Pulang

Selepas mengakhiri hari dengan sangat menyenangkan, saya berjalan pelan-pelan kearah kendaraan yang terparkir cukup jauh. Nampaknya semua orang butuh hiburan malam ini. Hingga mencari sudut untuk parkir saja susah. Badan ini sudah berteriak butuh kasur. Punggung juga makin tidak nyaman sesudah dihajar duduk tegak seharian. Saya lelah, mendambakan akhir minggu. Saya butuh pulang.

Dan lalu…
Rasa itu tak mungkin lagi kini
Tersimpan di hati
Bawa aku pulang, rindu!
Bersamamu!

Pulang pernah terasa amat mudah. Artinya, saya hanya harus berbelok ke arah timur dari perempatan Jalan Lingkar Utara. Menemukan tempat peristirahatan saya disana. Kawah candradimuka. Pulang pernah terasa begitu hangat. Saat bawang putih jadi teman, dan anjing kecil kita menyalak minta diperhatikan. Pulang, pernah berarti senja sederhana dengan cerita-cerita bodoh kita. Disertai murahnya usapan hangatmu, dan betapa mudahnya aku manja lalu tersipu.

Dan lalu…
Air mata tak mungkin lagi kini
Bicara tentang rasa
Bawa aku pulang, rindu!
Segera!

Kemudian pulang jadi bencana. Aku lebih sering masuk ke kamar kita dengan bulir-bulir halus di kelopak mata. Kamu pun nampak lebih gamang bicara. Kita meremang, masih saling cinta. Tapi merasa inilah saatnya. Saat kata-kata tak lagi mampu berkelit dan menyampaikan makna, maka kau dan aku akan bersandar. Berbagi sumber air mata. Barangkali sudah terlalu banyak ia keluar. Hingga isakan sudah tak lagi didengar. Kamu dan aku makin kasar. Tak mau berpisah, tapi terus menempel seperti dua atlet gulat yang kekar. Saling menyakiti, dibalik selimut manis penuh kelakar.

Dan lalu…
O, langkahku tak lagi jauh kini
Memudar biruku
Jangan lagi pulang!
Jangan lagi datang!
Jangan lagi pulang, rindu!
Pergi jauh!

Ada kalanya lebih baik orang tidak punya rumah. Dibanding ia tinggal dibawah atap penuh gas beracun. Lalu mati pelan-pelan. Terkadang orang memilih amnesia hingga lupa jalan ke rumah. Daripada mengulang rute yang sama, lalu tersakiti dua kali lebih sesak di dada. Sesekali orang perlu kelayapan, mencoba bertahan di luar. Tak lain agar ia paham, betapa kata pulang” perlu diperjuangkan. Berpikir tiga ratus tujuh puluh lima kali sebelum keluar dan meninggalkan. Aku pernah berkata kamu tempatku selalu pulang, bukan? Ijinkan aku mencapai pemikiran berlipat tiga ratus tujuh puluh lima kali. Demi memperbaiki diri, untuk ku sendiri dan entah kelak siapapun itu.

Malam ini, ijinkan aku tidak pulang dulu ya. Jangan lupa tidur hangat dan mimpi manis.

Lirik: Pulang, Float

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s