Pernah Ada Masa (Sebelum KIK Tiba)


Pernah ada masa, saat tak ada cemas untuk melintas dari Panti Rapih ke utara. Pernah ada masa, saat kampus begitu dekat dengan masyarakat sekitarnya. Pernah ada masa, saat ruang publik cuma sejengkal jaraknya dari mata.

Kampus ini pernah menjadi tujuan wisata tiap Minggu tiba. Kampus ini pernah jadi lahan olah raga murah meriah buat pegawai kelas dua. Kampus ini pernah begitu ramah membagi rezeki pada pedagang kaki lima. Kampus ini pernah begitu dicinta. Sampai jadi tempat serba guna. Mulai pernikahan, tempat jajan, hingga wisuda. Kampus ini pernah menghasilkan sarjana yang tak sekedar pintar. Tapi juga sensitif, dan berdaya bagi sesama.

Sayangnya, kini kampusku makin renta.

Hingga ia tamak, khawatir kehilangan penghidupannya.

Tak ada lagi gelak tawa setiap senja. Ruang publik tak lagi tersedia cuma-cuma.

Ada karcis di gerbang yang harus ditebus untuk sekedar lari bersama.

Pun rentetan ijin yang mesti diurus untuk mengais rezeki di sisi jalan raya.

Kartu sakti nan picik bernama KIK mencoret sifat utama yang terlupa, sahaja.

Demi uang tambahan per hari 3 juta, kampus ini rela kehilangan wibawa.

Barangkali, sekian puluh tahun lagi kita-kita ini tinggal punya cerita. Bahwa kita pernah dididik di kampus yang kehilangan jati dirinya. Kampus yang rela menukar harga diri dengan karcis 2 ribu rupiah saja. Kampus yang katanya milik rakyat, tapi justru menarik diri dari rakyatnya. Sekian puluh tahun lagi, saat UGM hanya bisa dimasuki orang kaya. Tolong siapkan cerita untuk anak-anak kita, bahwa “Pernah ada masa, saat kampus ini masih mendidik orang dengan sederhana.” Suara kita mungkin tak didengar oleh petinggi yang tak lagi punya jiwa legawa. Pemimpin yang tak berani malu, ogah mencabut kebijakan yang jelas tak ada guna. Perjuangan mengembalikan UGM ke tangan rakyat Jogja tak akan berhenti di satu generasi saja.

Universitas ini harus ingat, untuk siapa mereka ada. Penjual teh botol, gerobak bakwan kawi, karyawan bank, pedagang dadakan, sopir taksi — mereka – mereka ini punya bagian tanahnya di Gadjah Mada. Hak mereka tak perlu ditebus dengan karcis, pun KIK. Sudah saatnya Gadjah Mada kembali sederhana. Universitas ini sudah mulai kebanyakan drama. Sampai membuat kebijakan yang mengada-ada.

Hapus KIK, kembali ke realita.

UGM ini milik rakyat Jogja. Bukan monopoli petinggi di rektorat sana.  


2 thoughts on “Pernah Ada Masa (Sebelum KIK Tiba)

  1. Josh!.. Apik tenan tulisane..
    Rindu saat2 itu, saat UGM begitu sederhana..
    UGM yg kampus kerakyakatan,,kenapa skrg jadi begini??..
    Sedih saya melihatnya..

  2. setuju kak :’)
    apalagi dengan alih” penghijauan, angkatan 2011, gak boleh lagi bawa motor, tapi petinggi yang punya KIK tetep bisa bawa mobil. dan kenapa hanya angkatan kami yang tak berhak punya KIK? dan harus bayar 1000/motor dan 2000/mobil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s