Cerita Bersambung

Waktu masih kecil, Mama kerap membacakan cerita sebelum tidur. Barangkali ini alasannya kenapa imajinasi saya sekarang liar. Bagaimana tidak, dahulu cerita kancil bisa dibuat mama jadi cerita horor. Dongeng Timun Mas jadi kisah roman. Ia membiasakan saya berpikir di luar lingkaran kewajaran. Tapi satu yang pasti dalam setiap ceritanya. Mama selalu menutup cerita dengan kata pamungkas, “Akhirnya…”

Mulai saat itu saya percaya, bahwa setiap kisah pasti ada akhirnya. Ada titik yang akan menutup perjalanan sebuah kisah. Terdapat akhir dalam setiap episode dongeng. Bila tak diakhiri, seindah apapun cerita itu hasilnya akan menggantung. Membuat murung.

Kini saya dan kamu, sedang ditempa si kata pamungkas : “Akhirnya..”. Kita tengah dipaksa memilih bagaimana memilah rasa. Akankah tetap sama, atau mengemasnya dalam ranah yang berbeda. Sempat di satu titik, yang mampu kulihat hanya akhir buruknya saja. Kau dan aku tak lagi bersama, sakit, bahkan mungkin saling benci dan tak suka. Habis perkara.Aku sempat lupa, bahwa dalam kisah dan cerita apapun penulis bisa memodifikasinya jadi sebuah cerita bersambung.

Ya, lagi-lagi ini kudapatkan dari Mama. Saat di sekolah dasar iseng kubaca majalahnya. Setiap minggu ada cerita dengan judul yang sama menghiasi halaman tengah majalah wanita yang dilanggannya. Mama sempat bilang, “Hanya penulis yang cerdas dan berjiwa besar yang mau membuat ceritanya jadi sebuah cerbung”. Dulu aku hanya manggut-manggut, belum mengerti. Namun kini aku paham.

Sebuah cerita bersambung membuatmu tak pernah kehilangan relasi dengan tokoh di dalamnya. Kalian akan berpisah sejenak, namun di pikiranmu ia akan tetap tinggal. Hari-harimu akan dipenuhi dengan bayangan di benak, mengira-ngira apa yang kelak akan kau temukan di kisah selanjutnya. Cerita macam itu tak akan membuatmu bosan. Ada waktu untuk menghela nafas sebelum meneruskan ketegangan. Cerita bersambung mencerdaskanmu, memberimu kesempatan menggambar bayangan masa depan tanpa ditekan dan dipaksakan. Kau akan melihatnya berkembang dan dewasa. Tak intens memang. Tapi ia tak pernah hilang.

Barangkali inilah waktu kita menulis cerita bersambung, sayang. Kiranya bukan akhir yang kita harapkan. Tapi sebuah jeda, untuk menemukan. Apakah kelak kamu dan aku bisa menulis sosok tamat di hamparan kisah masa depan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s