Tuntas

Layaknya mendapat nilai di mata kuliah dewa yang menuntut tingkat intelektualitas tinggi. Tak perlu ngoyo dapat A, yang penting tuntas. Tuntas, maksudnya memenuhi standar. Dapat menjawab semua pertanyaan dasar. Pun berarti bisa melanjutkan ke semester selanjutnya tanpa ganjalan. Barangkali, itulah masalahku. Belum tuntas.

 

 

Malam ini tepat tiga warsa sejak pecah kongsi kita. Tiga purnama pastinya membawa banyak rona berbeda. Seperti mukamu yang tak lagi bulat, dan wajahku yang kembali berjerawat. Dunia kita sudah membelah diri jadi dua roda berbeda yang punya kekuatan gulirnya masing-masing. Mereka bukan lagi roda tandem. Tak punya kuasa untuk mempengaruhi satu sama lain. Tapi harus jujur kuakui, bila dalam perjalanan itu tak jarang aku memperlambat kayuhanku. Demi mengintip catatan perjalananmu. Ikut tersenyum lega saat tahu kamu sudah naik tingkat, menjajal rute yang lebih sulit.

 

Tiga purnama bagiku adalah perenungan. Semua fase sudah lewat masanya. Mulai masih ingin bersisian, merasionalisasikan benci, melepaskan, kembali ingin bersisian, hingga kini mati rasa. Namun satu yang pasti, hingga detik ini gravitasi masih saja mempercundangiku. Saat disekitarmu, aku belum juga seimbang. Keyakinanku dapat berpindah secepat transmisi mobil otomatis. Saat hidup dikuasai rasa, gravitasi tak lagi mampu ambil upaya. Tiga purnama juga mengantarkanku ke satu gerbang baru yang lama kupertanyakan. Namanya gerbang iman dan kebenaran. Jika rasa bisa bertahan sekian lama, barangkali lebih bijaksana bila ia disimpan hingga tiba masanya.

 

Hey, kini sudah tiga purnama. Sebentar lagi kamu akan memasang toga, sementara aku masih mengganti kredit untuk setengah warsa. Bisakah kita sekali saja menjejak bumi bersama? Sekedar menghabiskan senja, menuntaskan sekian banyak tanya. Juga mengikhlaskan rasa yang kian menua. Betapa banyak yang ingin aku bicarakan. Mulai dari cerita tentang apa yang hilang, debat soal keyakinan, merapel info soal yang kau lakukan, hingga mentertawakan berbagai lelucon sederhana yang tak ada masuk akalnya. Barangkali ini keinginan paling egois dan keras kepala yang pernah masuk ke telinga, namun aku ingin mengikhlaskanmu sepenuhnya. Menuntaskan kikik saat kulihat kamu makan berbalur kecap, menggenapkan keheranan soal licinnya piring makanmu, pun menyublimkan keinginan untuk menggamit aromamu.

 

Lari sprinter ada titik finishnya. Dan bagiku, akhir dari laga lari di rute yang bersisian denganmu adalah satu senja bersama. Titik. Tuntas semuanya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s