Dua Mama

Sebuah pesan singkat datang beberapa hari lalu. Dari Mama. Singkat saja, “Nduk, sing ngati-ati yo. Mama sayaaaaaang banget karo kowe (melebihi apapun)”.  Saya diam saja dan tidak membalas. Sederhana, saat itu ponsel belum sempat diisi pulsa.

Malamnya, sepulang kerja ia seperti biasa mampir ke kamar saya. Tiba-tiba, dia merengkuh bahu saya. Bilang kalau ia cemas saya tidak membalas pesan singkat. Ibu saya jarang bertutur lewat bahasa tubuh, saat itu saya tahu ia sungguh-sungguh. Mama tahu, putrinya kini sedang runtuh.

Sabtu lalu, pesan singkat yang sama juga membuat saya tersentuh. Wanita yang juga saya hormati setara orang tua, menanyakan kabar dan bercerita ia sedang beli kue untuk gereja. Setelah bertukar salam untuk Mama yang disini, ia tak lupa bertanya saya masak apa. Saya tidak bercerita dengan lugas, bahwa saat itu saya memasak untuk putranya. Kenapa? Saya tidak mau ia sakit dan kecewa.

Kemarin, ia bilang berbaring seharian. Kurang tidur hingga pusing menyerang. Semoga engkau lekas sembuh, Tante. Doaku tak pernah lupa tertuju untukmu.

Dua Mama.
Dua wanita yang sungguh, saya cinta.
Keduanya tak ingin saya sakiti hatinya.
Keduanya, di kaki merekalah ada pintu surga.

Dua Mama.
Yang keduanya menguatkan.
Berujar hati mereka paham apa yang saya rasakan.
Menjadi alasan utama penebal tembok kuat dan keikhlasan.

Dua Mama.
Tuhan, sampaikan salam rindu untuk mereka.
Saat sakit tak bisa ditahan pelupuk mata, aku menangis sembari mengingat harapan yang mereka punya.
Tuhan, jadikan aku putri berbakti untuk keduanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s