Belajar Takut


“Jangan takut gagal” 

“Kenapa takut? Kamu pasti bisa!’


Semua kata-kata penyemangat itu sudah kerap mampir di telinga. Kian dewasa, kita memang makin dituntut untuk jadi pemberani. Lingkungan memaksa kita untuk menantang diri, mencoba semua hal baru dengan penuh nyali.

 

Tapi, apa yang salah dengan rasa takut?

Bukankah takut adalah hal paling manusiawi yang bisa dirasakan manusia? Bergandengan dengan rasa bahagia, takut selalu datang kapan saja. Kita kerap terlihat percaya diri, tapi takut salah saat presentasi. Yakin dengan peta di tangan, tapi dalam hati ndremimil takut kesasar. Patutkah si takut dihindari? Layaknya sesak tangis yang ditahan-tahan, ketidak mampuan untuk mengakui rasa takut kadang bisa jadi bisa bumerang. Bayangkan rasanya menahan tangis demi menjaga gengsi. Dadamu sesak, hidung sakit berair, mata pasti pedih penuh air mata. Barangkali, seperti itulah perasaan si takut yang selama ini disembunyikan. Ia juga butuh dilampiaskan, dikeluarkan habis-habisan. Agar tidak menyiksa. Bersahabat dengan rasa takut, hidup dengan sadar demi menyambut rasa takut datang. Itulah yang sekarang sedang saya pelajari. Memperlihatkan rasa takut, kecemasan – tidak berbanding lurus dengan mengekspos sisi lemah. Sebaliknya, mengakui rasa takut dan kecemasan justru membuat saya makin legawa mengatur kemampuan diri.

 

Cerita Tentang Toilet Training.

Analogi yang paling tepat untuk menggambarkan jadi kuat karena takut adalah balita yang sedang belajar toilet training. Pergi ke toilet secara berkala, kebutuhan dasar manusia sejak awal usia, pun membuncahkan rasa takut nan khawatir. Si balita akan merasa cemas saat rasa ingin buang air kecil datang. Ia takut tidak bisa tepat waktu sampai toilet. Takut mengompol sebelum berjongkok di jamban. Tapi apa yang ia lakukan? Apakah ia akan menolak rasa takut dengan mengabaikan rasa ingin buang air kecil? Buktinya tidak, seandainya iya pasti sudah banyak balita yang terkena infeksi saluran kencing (OOT) ;p. Balita ini akan melakukan sebuah tindakan manusiawi. Menerima rasa takut itu. Mengakuinya. Menyambut dengan sadar saat rasa ingin ke belakang muncul, menyambut dengan sadar momen takutnya, lalu berupaya segera berjingkat ke toilet sebelum terlambat. Ketakutan membuatnya belajar cara mengatur diri. Menerima kecemasan tidak melemahkannya, justru membuatnya tepat waktu dan makin cerdas. Sayangnya, sebagai manusia dewasa kita (atau lebih tepatnya, saya) ini makin penuh gengsi. Sok tidak takut pada apapun. Menghilangkan sisi manusiawi.

 

Bernafas dengan sadar. Menghirup semua rasa takut masuk. Mencerna. Membagi nya ke semua partikel tubuh. Melepaskannya.

 

Saya sadar saya takut menjelang presentasi. Takut kalau supervisor tanya macam-macam. Takut kalau tiba-tiba bahasa inggris belepotan. Ada juga takut kelebihan barang bawaan. Tapi juga khawatir kalau oleh-oleh kurang. Cemas saat terlambat masuk kuliah nanti. Takut dengan tugas-tugas. Takut, jangan-jangan nilai tidak keluar. Takut, bisakah dapat kelompok KKN? Saya takut menghadapi rencana jangka pendek.

 

Tubuh saya mengejang saat menjabarkan ketakutan-ketakutan itu. 3 detik. Tapi kemudian ia kembali mengendur, seakan berkata: “Terima kasih sudah jujur pada ketakutanmu. Kini, aku punya peta untuk melangkah maju.”


Belajar untuk takut, tidak lebih mudah dari belajar untuk berani.

2 thoughts on “Belajar Takut

  1. beranian menjadiankan buatan yg Takutan merekaan semuanya orang2 terkumpulan dengan lndonesia dunia selain yg takutan lo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s