RIM Oh RIM: Sebuah Refleksi Pribadi

Ada yang berbeda di timeline twitter saya dari malam ini. Semua teman sibuk berbincang soal RIM, Tiffatul Sembiring, dan rencana pemblokiran layanan Blackberry. Yeah, nampaknya Indonesia memang sedang dilanda banyak kehebohan. Keputusan seorang petinggi negara untuk menutup layanan telekomunikasi yang notabene popular memang mengejutkan. Isu pun berkembang terlalu lebar. Banyak orang memaki Tiffatul sebagai penggemar pornografi yang menyelamatkan muka sendiri. Ada pula yang mengutuk kebijakan ini akan memundurkan posisi Indonesia dari posisi tawar internasional, terkait penggunaan teknologi. Sebenarnya apa yang terjadi? Sebagai seorang pengguna gadget Blackberry yang sedang cuti, ijinkan saya sedikit berbagi pikiran.

 

Terikat Pada Benda

Sekarang mari kita pikirkan, kenapa kita tidak mau layanan Blackberry ditutup? Apakah karena itu berkaitan dengan pekerjaan kita? Yang memaksa harus tersambung dengan e-mail 24 jam? Atau kita adalah ekspatriat yang membutuhkan komunikasi dengan keluarga nun jauh disana lewat layanan Blackberry Messenger? Seberapa butuhkah kita pada benda yang satu ini? Di era globalisasi macam sekarang, nampaknya muncul keterikatan baru di masyarakat Indonesia. Jika dulu bentuk keterikatan yang kerap muncul adalah keterikatan pada komunitas, maka sekarang dengan makin rapuhnya hubungan antar individu dalam masyarakat maka kebutuhan untuk terikat ini dikonversikan ke pihak lain: benda. Mari kita sadari, bahwa terkadang gadget yang kita gunakan sehari-hari kita posisikan sama dengan pasangan. Kita memberi tahunya kemana kita pergi, lewat check in di 4sq. Melaporkan apa yang kita lakukan lewat update twitter. Tanpa kita sadari, Blackberry menggantikan fungsi komunitas. Ia mengisi kekosongan hubungan antar manusia. Ini jelas saya akui, secara pribadi. Setiap bangun tidur, yang saya gapai pertama pasti BB. Melaporkan bahwa saya sudah bangun, agar semua orang tahu. Bayangkan kalau saya hidup tanpa dia, pasti yang saya lakukan adalah berjalan keluar kamar dan menyapa orang rumah. Terkadang, BB mengambil hak keluarga saya untuk mendapat sapaan pertama. Nah, sekarang pertanyaannya: kenapa kita menolak layanan RIM ditutup? Karena kita benar-benar butuh? Atau karena kita takut kehilangan pasangan virtual?

 

Cost and Benefit Pemblokiran RIM

Mari kita pikirkan secara rasional keuntungan dan kerugian penutupan RIM. Kerugiannya jelas besar. Mulai dari para pemilik gadget, perusahaan telekomunikasi penyedia jasa BIS, hingga ke sektor mikro macam dealer pulsa dan dealer handphone. Secara sistemik, apabila layanan RIM diblokir maka semua sektor diatas akan terkena dampak yang cukup hebat. Ini jelas cost yang harus dipikirkan masak-masak. Di lain pihak, penutupan RIM oleh pemerintah memiliki latar belakang idealisme. Saat kita ingin menuntut balas budi, atas kemurahan hati rakyat membayar ratusan ribu rupiah per-bulan demi sebuah akses komunikasi. Sudah sepatutnya sebagai yang punya “ladang”, Indonesia bisa menuai apa yang telah mereka tabur selama ini. Sudah sewajarnya RIM membuka lebih banyak kesempatan bagi pekerja Indonesia untuk bergabung, menerima banyak software developer pribumi, atau bahkan membuat layanannya makin lokal. Dengan menyediakan application centre khusus untuk Indonesia, mungkin? Dimana semua isinya disesuaikan dengan kultur masyarakat kita. Saat berdebat pada level idealisme, ada beberapa pilihan yang dapat ditempuh. Pertama, dengan menyiapkan semua materi di pra-negotiation process sebagai amunisi. Dengan semakin banyaknya materi yang dimiliki, maka kemampuan untuk menghadapi lawan negosiasi makin kuat. Yang kedua, adalah dengan meniru apa yang pernah dilakukan Soekarno dulu saat memutuskan keluar dari PBB. Ya, kejutan! Element of surprise. Seperti yang dipaparkan Fisher dan Sharp, semakin mengejutkan langkah kita maka makin besar pula kesempatan untuk menang. Terkadang inilah kunci keberhasilan saat negosiasi makin alot. Yang harus kita siapkan adalah langkah yang tidak terbaca oleh lawan. Barangkali inilah maksud pemerintah memutuskan menutup layanan RIM. Demi memberi kejutan pada pihak RIM. Menunjukkan taring Indonesia yang sebenarnya, untuk mendapatkan hak bangsa yang memang harus diterima.

 

Apa yang Harus Dilakukan?

Menanggapi wacana penutupan layanan RIM tanggal 17 Januari mendatang, menurut hemat saya pribadi ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Coba hidup tanpa gadget itu beberapa hari. Saya sudah melakukannya. Dan menurut pengalaman pribadi, produktivitas bisa meningkat pesat. Barangkali setelah beberapa hari anda akan merasa bahwa sebenarnya anda bisa hidup tanpa gadget itu. Sebenarnya anda tak begitu membutuhkannya. Melepaskan keterikatan dengan benda. Jika pemblokiran ini berlangsung lama, tentunya pemerintah, khususnya Menkominfo juga harus tanggap. Pastikan bahwa harga jual-beli Blackberry tetap terjaga, demi kestabilan ekonomi mikro. Pemerintah juga harus lebih memperhatikan infrastruktur teknologi yang ada. Untuk menjawab kebutuhan para eksekutif yang kehilangan kemudahan komunikasi, sediakan lebih banyak wireless area. Ini merupakan kemutlakan, kalau tak mau bangsa tertinggal.

 

Pro-kontra penutupan layanan RIM ini memberi banyak pelajaran bagi bangsa kita. Telah ada kebebasan untuk melakukan komunikasi dengan petinggi bangsa. Paling tidak, kini kita tinggal belajar untuk meningkatkan norma. Jika layanan RIM memang benar diblokir, maka bangsa ini juga mulai mengambil langkah tegas luar biasa demi menuntut haknya. Yang paling penting, melepaskan keterikatan pada benda untuk beberapa waktu lamanya akan meremajakan pribadi-pribadi anak bangsa untuk kembali menjadi pribadi manusia, sebenar-benarnya.

One thought on “RIM Oh RIM: Sebuah Refleksi Pribadi

  1. Blackberry malah mempermudah gw. Ya taulah, gw gak gampang berinteraksi sosial. Justru karena adanya ‘totem’ ini, gw bisa gampang ngatur schedule, berinteraksi secara akrab di dunia maya, dan juga bisa bantu temen-temen “konsultasi” tentang teori atau segala macam hal yg mereka rasa itu adalah keunggulan komparatif gw. Gw sih ngerasanya justru dengan adanya si ‘totem’ini,gw bisa mengakses internet dan malah menambah gw semakin produktif tanpa harus ke warnet untuk sekedar ngirim email atau browsing. Produktivitas gw sebagai manusia masih tetap terjaga,begitu pula dengan hubungan di dunia nyata.Dunia nyata memang menawarkan paradoks,namun di dunia hiperrealitas juga gw bisa menemukan dunia tanpa batas. Gw bisa tahu dan komentar macam hal tanpa takut orang itu bakal ofensif atau defensif. Hiperrealitas,simulacrum dunia maya memang gak bisa menawarkan apa yang khas dunia nyata seperti paradoks atau konformitas bahkan kontingensi sekalipun. Dunia maya bisa membuat gw bisa mengakses universalitas. Cheers, sister

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s