Pergi

Lahan permainan ini sudah makin tidak terkendali. Kadang, kita tak bisa memilah lagi. Mana yang pantas bagimu dan bagiku. Mana yang tidak menyakiti. Dimana kita seharusnya berdiri.

Aku, memutuskan. Pergi.

Di mataku, ini bukan soal kepemilikan. Bukan soal kamu menemani siapa makan siang. Bukan juga soal bersama siapa kamu seharian. Semuanya soal keputusan. Ada yang harus berani ambil resiko dan memulai. Dan nampaknya, hatimu terlalu lembut untuk menyakiti. Maka, ijinkan aku mengawali.

Aku punya cara berbeda untuk menyayangimu. Pegang kata-kataku ini. Aku pergi, bukan berarti membenci. Aku cuma mau kamu tahu bagaimana pentingnya aku. Aku cuma mau kamu merasakan dunia tanpa berbagi nafas denganku. Aku ingin memberanikan diri merasakan belantara hidup tanpa lenganmu, melindungiku. Supaya kita sama-sama tahu. Bahagiakah jika kau tak menyandingku? Tangguhkah aku tanpa topanganmu? Apakah kekitaan yang takut dilepaskan itu, perlu?

Terlebih, aku hanya tak mau kita menyakiti hati yang harusnya kau hargai.

Ijinkan aku menyayangimu dengan caraku sendiri. Aku tidak akan banyak bertanya kamu sedang apa dan sedang bersama siapa. Tak akan rewel kuminta kau menemaniku makan, atau berjalan-jalan. Akan kubuktikan aku sanggup menghadapi masa berat sendirian. Mencintaimu, berarti menangguhkan diri. Aku ingin jadi wanita yang menguatkan. Bukan membuka lubang kelemahan.

Mencintaimu dengan berbeda, bukan berarti tidak mencintaimu sama sekali. Tak akan kubiarkan kau kelaparan di pagi hari. Hantaran kecil mungkin akan sesekali kau temui. Tidak mudah juga merubah kebiasaan mengurusi makanmu macam ini. Saat kau butuh teman diskusi, waktuku sudah pasti kau miliki. Aku tak pernah jauh, hanya sedikit menyingkir demi menjaga hati. Perhatianku jelas berjeda, tapi berarti.

Kasih sayangku pendiam, tak perlu diteriakkan lantang. Alih-alih dinikmati, justru nanti kau sakit telinga. Biasanya, sesuatu yang tenang dan tak lantang malah tak reda-reda.

3 thoughts on “Pergi

  1. monik! aku juga pernah menulis tentang ini. peluuuuk :’)
    somehow, aku seneng menemukan teman yang punya cara menyayangi yang sama. hihihi.

    “Kau tahu, ada saat dimana orang kalah lantang bicara tentang cintanya, dan perlahan pasangannya menyerah pada suara keras ditelinganya. Tapi kau tahu, cinta yang tak lantang itu lebih bertahan dan tidak reda – reda juga.” – Lukki Sumarjo.

  2. kak monik, lama gak buka blog. dan waktu buka, kak monik udah banyak nulis aja.
    terharu :’)
    aku juga pengen jadi wanita yang menguatkan bukan melemahkan.
    semangat kak monik🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s