Teruntuk Kamu, yang Membersamai Banyak Langkah

Teruntuk kamu, yang membersamai banyak langkah.

Kekasih, kakak, sahabat, teman diskusi dan rekan bertengkar. Di hari ini, mari kita ingat bersama. Seberapa banyak tapak kaki sudah dihela. Senja saat kau jadi pengantar pulang waktu baju penuh noda di pinggir Sungai Code. Hingga menjelma jadi co-pilot bagiku yang tak hapal jalanan Solo. Lalu kini, masih kamu yang kutemukan kerap berjalan di sisi. Dengan kasual mendorong pinggang. Merengkuh bahu atau menggenggam tangan.

Barangkali jalan setapak Jogja sudah hapal akan motif sol sepatu kita. Tapi masih ingin kusejajarkan langkah denganmu hingga kita sarjana. Sebelum nanti kamu pergi, aku berlari mengejar mimpi. Lalu kemudian saling memperkenalkan suami dan istri. Tidak bisa bersama di altar dan akad nikah, bukan berarti tak boleh punya kenangan indah kan?

Denganmu aku sudah bermain gengsi, jatuh cinta, patah hati, sakit dan benci, tapi ujung-ujungnya jatuh cinta lagi. Denganmu, aku menjelma jadi gadis kecil manja yang minta diusap saat sakit pinggang. Atau wanita dewasa yang menyapu kamar dan memasak tanpa diminta. Dalam jejak kecil kita, aku hanya ingin jadi sebaik-baik wanita. Agar kamu bangga dan bahagia. Meski kebiasaan buruk dan kecerobohanku terus kau baca, tapi kasih terus tersedia.

Kamu bukan pria idaman. Aku masih ingin kita bisa bertukar cerita soal buku bacaan. Memperbincangkan penulis, atau buku yang baru rilis. Tapi kamu lebih suka bercanda dan bernyanyi salah nada. Mencekokiku dengan band metal yang merusak lagu syahdu jadi teriakan tak tentu. Aku tetap mau kamu punya rencana masa depan. Bisa bermimpi panjang lebar soal akan bekerja apa, punya rumah macam apa, atau lanjut sekolah dimana. Anehnya, jawaban “tidak tahu” mu tak pernah membuatku sakit kepala. Aku mencintaimu tanpa banyak minta. Tak pernah terbersit komparasi dengan pria lain di luar sana. Kusayangi kau selayak keluarga. Aku juga pasti bukan wanita impian. Kau bisa mendapatkan yang lebih baik berpenampilan. Yang gemar padu-padan baju, pintar menata riasan dan rambut menawan. Tapi kau terima aku yang memilih baju berdasar urutan paling kanan. Yang tak suka berdandan, malah lebih sering masuk hutan panas-panasan. Menemuimu dengan muka hitam bekas dipanggang seharian.

Teruntuk kamu, yang membersamai banyak langkah.

Terima kasih untuk masakan sederhana di dua puluh tiga lebih beberapa jam. Bagi senja hangat saat kita kekenyangan makan dimsum. Untuk kecup kecil waktu aku tak kuasa merengkuh pinggang. Saat kelak kujabat tangan istrimu, akan kuselipkan genggam terima kasih. Sebab suaminya sudah membuatku belajar bagaimana berkasih yang tanpa pamrih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s