai besok, saya akan kembali mecoba menikmati daging mangga. Bukan hanya bijinya. Semoga segera, saya juga bisa kembali menikmati cinta. Bukan sekedar cinta pelok, cinta biji mangga.

One thought on “Cinta Pelok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s