Pada Puncak-Puncak Tertinggi

Pada puncak-puncak tertinggi, kamu pernah secara gaib mensejajari langkahku.

Tidak perlu ada kamu di sisiku menggendong carrier dengan nafas ngos-ngosan. Tidak perlu kuusap langsung keringat di leher dan dahimu yang amat murah meluncur, hanya untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa kamu ada.

Omong kosong dengan lemah jantungmu. Kelak, saat orang berkernyit menjabat tanganmu yang berkeringat. Bicaralah dengan lantang: “Begini-begini, aku pendaki yang handal”. Kamu tidak berbohong. Sesungguhnya kamu sudah pernah terbang ribuan kaki diatas permukaan laut, sayang. Awan yang bisa terjangkau layaknya gula-gula kapas, kesyahduan sepi hutan, menggigil di dalam kantung tidur tengah malam, hingga mencumbui pasir tertinggi di pulau Jawa. Jangan lupakan itu. Kakiku pernah membawamu. Peluhku yang mengantarkanmu. Mengherankan, cinta bisa membuat tubuh kurus kurang makan ini kuat menahan beban tubuhku dan tubuhmu sekaligus.

Pada puncak-puncak tertinggi, kamu pernah secara gaib mendampingiku. Menjelma dalam doa yang kurapal seturut gelang milikmu yang melingkar di tangan kanan. Menopangku dalam namamu yang kugaungkan keras-keras. Setiap badan kedinginan, setiap mata hendak terpejam kalah, setiap sendi kaki berteriak hendak menyerah. Kamu, selalu jadi suporter utama. Selayak cokelat hangat menanti diseduh selepas mengakrabi jalur yang tidak manusiawi, kamulah kenyataan yang selalu ingin aku cari. Kamu, satu-satunya kenyataan hidup yang membuatku tak perlu lari. Bersamamu aku selalu punya tempat menyepi. Bukan di kaki gunung, tapi di balik lekukan punggung.

Namamu pernah begitu gigih kutasbihkan. Mengaliri oksigen nafas tersenggal-senggal menuju puncak. Menemukan lingkar tubuhmu diujung perjuangan, diatas kasur empuk — pernah jadi satu-satunya alasan aku bertahan. Perjalanan keras macam ini membuatku makin mensyukurimu sebagai kenyamanan. Sayangnya saat ini aku hanya sedang kehilangan pijakan. Kehabisan cara meyakinkan diri sendiri untuk berjalan dan bertahan. Hingga aku habis nafas, setengah pingsan, lalu kehilangan jawaban atas tanda tanya besar, “Masih pantaskah kamu diperjuangkan?”

Photo : Maharsi Wahyu K

4 thoughts on “Pada Puncak-Puncak Tertinggi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s