Pemikiran Random

Hidup saya saat ini dipenuhi beberapa rutinitas: kuliah, Kampung Halaman, IIS, dan yang terbaru KUI. Maka beginilah cara saya mengatur waktu setiap hari. Pagi sampai jam 12 kuliah, selepas makan siang ke IIS bila diperlukan, sekitar jam 1 berpindah ke KUI sampai selepas Maghrib. Badha Isya saya mengumpulkan sisa tenaga untuk bersenang-senang di Kampung Halaman. Semua kegiatan ini membuat saya tak punya waktu untuk diri sendiri. Maka setiap akhir pekan, di kamar saya ada penjelmaan kepompong berselimut bed cover. Sabtu dan Minggu adalah waktu balas dendam untuk membayar jam tidur yang tersita tumpukan pekerjaan. Tapi untungnya, ada keluarga dan sahabat yang selalu jadi tempat pulang paling melegakan. Kelelahan ini untungnya tak hanya ditebus dengan jerawat yang makin bandel, tapi juga penghargaan terhadap waktu bersama.

Tulisan ini bukan soal sahabat atau keluarga. Ijinkan kali ini saya menulis narasi egois, tentang pemikiran yang berkecamuk belakangan.



Tahun Ketiga dan Kemandirian

Ini tahun ketiga saya kuliah. Bila dihitung normal, tahun depan insyaAllah saya sudah bisa lulus dari FISIPOL. Namun, ada satu yang mengganjal di hati. Apa iya saya rela lulus secepat itu? Apa yang sudah saya berikan untuk orang-orang di sekitar? Akhir-akhir ini, tengah terjadi pergeseran dalam sisi penetapan idealisme dalam otak saya. Pergeseran itu tercermin dari desakan kemandirian yang muncul. Tahun ini memang tahunnya pembaharuan. Mulai bulan Maret kemarin, saya memutuskan untuk mencoba mandiri secara finansial. Usia saya saat ini sudah 21 tahun, malu rasanya kalau terus meminta ke orang tua. Lagi pula sebentar lagi saya juga harus memasuki rimba kehidupan sesungguhnya. Mau tak mau, saat nanti tuntutan pekerjaan memaksa saya keluar dari rumah, artinya segala fasilitas rumah juga akan hilang. Karena itu sekarang saya belajar berhitung, paling tidak untuk mencukupi dan menabung bagi diri sendiri. Kasarnya, saya harus jadi pribadi yang mulai belajar prihatin.

Kegeraman Pribadi: Haus Ilmu

Semester ini saya tak jadi orang yang memasang target tinggi soal nilai. Nilai saat ini tak jadi lagi tujuan akhir. Ia hanya sekedar bonus. Omong kosong nilai tinggi, tapi pemahaman dan implementasi nol besar. Ada rasa haus ilmu yang menggelegak dalam diri. Saya masih merasa begitu kerdil. Selama ini barangkali saya terlalu nyaman berada di lingkungan yang saya kuasai. Akhirnya, akhir-akhir ini malam-malam saya lebih kerap dihabiskan untuk membaca buku yang memang ingin saya baca. Bukan lagi materi kuliah untuk besok. Saat ini, saya cenderung tidak peduli pada materi kuliah yang rasanya datar-datar saja. Terlebih kalau dosen yang mengampu memang tak mengikuti berita dan kolot. Terkadang, saya lebih memilih membaca buku yang saya bawa dari rumah dibanding mendengarkan ceramah dosen. Kadang saya geram, dosen ini punya kewajiban untuk memberikan ilmu. Tapi baca koran dan dengar pendapat saja ia tak mau.

Kegeraman itu juga terjadi dalam soal tulis-menulis paper. Beberapa dosen meminta dengan gamblang ada kutipan dan footnote dari sumber terpercaya. Bukankah otak dan logika: pemikiran, juga merupakan sumber terpercaya? Kenapa mahasiswa harus dibatasi mengembangkan pemikirannya? Duduk di bangku kuliah seharusnya bukan lagi pada tahap “berburu dan meramu”: berburu pemikiran, mengutipnya, meramu jadi satu tulisan. Tapi bagaimana mengembangkan logika pemikiran. Kampus berkewajiban mengembangkan ide-ide baru. Teori lama boleh dijadikan referensi, tapi jangan nilai tulisan kami dari berapa banyak sumber yang kami kutip. Didiklah kami men jadi satu pribadi dengan penemuan logika yang orisinal. Betapa sayang jika masa kuliah empat tahun hanya menghasilkan generasi F, Generasi Footnote.

*Kadang, saya ingin pindah jurusan kalau berbicara soal basis riset macam ini. Tiga tahun kuliah, kemampuan menulis ilmiah masih lemah :(*

Kegeraman lain yang juga kerap menggelitik adalah bagaimana sistem pendidikan ini ternyata membuat saya jadi manusia egois. Selama tiga tahun, hidup saya terkukung kewajiban kampus. Hampir tak ada waktu memberi untuk sesama. Yang ada di otak cuma pekerjaan, tenggat tugas yang harus diselesaikan, dan ujian. Padahal hidup tak hanya soal itu. Apa gunanya jadi orang pintar yang tak bisa mengajar? Apa gunanya jadi orang kaya yang tak berbagi? Saya belum jadi manusia yang memanusia.

Pilihan Hidup Memang Tak Bisa Bohong

Pada akhirnya, memang hidup itu soal pilihan dan keberpihakan. Di awal kuliah pilihan saya sempat bergeser ke arah kemapanan, namun kini hati kecil saya berontak. Didikan SMA 8 memang amat membekas. Saya yakin, hidup ini bukan cuma soal rumah bagus, mobil nyaman atau tabungan gemuk. Sebab sebaik-baik manusia bukanlah ia yang kaya atau cerdas semata, tapi ia yang bermanfaat bagi sesama.

Kalau begini, pantaskah saya berkeinginan cepat lulus saat masih belum ada bekal untuk memuliakan sesama?

One thought on “Pemikiran Random

  1. “Didikan SMA 8 memang amat membekas.”
    opo tenanan mergo iki yo? terkadang ingin menjadikannya alibi, tapi tidak sepenuhnya yakin pasti. tapi kamu kok juga ngerasa gitu? hahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s