Tentang Penerimaan

Ada satu yang sungguh, sungguh saya syukuri di sini. Belajar satu lagi pelajaran hidup. Menerima.

 

 

Jepang dan Impian

Jepang adalah negara tujuan saya selepas SMU. Dengan idealisme masa muda yang masih menggebu, saat itu saya tak mau studi di Indonesia. Harus keluar dari rumah, mandiri. Membangun hidup di negara orang. MPC (Mbuh Piye Carane) ;p. Beberapa universitas saya coba masuki, tapi hati ini jatuh pada sebuah universitas internasional di Beppu, Oita. Namanya Asia Pasific University (APU). Madhep mantep saya yakin akan kuliah disana. Selain lingkungan internasional dan kemudahan untuk belajar banyak bahasa, ada sesuatu yang bilang kalau memang saya sungguh ingin belajar di sana. Semua proses sudah saya lewati, sampai akhirnya keputusan final keluar. Saya diterima. Tapi, dengan beasiswa 65%. Artinya, orang tua saya masih harus menanggung 35% biaya hidup di Beppu. Walau Beppu adalah salah satu kota dengan biaya hidup terendah di Jepang, tetap saja minimal orang tua saya harus mengirim 5-7 juta rupiah per bulan. Saat itu, saya lemparkan keputusan bulat di hadapan bapak ibu saya: “Yang penting aku berangkat. Di sana aku akan cari beasiswa lagi.”

 

Penolakan Pertama

Keputusan itu, sayangnya, ditolak. Oleh bapak saya. Suporter pribadi nomor 1 di dunia. Saya ingat, bapak saya masuk ke kamar. Saat saya bergelung di selimut, menangis. Sungguh rasanya saat itu semua impian hancur. Meski sudah diterima di UGM, tapi tetap saja UGM bukan impian utama saya. Bukan prioritas. Beliau masuk, duduk di kursi belajar. Ibu saya mengekor di belakang dengan kalkulator di tangan. Malam itu kami berhitung. Orang tua saya bukan orang super kaya. Kami alhamdulillah berkecukupan, tapi bukan berarti bisa dengan mudah mentransfer sekian puluh juta tiap bulannya untuk biaya kuliah satu orang anak. Masih ada adik saya yang juga butuh dibiayai. Sumber penghasilan terbesar keluarga kami adalah sebuah balai pengobatan kecil di Warurangkang. Saat itu bapak saya bilang, “Papa bisa biayai kamu sekarang. Tapi bagaimana kalau nanti ada bencana? Kalau balai pengobatan tiba-tiba kenapa kenapa? Papa cuma takut kamu gak bisa pulang.”

Saya cuma bisa lanjut menangis. Bapak saya menolak. Impian saya habis.

 

Butuh dan Mau.

Barangkali, yang saya mau memang belum tentu yang saya butuh. Tiga bulan kuliah di UGM akhirnya saya menemukan banyak hal baru dan segudang rasa ingin tahu. Saya cinta dengan apa yang saya pelajari. Saya cinta teman-teman saya. Hanya, tetap saja, dengan kuliah di situ-situ saja rasanya grafik hidup ini tidak ada tanjakannya. Suatu malam, saat kami sekeluarga makan keluar bersama. Saya mengeluarkan permohonan pada kedua orang tua saya untuk berhenti dari UGM. Ingin mencoba APU lagi tahun depan. Saya yakin diterima. Yakin bisa dapat beasiswa penuh. Saat itu, bapak saya membolehkan dengan syarat saya harus tetap kuliah. Kalaupun saya diterima tahun depan, jangan sampai otak saya menganggur kelamaan. Kesepakatan dicapai. Mulai saat itu, saya kembali bergerilya. Di akhir tahun pertama UGM, saya dapat banyak cerita: alhamdulillah IP saya sempurna, mulai kenal organisasi, membantu tutor beberapa kelas, magang di lembaga jurusan. Awal tahun kedua pun saya mulai dengan tak kalah serunya: mencalonkan diri jadi ketua KOMAHI, membidani HI-PHORIA. Entah bagaimana, rencana kembali mendaftar itu tersingkir. Tak ada waktu untuk menyentuhnya. UGM membius saya, layaknya berkata “Jangan pergi dulu. Masih banyak yang harus dicoba.”

 

Tuhan Tahu, Tapi Menunggu.

Selepas dari hiruk pikuk HI-PHORIA di akhir tahun kedua, tiba-tiba saya mendapat kabar kalau lamaran beasiswa yang saya kirim diterima. Yup, saya mendaftarkan diri ikut program ke Jepang. Negara yang sudah ingin saya injak tanahnya sejak SMA. Fukuoka, 2 jam saja dari Beppu ialah kota yang akan saya tempati enam bulan lamanya. Tak ada kata lain selain, syukur bahagia. Betapa memang Tuhan pasti akan membalas derma. Dan apa yang saya dapat disini? Sungguh, banyak. Tambahan ilmu kognitif tentu saja. Tapi di lain sisi ribuan hal yang saya comot tentang pelajaran hidup sebagai manusia. Perjalanan ini, seakan sudah disiapkan oleh Tuhan sebagai lahan take off. Untuk menempa diri sebelum berlari lebih kencang lagi. Mulai dari membangun hubungan dengan sesama manusia, menemukan (kembali) tujuan masa depan saya, menemukan semangat (lagi) untuk memperdalam agama, hingga menguji komitmen untuk memilih antara realita atau hidup dalam impian lebih lama. Disini saya bertemu banyak teman mulai yang wow sampai yang aeng. Berusaha hidup berdampingan dengan mereka semua. Hampir enam bulan disini, dan sekarang saya cuma bisa bilang : WOW. We made it. Despite all the non-sense things, we made it girls🙂

Dan puncaknya, liburan musim dingin kemarin akhirnya saya mengunjungi mantan calon universitas. Yup, I went to APU. Meski awalnya agak nggerus, tapi setelah mendengar cerita beberapa kawan yang kuliah disini saya bersyukur kuliah S1 masih di Indonesia. Paling tidak, saya punya kesempatan untuk mengenal negara saya lebih lama. Membentuk dan mempersiapkan identitas sebagai orang Indonesia. Besok saat S2 ke Eropa saya janji akan memperkenalkan Indonesia lebih banyak, lebih luas dari sekedar perkedel dan pizza mie  (Pak Bondan dan Bara “Gula-Gula” mohon ampun. Oh, pardon my bad cooking ability Indonesia). Yang terpenting, saya masih diberi kesempatan banyak berorganisasi dan berbakti pada keluarga lebih lama. Saat terjadi bencana Merapi kemarin, saya gak kebanyang kalau sampai benar-benar kuliah di sini. Balai Pengobatan tutup hampir sebulan karena masuk ke zona tidak aman. Otomatis penghasilan keluarga berkurang. Langsung ngeri membayangkan apa yang harus orang tua saya lakukan jika saya belum juga dapat beasiswa tambahan disini. Rencana Tuhan memang luar biasa. Tuhan tahu saya mau, dia cuma minta saya menunggu. Jangan ngeyel.

 

 

Semua ini, jika dilihat kembali berujung pada satu titik: penerimaan.

 

Betapa manusia memang harus belajar menerima apa yang semesta tawarkan padanya. Sebab sebagai pribadi, kita-kita ini dianugerahi rasa sok tahu yang kelewat batas. Makhluk yang songong ini bisa jadi pribadi arogan dan tak beriman kalau apa-apa dengan mudah diberi. Sesungguhnya, cuma Tuhan yang paling tahu kapan kita bisa menerima hal yang kita mau.

 

Mari belajar menerima, terus mengumpul derma, berdamai dengan semesta.

 

5 thoughts on “Tentang Penerimaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s