Kau Dalam Jerangan Air

Ia menangis tersedu-sedu. Segala yang telah dibangun, 22 tahun terakhir hancur tak berbekas. Mereka berpisah. Dengan sadar. Atas dasar pilihan. Sederhana saja, memang mereka tak bisa bersama.

 

Image

Bila kau pikir ini kisah tentang selingkuh atau pengkhianatan, maka kau akan salah besar. Dua tokoh utama kisah ini adalah pemilik eksistensi paling setia yang pernah ada. Ketika hatinya terisi dengan satu nama, maka habis perkara.

Semuanya dimulai dari satu malam sederhana. Layaknya biasa, ia bangun pukul 3. Mengambil air wudhu dan memasang mukena. Suami dan anaknya ia biarkan tetap lelap. Bertahun-tahun sudah ia jalankan ritual ini. Menjalin kasih dengan pemilik eksistensi lainnya. Bukan tanpa tujuan. Segalanya demi anaknya yang hendak Ujian Nasional, demi suaminya yang ingin naik jabatan. Bangun malam dan bergerak baginya bukanlah hal yang memberatkan. Ia tak pernah merasa ini pengorbanan. Baginya, kegiatan ini kencan.

Sujud pertamanya dilalui dengan singkat. Ia kembali berdiri dan mendirikan rakaat. Membaca doanya dengan dalam, khusyuk. Dipusatkannya kerja otak untuk menggambarkan suaminya yang pulang dengan surat promosi di tangan. Dan anaknya yang melonjak kegirangan sebab berhasil diterima di sekolah unggulan. Ia rela tunduk-sujud berapa kali pun demi perwujudan impian.

Pada harmoni gerak keduanya, tiba-tiba ia gelisah. Matanya memicing ke ujung sajadah. Mencari apa yang sesungguhnya ia sembah.

Apakah cukup, barter doa dengan prestasi? Kenapa ia harus menemui kekasihnya dengan pakaian macam ini? Tak bisakah mereka keluar dengan kaos kebesaran dan celana training? Lalu berjalan-jalan di taman? Kenapa kekasihnya selalu minta ia mandi sebelum bertemu? Tak tahankah ia dengan wangi alami tubuhnya? Ah, selama ini ia bercinta dengan Pegadaian, barangkali. Tujuan utama kedekatan mereka adalah untuk penyelesaian masalah. Bukan untuk jatuh hati dan menjalin kasih nan pasrah.

Ia tuntaskan ciuman terakhirnya dengan air mata. Ciuman terlama yang pernah ia berikan di kaki kekasihnya. Aneh, setelah dua puluh tahun bersama malam ini ia bahkan tak lagi mengenal sosok yang dahulu amat dikasihinya.

Waktu menunjukkan pukul 4 pagi. Ia bergegas merapikan diri, siap di depan tungku api. Mulai hari ini, ia akan mencari kekasihnya di tiap cidukan air dan pada sabut kelapa yang ia gunakan untuk mencuci. Ikatan penuh aturan berakhir disini.

 

Suara uap air dari ceret bergema. Air mandi untuk anak dan suaminya sudah matang. Tiba-tiba lehernya meremang. “Iya sayang, aku tahu kamu datang”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s