Jadilah Imamku Dulu, Pa.

Kamu bilang tanganmu sedikit tak terasa.
Sudah dua minggu kamu pusing tanpa jeda.
Berkelakar, kau bilang sedikit takut terkena nasib yang sama.
Ada rekan yang baru mendapat serangan stroke sepulang kerja.

 

Aku berusaha tersenyum, menyentuh tanganmu sekilas. Dingin.

 

Hela nafasmu memanjang, kau menerawang.
Katamu hidupmu mungkin belum berarti buat orang.
Kau takut dipanggil tanpa pegangan.

 

Aku terbayang, kerelaanmu untuk memeriksa tanpa dibayar.
Tidurmu yang kerap terganggu, oleh pasien yang mengetuk pintu.
Wajah anak-anak asuhmu, yang selalu kau sebut saudaraku.

 

Matamu menemukan manik mataku.
Menatap sekilas disitu.
“Kalau aku pergi, siapkah kamu?”
Kemudian kau sedikit tertawa, sambi lalu.

 

Kuamati matamu yang makin lesu.
Kerut di dahimu.
Pucat wajahmu menahan kelu.

 

Bapakku, tak bisakah kau menunggu?
Sampai aku memberimu cucu. Jendra jadi dokter seperti harapanmu.
Kita masih mau umroh sekeluarga dulu, kan? Katamu Madinah bisa menjawab pertanyaanku.
Kau dan aku pernah punya mimpi.
Selepas pensiun, akan kita bangun Rumah Sakit yang lebih besar.
Yang adil. Orang miskin tak usah bayar.
Kau berkelakar bila kelak suamiku dokter, maka ia akan mengurusnya.
Kamu mau berternak burung sambil jual beli mobil tua.
Menjemput anakku di TK. Memanjakannya.

 

Tunggu dulu, Pa.
Sebentar saja.
Aku masih ingin mengejar jalan ke surga.
Dengan kamu, Imamnya.

3 thoughts on “Jadilah Imamku Dulu, Pa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s